Karawang (ANTARA) - Perkembangan industri subsektor ekonomi kreatif di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat menunjukkan tren positif hingga mencatatkan nilai investasi sekitar Rp4,46 triliun sepanjang tahun 2025.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karawang, Abas Sudrajat, di Karawang, Senin menyampaikan, pencapaian investasi tersebut didukung ekosistem yang kuat dengan total 352 perusahaan yang mencakup 117 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) subsektor Ekonomi Kreatif.
Saat ini Karawang semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi investasi unggulan di Jawa Barat, khususnya pada subsektor ekonomi kreatif (Ekraf).
Karawang mencatatkan nilai investasi Industri Ekraf sebesar Rp4,46 triliun. Sehingga berkontribusi sebesar 8,31 persen terhadap total investasi Industri Ekraf Provinsi Jawa Barat senilai Rp53,3 triliun.
Baca juga: Komisi X DPR motivasi pengembangan ekonomi kreatif di Karawang
Hal tersebut sesuai dengan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Barat Tahun 2025 dan hasil rapat rekonsiliasi seluruh Kepala Dinas Pariwisata se Jawa Barat pada 3 Maret 2026.
Untuk pencapaian investasi tertinggi dicapai oleh subsektor aplikasi dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Subsektor ini didominasi oleh perusahaan teknologi global dan infrastruktur digital skala besar seperti: PT Amazon Data Services Indonesia, PT Microsoft Operations Indonesia, PT Datacenter Indonesia Sukses Makmur, dan PT Allage Milenial Indonesia, serta perusahaan serupa lainnya.
Meskipun menyerap tenaga kerja sebanyak 37 orang, sektor ini merupakan kategori industri padat modal (capital intensive) yang menjadi tulang punggung ekonomi masa depan Karawang.
Baca juga: Karawang dorong pelaku wisata dan ekraf "melek" media sosial
Abas Sudrajat menekankan kehadiran raksasa teknologi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat lokal.
"Dominasi investasi di bidang teknologi tinggi ini adalah sinyal bahwa Karawang sedang bertransformasi menuju ekonomi digital," katanya .
Hal itu menjadi tantangan besar bagi SDM Karawang untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas teknis agar memiliki daya saing tinggi dan mampu terserap di industri teknologi kelas dunia ini.
Berbeda dengan sektor aplikasi, subsektor Kriya, Kuliner, dan Fesyen menjadi penopang utama dalam penyerapan tenaga kerja massal di Karawang.
Subsektor Kriya menempati posisi kedua dengan investasi Rp845 miliar. Subsektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak mencapai 1.639 orang, digerakkan oleh perusahaan seperti PT Kobin Keramik Industri dan PT Concord Industry serta perusahaan serupa lainnya.
Baca juga: Wabup Karawang ajak OPD ikut kembangkan sektor ekonomi kreatif
Lalu Subsektor Kuliner menempati posisi ketiga dengan nilai investasi Rp465 miliar dan serapan 1.394 tenaga kerja, dengan investor terbesar seperti PT Barry Callebaut Indonesia, PT Agel Langgeng, dan PT Dali Foods Indonesia serta perusahaan serupa lainnya.
Kemudian Subsektor Fesyen mencatatkan investasi Rp70 miliar dengan serapan 206 tenaga kerja, didukung oleh perusahaan seperti PT Chang Shin Indonesia dan PT Scenic International Trading serta perusahaan serupa lainnya.
Menurut Abas, investasi industri ekonomi kreatif ini menciptakan ekosistem yang seimbang. Subsektor Aplikasi menyediakan teknologinya, kriya dan fesyen menyediakan produk estetika dan kuliner menyediakan kebutuhan pokoknya.
Jika keempatnya dikelola secara terintegrasi, katanya, maka Karawang akan memiliki mesin pertumbuhan yang tidak hanya kencang, tapi juga inklusif bagi seluruh warganya.
Pewarta: M.Ali KhumainiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026