Jakarta (ANTARA) - Perjalanan tim ANTARA mencari jawaban tentang sejauh mana rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di Aceh, kembali berlanjut. Kali ini, liputan dilakukan pada 15–24 Februari 2026, menjelang hingga memasuki bulan suci Ramadan.

Periode ini menghadirkan tantangan tersendiri, sekaligus memberi kesempatan bagi tim untuk menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat Aceh menyambut Ramadan di tengah keterbatasan.

 

Dusun yang hilang:  Lhok Pungki, Aceh Utara

Perjalanan dimulai dari Kabupaten Aceh Utara, menyusuri jalan terjal menuju Dusun Lhok Pungki, wilayah pedalaman di ujung Desa Gunci, Kecamatan Sawang, yang berbatasan dengan Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah.

Dusun ini kini dikenal sebagai “dusun yang hilang”. Banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025 meluluhlantakkan hampir seluruh rumah yang pernah berdiri di sana.Perjalanan menuju Lhok Pungki bukan perkara mudah.

Jalan yang rusak akibat banjir masih diselimuti lumpur dan kondisinya kerap berubah setiap kali hujan turun. Bahkan hujan singkat saja cukup untuk memutus akses dan kembali mengisolasi kawasan itu.

Sepanjang perjalanan ke sana, jalan tak selalu bisa dilalui. Di beberapa titik, tim harus turun tangan menimbun jalan dengan bebatuan, sekadar agar kendaraan tidak terperosok ke kubangan lumpur yang dalam.

Setibanya di lokasi, hamparan puing dan sisa material banjir menjadi pemandangan yang sulit dilupakan. Sejauh mata memandang, hanya terlihat batu-batu besar dan kayu gelondongan yang berserakan.

Material yang tersisa pun berukuran tak biasa. Batu-batu besar itu menyerupai bongkahan batu vulkanik, sementara batang-batang kayu raksasa terbujur kaku.

Rasanya sulit untuk percaya, bahwa tempat ini pernah menjadi dusun yang padat penduduk.

Di tengah hamparan puing itu, seorang lelaki paruh baya berdiri terpaku di depan sebuah rumah yang rusak parah. Ia adalah Adi (40), yang sedang menatap sisa-sisa rumah milik adiknya yang menjadi korban bencana.

Adi adalah warga Lhok Pungki. Ia tak hanya kehilangan tempat tinggal akibat bencana yang melanda, tapi juga harus menerima kenyataan pahit kehilangan kakak dan adiknya.

Duka itu semakin dalam ketika ia menceritakan bahwa makam kedua orang tuanya yang telah tiada ikut tersapu banjir, bersama jenazah kakak dan adiknya yang sampai saat ini belum ditemukan.

Menjelang Ramadan, saat banyak orang berziarah kubur untuk melepaskan rindu ke orang-orang terkasih, Adi hanya bisa menatap tanah kosong tanpa jejak. Tak ada pusara yang bisa diziarahi, hanya kenangan dan doa yang ia genggam erat.

“Orang tua sudah tidak ada, jenazahnya juga tidak ada. Satu keluarga sudah tidak ada lagi. Kakak, adik pun tidak ada,” ujarnya lirih.

Kini, Adi berusaha menata kembali hidup bersama istri dan anaknya di hunian sementara (huntara) yang dibangun pemerintah bagi penyintas dari Desa Gunci.

Sebelum bencana, Lhok Pungki dihuni 85 kepala keluarga dengan total 326 jiwa.

Kepala Desa Gunci, Fazir Ramli, mengatakan setelah hampir empat bulan bertahan di tenda pengungsian, warga akhirnya mulai menempati huntara.

“Saat ini sudah dibangun 86 unit huntara, dan semuanya telah ditempati,” ujarnya.

Bagi warga Lhok Pungki yang telah kehilangan segalanya, huntara menjadi secercah harapan, tempat untuk kembali menata hidup, setelah melewati hari-hari panjang penuh keterbatasan.

 

Menyambut Ramadan di Aceh Tamiang

Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Tanjung Karang, Aceh Tamiang, sempat viral di media sosial saat banjir bandang menerjang wilayah itu pada akhir November 2025. Hampir seluruh area pesantren kala itu tertutup kayu gelondongan besar dan lumpur tebal yang terbawa arus.

Sehari menjelang Ramadan, denyut kehidupan pesantren perlahan kembali. Aktivitas santri mulai berjalan, membawa harapan baru di tengah jejak kerusakan yang pernah melumpuhkan.

Area utama pesantren telah bersih dari tumpukan kayu, meski sebagian gelondongan masih tersisa di bagian belakang. Dari satu ruang kelas ke ruang lainnya, tanda-tanda kebangkitan mulai tampak. Lumpur yang dulu memenuhi ruangan telah hilang, namun kesunyian masih terasa. Kursi dan meja yang dahulu menjadi saksi kegiatan belajar pun belum kembali.

Memasuki masjid, suasana hening terasa khusyuk. Lantai bersih memantulkan cahaya ke langit-langit, sementara sejadah tergelar rapi dan wangi di setiap saf.

Kumandang azan Asar pun menggema, seolah-olah menjadi penanda kehidupan di pondok pesantren ini mulai pulih.

Pimpinan pesantren, Mulkana (46), mengatakan aktivitas belajar santri telah kembali normal, meski masih dalam keterbatasan.

