Jakarta (ANTARA) - Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sudah berlangsung sepekan, sejak 28 Februari 2026.
Belum ada tanda-tanda perang yang dimulai oleh Israel-AS itu berakhir. Serangan kedua pihak bahkan semakin masif dengan jumlah korban terus bertambah dan semakin meluas ke sejumlah negara Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyebut, serangan AS-Israel karena khawatir Iran akan menyerang lebih dahulu —alasan yang terlalu dicari dan tidak masuk akal. Termasuk tuduhan bahwa Iran memiliki senjata nuklir telah dibantah Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. "Apakah mereka (Iran) memilikinya (senjata nuklir)? Tidak," tegas Grossi kepada NBC News, Selasa (3/3/2026).
Lalu, untuk kepentingan siapa AS menyerang Iran dengan melanggar Piagam PBB, melanggar hukum internasional, juga melanggar norma-norma kemanusiaan? Pertanyaan klasik terkait pengaruh Yahudi dalam setiap keputusan politik AS, sejak lebih seratus tahun silam.
Soal pengaruh Yahudi dalam pengambilan keputusan politik dan ekonomi AS, diungkap Henry Ford, pendiri Ford Motor Company — produsen mobil terkemuka Amerika Serikat—, dan pemilik surat kabar mingguan The Dearborn Independent, Michigan, Amerika Serikat.
Puluhan artikel soal Yahudi, termasuk Protokol Zionis dimuat surat kabar ini. Kalangan Yahudi menyebut Henry Ford sebagai tokoh antisemitisme (anti Yahudi), rasis, dan penganut Naziisme —cara klasik Yahudi memberi label kepada pengeritiknya.
Bagaimana kisah tragis Henry Ford?
Ford yang dilahirkan di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat pada 30 Juli 1863, adalah seorang nasionalis yang cerdas. Semangat kebangsaan mendorongnya melakukan penelitian tentang pengaruh politik kaum Yahudi di Amerika Serikat. Penelitian tersebut kemudian diterbitkan Ford dalam surat kabar mingguan miliknya, The Dearborn Independent, pada tahun 1919.
Bersama editor William J. Cameron, surat kabar Dearborn Independent, setiap pekan dalam seri tulisan "Yahudi Internasional" menerbitkan artikel-artikel tentang pengaruh kelompok Yahudi di Amerika Serikat. Pada edisi 10 Juli 1920, Mingguan ini menurunkan tulisan Protokol VII dari The Protocols of Zion hasil Kongres Zionis Pertama di Swiss pada 1897.
Protokol VII tersebut antara lain menyebutkan, komunitas Yahudi global berkonspirasi untuk mendominasi dunia, memaksa pemerintah-pemerintah non-Yahudi untuk mengambil langkah-langkah sesuai dengan rencana-rencana mereka melalui opini publik yang diorganisir secara rahasia dengan kekuatan besar pers. Tulisan tersebut menimbulkan reaksi keras kalangan Yahudi Amerika Serikat. Mereka menyebutnya sebagai dokumen tipuan.
Terhadap tuduhan tersebut, Ford tidak ingin berdebat panjang. Ia mengatakan, "Soal Protokol Zionis tersebut, semuanya sesuai dengan apa yang tengah terjadi di dunia saat ini," ujar Ford dalam bukunya berjudul My Life and Work (1922). Buku otobiografi ini ditulis Ford bersama Samuel Crowther.
Selain soal Protokol Zionis, halaman depan Dearborn Independent juga menurunkan berbagai artikel soal pengaruh dan kontrol Yahudi Amerika Serikat dalam politik, bisnis, dan keuangan, di bawah seri berjudul "Yahudi Internasional: Masalah Dunia."
Artikel-artikel tersebut antara lain soal gagasan Yahudi tentang Bank Sentral; Sistem Federal Reserve Tanpa Manajemen Pemerintah; Rencana Ekonomi Yahudi Internasional, Garis Besar Kebijakan Moneter Kaum Protokolis, dan Bagaimana Keuangan Internasional Yahudi Berfungsi.
Sejak Mingguan Dearborn Independent dibeli Henry Ford pada 1918, total terdapat 91 artikel tentang Yahudi dipublikasikan hingga 1927. Kalangan Yahudi marah atas artikel yang mereka sebut sebagai kampanye kebencian terhadap Yahudi. Bukan saja surat kabar ini, Ford Motor Company —perusahaan Henry Ford— juga diboikot dan dituduh menyebarkan faham Naziisme Hitler. Henry Ford juga digugat dengan tuduhan pencemaran nama baik, rasis, dan kebencian serius terhadap Yahudi secara terus-menerus.
Di tengah protes terhadap Dearborn Independent, Ford mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah saat mengendarai mobilnya di dekat Dearborn, Michigan, Maret 1927. Menurut laporan New York Times, 31 Maret 1927, Henry Ford menderita gegar otak ringan, luka dalam, dan memar hebat di bagian tulang rusuk dan punggung. Dia harus dirawat dan beristirahat total selama sekitar dua minggu.
Kecelakaan ini menimbulkan spekulasi terkait pemberitaan anti-Yahudi surat kabar The Dearborn Independent. Spekulasi dan misteri muncul karena kecelakaan ini dirahasiakan selama tiga hari. Berbagai kalangan menduga kecelakaan ini sebagai upaya pembunuhan. Sebagian pendapat menyebutkan sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Ford juga menolak anggapan kecelakaan tersebut sebagai kesengajaan.
