Jakarta (ANTARA) - Musisi Iwan Fals sekitar tahun 1991 merilis sebuah lagu berjudul "Kereta Tiba Pukul Berapa" yang bercerita tentang jadwal kereta api yang sering telat.
Lagu ini menggambarkan situasi penantian di stasiun, di mana keterlambatan kereta selama dua jam dianggap sebagai cerita lama atau hal biasa.
Dulu, dalam imajinasi publik, stasiun identik dengan keterlambatan, semrawut, dan ketidakpastian. Kereta datang dengan jadwal "kira-kira", sementara penumpang menunggu tanpa kepastian.
Namun kini, realitas itu berubah. Ketepatan waktu keberangkatan kereta api sudah mencapai sekitar 99,6–99,7 persen, sementara kedatangan berada di kisaran 96 persen. Angka ini bukan sekadar statistik teknis, tetapi simbol pergeseran budaya: dari toleransi terhadap ketidakteraturan menuju disiplin waktu sebagai nilai sosial baru.
Stasiun Gambir hari ini bukan lagi sekadar tempat naik dan turun kereta. Ia adalah penanda perubahan peradaban transportasi Indonesia, dari budaya menunggu yang pasrah menjadi budaya mobilitas yang presisi.
Dari infrastruktur ke peradaban
Modernisasi stasiun, mulai dari e-ticketing, face recognition, integrasi antarmoda, hingga tata ruang yang bersih dan tertib, bukan sekadar peningkatan layanan, tetapi proses pembentukan perilaku publik. Ruang yang tertib menciptakan pengguna yang tertib. Peron yang steril membentuk budaya antre. Jadwal yang pasti membentuk disiplin waktu.
Dalam perspektif sosiologis, inilah yang disebut sebagai infrastruktur pembentuk peradaban. Transportasi bukan sekadar memindahkan tubuh, tetapi membentuk cara berpikir masyarakat tentang waktu, keteraturan, dan mobilitas.
Tidak berlebihan jika kereta api kini menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Mereka memilih kereta bukan hanya karena harga atau kenyamanan, tetapi karena kepastian dan pengalaman perjalanan yang modern.
Seiring modernisasi tata kelola stasiun dan layanan perkeretaapian, minat masyarakat—khususnya Generasi Z—terhadap moda transportasi kereta api terus meningkat. Pada momentum Idul Fitri 2026, kereta api bahkan diperkirakan menjadi pilihan favorit pemudik dari Jakarta menuju berbagai daerah di Pulau Jawa.
“Dari data terkini, tren perjalanan dengan kereta api terus naik. Pada Lebaran 2026, kami memprediksi kereta api menjadi moda favorit masyarakat, terutama anak muda,” ujar Direktur Pengembangan Bisnis PT KAI, Rafli Yandra.
Dari Stasiun Gambir pula, tim konten jelang mudik Lebaran—yang terdiri atas kreator dan editor junior—memulai "Ekspedisi Punggung Jawa" pada 2–6 Maret 2026. Ekspedisi ini menjadi perjalanan dokumentasi sekaligus pembacaan ulang peran strategis Gambir dalam peta perkeretaapian nasional.
Mobilitas sebagai Budaya Baru
Data menunjukkan bahwa kereta api bukan lagi menjadi moda alternatif, tetapi arus utama mobilitas. Sepanjang periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026, moda transportasi ini melayani lebih dari 4,17 juta penumpang, tumbuh lebih dari 12 persen dibanding tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, hingga Agustus 2025 jumlah penumpang kereta mencapai 328 juta orang, naik lebih dari 8 persen secara tahunan.
Angka ini menunjukkan dua hal: pertama, kereta menjadi pilihan rasional masyarakat urban dan antarkota. Kedua, mobilitas berbasis rel mulai membentuk pola perjalanan nasional.
Saat jutaan orang bergerak dengan jadwal yang presisi, sebenarnya yang sedang terjadi adalah konsolidasi peradaban waktu di ruang publik.
Gambir dalam Peta Lintasan Jawa
Menurut Kepala Tim Ekspedisi Punggung Jawa, yang akrab disapa KaJe, Stasiun Gambir memiliki peran vital dalam sistem perkeretaapian Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
"Sejak era Batavia, masa Proklamasi, hingga Reformasi, Gambir berfungsi sebagai stasiun sentral kereta api jarak jauh. Dari sinilah kereta kelas eksekutif dan sebagian bisnis berangkat dan tiba, menghubungkan Jakarta dengan kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Malang, hingga Solo," ujar KaJe dalam catatan hariannya.
Stasiun Gambir yang dibangun pada awal abad ke-19 menjadi titik penting karena lokasinya yang dekat dengan pusat pemerintahan dan kawasan Koningsplein (sekarang lapangan Monas). Gambir menjadi gerbang mobilitas nasional. Pejabat, pelaku bisnis, hingga masyarakat umum menjadikannya titik berangkat menuju berbagai kota penting di Jawa.
Secara operasional, Gambir berfungsi sebagai: titik awal perjalanan (origin station), titik akhir perjalanan, dan stasiun pengaturan jadwal dan perputaran rangkaian kereta.
Di tengah kemacetan jalan raya dan krisis energi global, transportasi berbasis rel menawarkan model peradaban kota yang lebih berkelanjutan: massal, hemat energi, dan tepat waktu. Kereta mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, menurunkan beban jalan, dan membentuk budaya berbagi ruang.
Lebih jauh, integrasi stasiun dengan TransJakarta, transportasi daring, dan bus antarkota menunjukkan embrio sistem mobilitas terpadu. Kota modern tidak diukur dari gedungnya, tetapi dari kemudahan warganya berpindah secara efisien.
Dari Romantisme ke Rasionalitas
Gambir bukan hanya simpul transportasi, tetapi simpul memori kolektif. Ia menyaksikan peralihan dari kereta uap ke diesel, dari tiket kertas ke tiket digital, dari ruang tunggu kumuh ke ruang publik modern.
Dari titik inilah pegawai negeri pulang kampung, tentara berangkat tugas, mahasiswa merantau, dan kini generasi muda melakukan perjalanan lintas kota dengan laptop dan kopi di tangan. Perubahan fisik stasiun merefleksikan perubahan sosial penggunanya.
Narasi lama tentang stasiun penuh haru—tangis perpisahan, koper kaleng, kopi tubruk di peron—tidak hilang. Ia tetap hidup sebagai memori kultural. Namun kini, romantisme itu berdampingan dengan rasionalitas sistem: jadwal digital, boarding gate, dan notifikasi waktu.
Peradaban transportasi yang matang bukan yang menghapus memori, tetapi yang mengelolanya dalam sistem yang lebih manusiawi.
Stasiun Gambir hari ini adalah metafora: Indonesia sedang belajar menghargai waktu, keteraturan, dan mobilitas kolektif. Kereta api bukan lagi sekadar alat angkut, melainkan institusi sosial yang membentuk perilaku publik.
Jika dulu kita menunggu kereta tanpa kepastian, kini kita belajar bahwa kemajuan peradaban dimulai dari hal sederhana: datang tepat waktu, antre dengan tertib, dan bergerak bersama.
Rel bukan hanya jalur besi. Ia adalah jalur menuju peradaban.
*) Adrian Tuswandi, anggota Dewan Pengawas Perum LKBN Antara
