Beijing (ANTARA) - Pemerintah China bertekad untuk meningkatkan peran ekonomi digital dalam perekonomian negaranya sehingga berkontribusi hingga 12,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok 2026.
"Kami akan terus memperdalam pengembangan di berbagai bidang ekonomi digital dan mencapai kemajuan lebih lanjut dalam memajukan Inisiatif China Digital sehingga ada peningkatan nilai tambah industri ekonomi digital hingga 12,5 persen dari PDB," kata Perdana Menteri Li Qiang dalam pembukaan Sidang Kongres Rakyat Nasional China (NPC) di Balai Agung Rakyat, Beijing, China pada Kamis.
Sidang NPC adalah bagian dari sidang "Dua Sesi" yang menggabungkan sidang NPC dan badan penasihat Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC) yang berlangsung di Beijing pada 4-12 Maret 2026. Salah satu agenda sidang "Dua Sesi" adalah untuk mengesahkan anggaran pendapatan dan belanja China yang ditargetkan sebesar 30,01 triliun RMB (sekitar Rp73,5 kuadriliun).
Dalam laporan implementasi pembangunan 2025 dan rancangan pembangunan 2026 China yang dibagikan dalam sidang tersebut disebutkan pemerintah China menganggarkan 200 miliar RMB dari obligasi negara khusus untuk membiayai proyek-proyek teknologi skala besar.
Pemerintah disebut akan mempromosikan layanan inklusif yang didukung oleh inisiatif "kloudifikasi", "big data", kecerdasan buatan (AI) serta meningkatkan dukungan bagi usaha kecil dan menengah yang sedang menjalani transformasi digital termasuk mendukung "rantai pasokan cerdas" untuk meningkatkan industri manufaktur berbasis teknologi.
Selanjutnya, pemerintah akan menumbuhkan model bisnis baru berbasis AI, meluncurkan proyek infrakstruktur klaster komputasi cerdas hingga inisiatif internet industri 5G plus.
Tujuannya adalah untuk memperluas pasar sektor jasa di China seperti layanan keuangan, logistik modern, layakan kekayaan intelektual dan sektor jasa lainnya.
Tercatat total anggaran untuk penelitian dan pengembangan (RnD) bidang kecerdasan buatan, robotika hingga teknologi kuantum mencapai 2,8 persen dari PDB China.
Laporan tersebut juga menyebutkan produksi robot industri naik 28 persen menjadi 773 ribu unit sepanjang 2025 sedangkan jumlah kendaraan udara tak berawak (drone) terdaftar juga meningkat 56,6 persen dengan total terbang kumulatif drone mencapai 45,3 juta jam pada tahun lalu.
China juga mengembangkan infrastruktur antariksa dan sistem energi baru berskala besar di wilayah kutub yaitu di Stasiun Qinling, Antartika untuk meneliti proyek inovasi energi yaitu energi hidrogen, penyimpanan energi dan baterai generasi berikutnya.
Baca juga: China akan kirim utusan khusus ke Timur Tengah upayakan mediasi
Sedangkan untuk jaringan internet 5G, pemerintah China mengklaim sudah ada 238 juta pengguna dengan 4,8 juta stasiun pangkalan 5G sehingga 95 persen desa di China sudah terjangkau jaringan 5G.