“Alhamdulillah, kondisinya semakin membaik,” ujarnya.

Ia juga memastikan kegiatan Ramadan akan kembali digelar seperti tahun-tahun sebelumnya, termasuk salat Tarawih berjamaah. momen yang paling dirindukan para santri.

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang tak ditemui di bulan lain. Selain Tarawih, kebersamaan saat sahur menjadi momen yang juga amat dinanti.

Tak ingin melewatkan momen itu, tim memutuskan menjalani sahur pertama di tenda pengungsian dekat pesantren, tepatnya di Dusun Bahagia, Desa Bundar, Aceh Tamiang.

Tim tiba sekitar pukul 03.00 WIB. Suasana masih sunyi, terlalu dini untuk hiruk-pikuk sahur, mengingat azan Subuh di Aceh Tamiang berkumandang mendekati pukul 05.30.

Namun, kehidupan sudah terasa di dapur darurat. Hasanah (59), seorang ibu rumah tangga, tampak sibuk menyiapkan hidangan untuk dijual kepada warga.

Hasanah adalah penyintas bencana yang membuka warung makan di kawasan pengungsian. Ia memilih bangkit, menata kembali hidup melalui usaha kecilnya.

Sambil mengulek rempah di atas cobek batu, ia bercerita bahwa ide berjualan muncul setelah mendengar adanya praja IPDN yang bertugas di sana. Sejak itu, ia melihat peluang.

“Per porsi Rp15 ribu, untuk anak-anak IPDN Rp13 ribu,” katanya.

Dengan penerangan seadanya, Hasanah menyiapkan beragam menu  mulai dari ayam goreng, sop, sayur, rendang, mi instan, telur dadar, hingga nasi goreng.

Ia termasuk warga yang paling terdampak. Rumahnya hancur tanpa sisa. Namun, di tengah kehilangan, Hasanah tetap tegar dan tak larut dalam keluhan.

Baginya, bencana bukan sekadar musibah, melainkan ruang untuk merenung dan berintrospeksi tentang apa yang perlu diperbaiki, baik dalam hubungan dengan sesama maupun dengan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Kembali ke puing kenangan di Dusun Sarah Gala, Aceh Timur

Memasuki Ramadan, perjalanan Tim Antara berlanjut ke Kabupaten Aceh Timur. Tujuannya Dusun Sarah Gala, wilayah yang menyimpan kisah serupa dengan Lhok Pungki di Aceh Utara.

Dusun ini berada di Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari. Untuk mencapainya, rombongan harus menempuh medan yang berat. Dibandingkan rute ke Lhok Pungki, perjalanan menuju Sarah Gala terasa lebih menantang. Jaraknya lebih jauh, jalannya pun lebih sulit.

Dalam perjalanan, tim didampingi Rudi (31), warga setempat sekaligus penyintas. Kami menjemputnya di rumah saudaranya, tempat ia mengungsi. Selain memahami medan, Rudi berjanji akan menunjukkan rumahnya yang hancur diterjang banjir.

Sebelum tiba di Sarah Gala, rombongan melintasi Dusun Puring dan Dusun HTI, dua wilayah yang juga terdampak. Dari dalam mobil, jejak kerusakan tampak jelas: rumah-rumah hancur, sebagian rusak berat, sementara lumpur setinggi lutut masih menyelimuti permukiman.

Di tengah pemandangan itu, Rudi berujar, “kondisi di dusun saya jauh lebih parah dari ini.”

Setelah perjalanan panjang, tim akhirnya tiba. Seketika terasa bahwa ucapan Rudi bukan sekadar cerita.

Mobil melintasi jalan sempit yang diapit tumpukan kayu gelondongan setinggi dua hingga tiga meter. Lumpur kering mengeras di sepanjang jalur, bahkan di beberapa titik hampir setinggi satu meter, menyisakan gambaran betapa dahsyatnya bencana yang terjadi.

Perjalanan terhenti ​​​​​​​ Rudi turun, melompati parit kecil, lalu berdiri di atas puing bangunan yang hanya menyisakan sebagian tembok dan lantai.

“Ini rumah saya, Bang,” ujarnya.

Ia lalu menunjuk satu per satu ruang yang kini telah hilang. “Ini dulu ruang tamu, ini tempat ibadah, di situ kamar saya, dan di belakang kamar mandi.”

Bagi Rudi, banjir bukan hal baru. Hampir setiap tahun air merendam dusunnya. Namun banjir pada November 2025 berbeda. Arus datang lebih deras, disertai gelondongan kayu besar yang menghantam dan merobohkan bangunan.

“Kalau hanya air, rumah ini tidak akan hancur,” katanya lirih.

Setelah hampir sebulan mengungsi, Rudi kembali ke lokasi rumahnya. Bukan untuk tinggal, melainkan melihat apa yang tersisa.

Seperti pulang ke kampung halaman, ia membawa oleh-oleh sederhana untuk membantu kebutuhan warga selama Ramadan. Tak banyak, tapi amat berarti di tengah keterbatasan.

Di balik semua itu, ada harapan yang terus tumbuh, yakni percepatan pembangunan hunian sementara agar warga segera memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

Di Desa Sahraja, 214 unit huntara telah dibangun, namun baru 20 kepala keluarga yang menempatinya. Selebihnya masih menunggu tahap akhir penyelesaian.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026