Depok (ANTARA) - Pakar paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-RS Persahabatan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, mengatakan momen berpuasa selama bulan Ramadhan menjadi kesempatan baik untuk mulai berhenti merokok.

"Puasa memberikan jeda alami selama 12-14 jam tanpa merokok atau vape. Ini seperti latihan gratis untuk berhenti, karena sejak sahur hingga berbuka kita sudah ‘puasa nikotin’ tanpa
sadar,” kata Dr. dr. Feni Fitriani Taufik melalui keterangannya yang diterima di Depok, Senin.

Staf Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan itu menambahkan tantangan sering muncul setelah berbuka puasa, saat tarawih, atau ketika begadang di malam hari.

Baca juga: Guru Besar FKUI Prof Rini Sekartini pimpin Pusat Kajian Pangan dan Gizi Asia Tenggara

Pada waktu-waktu tersebut, banyak orang berkumpul sehingga godaan untuk kembali merokok atau menggunakan vape menjadi lebih besar.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Feni juga mengingatkan bahwa rokok elektrik atau vape sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal anggapan tersebut merupakan mitos yang berbahaya.

“Vape tetap mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan. Selain itu, aerosol atau uap halusnya dapat mengiritasi paru-paru dan menimbulkan keluhan seperti batuk, dahak, napas berat, bahkan sesak, terutama pada penderita asma,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam jangka panjang penggunaan vape juga dapat memperburuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), meningkatkan risiko infeksi saluran napas, serta menurunkan stamina secara perlahan.

Baca juga: FKUI kolaborasi dengan RSUI dan YKI edukasi masyarakat berikan pemahaman kanker

Tanda kecanduan nikotin antara lain sulit menahan keinginan merokok, merasa gelisah ketika tidak merokok, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga mengalami gangguan tidur meskipun seseorang sudah mencoba berhenti berkali-kali.

Meski demikian, berhenti merokok dapat memberikan manfaat yang cukup cepat bagi tubuh.

Dalam hitungan hari hingga minggu, napas dapat terasa lebih lega, batuk dan dahak berkurang, stamina meningkat, tidur menjadi lebih nyenyak, serta indera penciuman dan perasa membaik.

Untuk membantu proses berhenti merokok, masyarakat dapat memulai dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, menentukan hari pasti untuk berhenti, misalnya pada hari pertama Ramadan.

Baca juga: Pengmas FKUI edukasi cegah stunting anak cerebral palsy dengan gunakan KURKUMA-CP

Kedua, mengenali situasi yang biasanya memicu keinginan merokok, seperti setelah makan, saat minum kopi, ketika stres, atau saat berkumpul dengan teman.

Selain itu, kebiasaan setelah sahur atau berbuka dapat diganti dengan aktivitas lain, seperti menyikat gigi, mencuci muka, atau berjalan kaki selama lima hingga sepuluh menit.

Lingkungan juga perlu dibersihkan dari rokok atau vape, serta meminta dukungan keluarga dan teman agar tidak menawarkan rokok.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026