Jakarta (ANTARA) - Yayasan Indonesia Siap Bergerak kembali mengadakan aksi sosial bertema kesehatan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “BERSIH (Bersama Raih Sehat, Indah, dan Harmonis)” di Panti Asuhan Yatim Piatu Nur Karomah.
Program ini mengangkat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui metode interaktif agar anak-anak dapat belajar sambil bermain.
Ketua Yayasan Indonesia Siap Bergerak, Mila Viendyasari, menegaskan bahwa program BERSIH dirancang sebagai intervensi pembiasaan berbasis bukti ilmiah tentang keterampilan hidup sehat sejak dini.
“Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterampilan hidup bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pembelajaran yang terencana, konsisten, dan berbasis pengalaman langsung. Program BERSIH kami rancang untuk menjawab kesenjangan tersebut, membantu anak-anak membangun kebiasaan hidup bersih melalui praktik sederhana yang dapat mereka ulangi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Mila Viendyasari.
Kegiatan diawali dengan sesi gerak aktif yang langsung mencairkan suasana. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap instruksi, saling menyapa, dan menikmati permainan pemanasan yang memenuhi ruangan dengan tawa. Kedekatan antara relawan dan peserta pun terbangun sejak awal kegiatan.
Memasuki sesi edukasi, relawan memperkenalkan Ular Tangga Kebersihan, media pembelajaran yang dirancang untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat dengan cara sederhana dan menyenangkan. Setiap langkah dalam permainan disertai kartu pertanyaan mengenai PHBS, seperti cara mencuci tangan yang benar hingga menjaga kebersihan lingkungan.
“Nih, kartu 4, baca lagi!” teriak seorang anak kepada temannya yang beberapa kali terjebak di kotak ular, sontak membuat seluruh peserta tertawa riuh.
Respons hangat juga datang dari anak-anak perempuan. Ketika mentor edukasi, Kak Caca, menanyakan contoh kebiasaan hidup bersih, Cahya menjawab lantang, “Jangan jajan sembarangan, buka jendela tiap pagi, sama mandi setiap hari.” Jawaban itu langsung disambut tepuk tangan teman-temannya, menandai bahwa materi tersampaikan dengan baik.
Sebagai mitra edukasi, Klinik Digital menekankan pentingnya media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak. Rienzy Kholifatur menyampaikan bahwa pendekatan interaktif memiliki dampak nyata terhadap perubahan perilaku.
“Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih mudah membangun perilaku hidup bersih ketika pembelajaran dilakukan secara aktif dan kontekstual. Melalui permainan seperti Ular Tangga Kebersihan, pesan PHBS tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dipraktikkan dan diingat sebagai kebiasaan,” jelas Rienzy Kholifatur Peneliti dari Klinik Digital.
Selain permainan edukatif, program ini juga menghadirkan aktivitas Kreasi Jejak Asa, di mana anak-anak mencetak cap tangan warna-warni sebagai simbol komitmen mereka menjalani hidup sehat. Banner bertema kebersihan pun penuh dengan warna cerah yang memancarkan antusiasme mereka.
Sebagai dukungan nyata, setiap anak menerima hygiene kit berisi perlengkapan kebersihan pribadi yang dapat membantu penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama, mempererat hubungan hangat antara relawan dan anak-anak panti.
“Studi dari UNICEF dan CDC mengatakan sekitar 2 dari 5 sekolah di seluruh dunia tidak memiliki air dan sabun untuk mencuci tangan, yang berdampak pada sekitar 818 juta siswa. Sekitar 1 dari 3 fasilitas pelayanan kesehatan secara global tidak memiliki sarana kebersihan di titik perawatan yang dibutuhkan. Air tidak aman, sanitasi buruk, dan kebersihan yang tidak memadai berkontribusi terhadap sekitar 1,4 juta kematian setiap tahun akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Hampir 400.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun akibat diare dan infeksi saluran pernapasan. Dengan adanya aksi ‘BERSIH’ ini, anak-anak dapat mengetahui dan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia untuk memperhatikan kebersihan mereka sehari-hari,” ujar Putie Hikari, Founder Jejak Baik.
Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa edukasi kesehatan yang dikemas secara menyenangkan merupakan langkah penting untuk membangun kebiasaan baik sejak dini.
“Anak-anak belajar lebih efektif ketika mereka merasa dilibatkan, didengarkan, dan dihargai. Itu yang ingin kami bangun melalui program ini,” ujarnya.
Beberapa anak turut membagikan pengalaman mereka setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.
Rafi (10 tahun) mengaku sangat menyukai sesi permainan edukatif.
“Seru banget! Aku jadi tahu cara cuci tangan yang benar. Mau main lagi kalau kakak-kakaknya datang,” ujarnya.
Cahya (8 tahun) merasa senang bisa belajar hal baru sambil berkreasi.
“Suka bagian cap tangan, warnanya bagus. Kakak-kakaknya baik dan ngajarnya pelan-pelan jadi mudah ngerti,” tuturnya.
Dinda (11 tahun) merasa terbantu dengan pemberian hygiene kit.
“Senang dapat perlengkapan mandi baru, nanti mau dipakai tiap hari biar sehat,” katanya penuh semangat.
Melalui program “BERSIH”, Yayasan Indonesia Siap Bergerak bersama Klinik Digital, Jejak Baik, dan Program Studi Administrasi Perkantoran berharap dapat mendorong anak-anak Panti Asuhan Nur Karomah membangun kebiasaan hidup bersih yang berkelanjutan, sebagai fondasi kesehatan dan kepercayaan diri mereka di masa depan.