Pada Desember 1927, menjelang sidang pengadilan, Ford —dengan pertimbangan sidang dapat merusak reputasinya— akhirnya minta maaf, meski ada pendapat menyebutkan permintaan maaf tersebut setengah hati.
Ford memilih menyelesaikan masalah di luar pengadilan dan kemudian menutup surat kabar Dearborn Independent, yang saat itu beroplah sekitar 900.000 eksemplar, terbanyak kedua di Amerika Serikat, setelah The New York Times.
Artikel yang Dibukukan
Henry Ford meninggal dunia di rumahnya dalam usia 83 tahun pada 7 April 1947, akibat pendarahan otak. Namun, pemikiran dan pandangan Ford tentang Yahudi, melalui artikel-artikel di Dearborn Independent, telah terdokumentasi dalam buku The International Jew, yang pertama sekali diterbitkan Dearborn Publishing Company, Mei 1920.
Buku ini sempat terjual lebih dari 10 juta copy, yang didistribusikan secara masif melalui jaringan dealer Ford di seluruh Amerika Serikat. Namun, di negara demokrasi ini, tidak lama setelah diterbitkan, buku yang dianggap kontroversi tersebut diborong dan dimusnahkan kalangan Yahudi. Ford menilai cara-cara tersebut sesuai karakter zionis: dominasi atau hancurkan!
Pada 1952, Gerald L.K. Smith, Direktur Nasional Christian Nationalist Crusade, Los Angeles, menerbitkan kembali buku The International Jew, juga mengalami nasib sama.
Berbeda dengan Amerika Serikat, di sejumlah negara di antaranya Jerman, buku tersebut diterjemahkan pada 1922, juga di Jepang, Italia, Swedia, Norwegia, Polandia, Prancis, dan di negara-negara Arab.
Sedikitnya buku ini telah diterjemahkan dalam 16 bahasa. Di Indonesia, buku The International Jew diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Hikmah dari kelompok Mizan pahun 2006 dengan judul The International Jew: Membongkar Makar Zionisme Internasional.
Dan kini, pertanyaan klasik muncul di saat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang sedang bergejolak: untuk siapa perang ini? Apakah murni untuk kepentingan rakyat AS yang sangat khawatir Iran memiliki senjata nuklir, seperti yang diklaim Presiden Donald Trump sebagai alasan pembenaran?
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos, Ahad (1/3) mencatat, sebanyak 43 persen rakyat AS tidak setuju perang ini. Sekitar 27 persen dari 1.282 responden menyatakan setuju, dan sisanya sebesar 29 persen menyatakan tidak yakin. Ini artinya, hanya satu dari empat orang AS yang setuju perang melawan Iran.
Sehari setelah Reuters, jajak pendapat CNN yang dirilis pada Senin (2/3) menunjukkan hasil yang hampir sama. Dalam jajak pendapat tersebut, 59 persen warga Amerika Serikat (AS) tidak setuju tindakan militer terhadap Iran. Sebanyak 41 persen menyatakan setuju. Penolakan keras (31 persen) tercatat hampir dua kali lipat dibanding dukungan kuat (16 persen).
Jika bukan untuk kepentingan rakyat AS, lalu untuk siapa perang ini? Jawaban datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio di Gedung Capitol, Selasa (3/3). Rubio kepada pers mengatakan, AS melakukan serangan udara ke Teheran sebagai tindakan antisipatif setelah Israel diyakini tetap menyerang Teheran. Menurutnya, pasukan AS pasti menjadi sasaran balasan Iran.
"Sudah sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun –AS atau Israel atau siapapun – Iran akan merespons serangan balasan kepada pasukan AS," ujarnya, dilansir The Guardian, Selasa (3/3).
Pernyataan Menlu AS itu mempertegas bahwa AS dan Israel semacam dua sisi mata uang, yang kehilangan nilai apabila dipisahkan. Ini menjelaskan pula bahwa Yahudi Israel sangat mempengaruhi sikap politik pemerintah AS, seperti yang dimuat Ford dalam buku The International Jew, terutama tentang Protokol Zion.
Meski kalangan Yahudi, menganggap buku Ford tersebut berisi informasi yang manipulatif, penyebaran kebencian terhadap Yahudi, bahkan dimusnahkan, namun sejumlah peristiwa politik AS-Israel —termasuk perang melawan Iran yang kini berkobar— semacam verifikasi kebenaran atas buku Henry Ford tersebut.
Ketika dituduh melakukan pencemaran nama baik dan kebencian serius terhadap Yahudi, Ford tidak ingin berdebat panjang. Dalam buku otobiografinya berjudul My Life and Work yang diterbitkan pada tahun 1922, Henry Ford memberi jawaban singkat, "Satu-satunya pernyataan yang bisa saya sampaikan tentang Protokol (yang dituduh palsu) itu, adalah bahwa semuanya sesuai dengan apa yang tengah terjadi di dunia saat ini."
*) Asro Kamal Rokan adalah Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Harian Republika (2003-2005), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023), dan kini anggota Dewan Penasihat PWI Pusat (2025-2030).
