Jakarta (ANTARA) - Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjajaki pemanfaatan teknologi iradiasi untuk pengendalian hama pascapanen beras bersama Perum Bulog.
Peneliti ORTN BRIN, Bimo Saputro di Jakarta, Rabu, mengemukakan kolaborasi ini menjadi krusial mengingat Bulog menargetkan masa simpan beras hingga 10 bulan, sementara risiko kutu beras (weevil) kerap tidak terdeteksi sejak tahap penggilingan. Telur kutu yang menyerupai butiran beras dapat tersembunyi di dalam kemasan, kemudian berkembang menjadi larva hingga serangga dewasa selama masa penyimpanan.
ORTN BRIN menawarkan teknologi iradiasi pengion menggunakan berkas elektron berenergi tinggi atau electron beam irradiation, yang bekerja dengan merusak struktur biologis telur, larva, maupun serangga dewasa sehingga siklus hidup hama terputus tanpa meninggalkan residu kimia dan tanpa meningkatkan suhu produk secara signifikan.
"Teknologi ini mampu memutus siklus hidup hama tanpa merusak mutu fisik dan kandungan gizi beras. Ini menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan metode kimia konvensional," kata Peneliti ORTN BRIN Bimo Saputro.
Baca juga: BRIN berhasil identifikasi dua spesies ngengat baru asal Papua dan Sulawesi 2026
Dalam kolaborasi ini, peneliti ORTN BRIN langsung melakukan kunjungan ke gudang Bulog di Jakarta Timur untuk memetakan secara langsung kondisi penyimpanan, sistem ventilasi, tata letak karung, pola distribusi, hingga potensi titik masuk hama dari lingkungan sekitar.
Langkah cepat ini menjadi bagian dari pendekatan berbasis data lapangan dalam merancang solusi yang tepat guna dan aplikatif.
Kepala ORTN BRIN Syaiful Bahkri menambahkan bahwa dosis iradiasi yang dibutuhkan relatif rendah, yakni sekitar 1 kilogray (kGy) hingga maksimal 3 kGy.
Secara teknis, kata dia, iradiasi dapat diterapkan sebelum pengemasan maupun setelah pengemasan, tergantung strategi operasional yang disepakati.
"Dosis tersebut cukup untuk membasmi telur dan larva yang tersembunyi di dalam butiran beras. Namun, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada tata kelola pergudangan, kemasan yang tertutup rapat, serta sistem pengendalian akses yang ketat," ujar Syaiful.
Diketahui, kapasitas layanan yang ditargetkan mencapai 4 hingga 5 ton beras per hari sebagai fase percontohan pada tahap awal.
Di masa depan, BRIN dan Bulog akan melanjutkan kajian teknis terkait penentuan dosis optimal, uji keamanan pangan, serta evaluasi efektivitas metode iradiasi dibandingkan teknologi lainnya.
Baca juga: BRIN: Mitigasi bencana berbasis riset jadi kebutuhan strategis daerah
Baca juga: BRIN kembangkan antena jaringan komunikasi 6G
