Jakarta (ANTARA) - Ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi salah satu barometer kualitas pendidikan di tingkat atas dan vokasi di Indonesia.
Kompetisi ini tidak sekadar menguji kemampuan teknis siswa, tetapi juga menjadi ruang pembinaan talenta unggul yang siap bersaing di dunia industri.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa pembinaan berbasis kompetisi seperti LKS mendorong siswa lebih aktif dalam proses belajar, meningkatkan pemahaman konsep secara aplikatif, serta berdampak positif terhadap hasil belajar dengan rata-rata efektivitas di atas 76 persen.
Artinya, LKS bukan hanya ajang lomba tahunan, melainkan strategi sistematis untuk meningkatkan mutu lulusan SMK secara berkelanjutan.
SMKN 1 Surabaya menjadi salah satu sekolah turut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut, khususnya di bidang Cyber Security. Mereka cukup serius mempersiapkan siswanya.
Persiapan dilakukan secara sistematis melalui penguatan materi internal, simulasi soal, hingga pembinaan tambahan untuk memperdalam kemampuan teknis dan strategi penyelesaian kasus.
Guru pembimbing SMKN 1 Surabaya, Muallief Wardhana, menegaskan bahwa pendekatan pembinaan yang terarah memberikan perubahan signifikan terhadap kesiapan siswa.
“Kompetisi di bidang Cyber Security tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan berpikir dan ketelitian analisis. Karena itu, kami membangun pola latihan yang lebih terstruktur agar siswa terbiasa menghadapi tantangan dengan standar yang lebih tinggi,” ujar dia dalam keterangannya,Senin.
Dalam kompetisi kali ini, ada dua siswa yang turut bepartisipasi, yakni Muhammad Nailul Autor dan Zaki Nur Hakim. Mereka telah menyelesaikan LKS tingkat kota pada 9 Februari 2026. Kemudian, akan mengikuti LKS tingkat provinsi pada 10 April 2026.
Ia menambahkan bahwa pembinaan ini tidak semata-mata ditujukan untuk meraih juara, tetapi untuk membangun budaya kompetensi di lingkungan sekolah.
“Yang kami bangun bukan hanya kesiapan lomba, tetapi mindset. Siswa dilatih untuk berpikir sistematis, problem solving, dan terbiasa dengan standar industri. Dampaknya bukan hanya di kompetisi, tetapi juga pada kesiapan mereka memasuki dunia kerja,” kata dia.
Untuk memperkuat pembinaan tersebut, SMKN 1 Surabaya juga menggandeng Practiclass sebagai mitra pendamping. Melalui program berbasis praktik, siswa mendapatkan tambahan perspektif langsung dari para pemenang kompetisi dan praktisi berpengalaman.
Program Manager Practiclass, Amelia Qanitah mengatakan, selama dua tahun belakangan, Practiclass telah membantu sebanyak 34 siswa dari 17 sekolah yang terdapat di seluruh Indonesia.
“Practiclass menghadirkan pembelajaran berbasis praktik langsung dari para juara dan praktisi berprestasi, sehingga siswa belajar dari expertise nyata, bukan hanya teori,” kata dia.
Amel menjelaskan, Practiclass memberi kesempatan bagi pemenang kompetisi dan talenta terbaik untuk menjadi pengajar.
“Jadi, siswa belajar langsung dari orang yang sudah terbukti kompeten dan insight yang dibagikan berbasis pengalaman nyata. Sehingga, kami memberikan best practice dan case real industri lebih relevan,” papar dia.
Dalam kegiatan ini, Jagoan Hosting juga turut serta memberikan kontribusi nyata, yakni sebagai penyedia infrastruktur untuk proses belajar mengajar. Layanan VPS milik Jagoan Hosting dipakai untuk CTF Jeopardy & CTF Attack and Deffense.
Kolaborasi ini memperkuat ekosistem pembinaan di SMKN 1 Surabaya. Sekolah tetap menjadi pusat pengembangan siswa, sementara Practiclass berperan sebagai penguat standar dan exposure industri.
Model pembinaan kolaboratif seperti ini diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan dalam mencetak lulusan yang adaptif, kompeten, dan relevan dengan perkembangan teknologi, hari ini maupun di masa mendatang.
SMKN 1 Surabaya juara LKS bersama Practiclass
Senin, 9 Maret 2026 16:24 WIB
SMKN 1 Surabaya juara LKS bersama Practiclass (ANTARA/istimewa)
