Yerusalem (Antara/AFP/Antara-Megapolitan-Bogor) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta maaf karena menyatakan hal bernada rasis kepada warga Israel berkebangsaan Arab saat pemilihan anggota parlemen, tempat dia menjadi pemenang.
"Saya tahu bahwa pernyataan saya pada pekan lalu melukai sejumlah warga Israel dan anggota masyarakat Arab-Israel. Saya tidak berniat melakukannya. Saya meminta maaf untuk itu," kata dia saat bertemu dengan warga Israel berkebangsaan Arab.
Pada saat kampanye, Netanyahu mencoba menggalang dukungan terakhir dari kelompok ultra-nasionalis dengan menyebut tingginya pengguna hak pilih dari kalangan Arab-Israel.
"Kekuasaan kelompok kanan berada di ujung tanduk. Pemilih Arab akan berbondong-bondong datang ke bilik suara," kata dia dalam video.
Sementara itu, Ayman Odeh, wakil ketua The Joint List yang merupakan partai berkonstituen utama warga Israel berbangsa Arab dan berhasil menempati urutan ketiga pemilu, menolak permintaan maaf Netanyahu.
"Permintaan maafnya tidak dapat diterima karena Netanyahu berencana untuk mengesahkan undang-undang rasis. Lebih dari itu, kata-katanya juga merupakan ancaman bagi hak warga Israel berbangsa Arab untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu anggota Knesset (parlemen)," kata Odeh.
Netanyahu kini menang tengah menghadapi badai kritik. Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan bahwa "retorika semacam itu bertentangan dengan tradisi terbaik Israel".
Di sisi lain, kepala staf kepresidenan Amerika Serikat, Denis McDonough, juga mengungkit pernyataan Netanyahu terkait niatnya untuk menghalangi pembentukan negara Palestina.
"Kami tidak dapat berpura-pura bahwa pernyataan itu tidak pernah disampaikan, atau bahwa hal tersebut memunculkan pertanyaan soal komitmen perdana menteri untuk mencapai perdamaian dengan perundingan langsung," kata McDonough.
Partai pendukung Netanyahu, Likud, diperkirakan membangun koalisi dengan partai-partai garis kanan lain untuk membentuk pemerintahan baru. Koalisi itu berpotensi mempersulit proses perdamaian dengan Palestina dan dapat merusak hubungan baik dengan Amerika Serikat.
Menurut juru bicara kepresidenan Israel, enam partai dengan jumlah kursi Knesset sebanyak 67 dari total 120 telah menyatakan dukungan untuk Netanyahu agar tetap menjadi perdana menteri.
Netanyahu akan diberi waktu selama empat pekan oleh Presiden Reuven Rivlin untuk membentuk kabinet baru dan dapat diperpanjang selama 14 hari jika diperlukan.
Penerjemah: GM.N.Lintang/B. Soekapdjo.
Netanyahu Minta Maaf Berkata Rasis
Selasa, 24 Maret 2015 17:36 WIB
Saya tahu bahwa pernyataan saya pada pekan lalu melukai sejumlah warga Israel dan anggota masyarakat Arab-Israel. Saya tidak berniat melakukannya. Saya meminta maaf untuk itu."