Jakarta (ANTARA) - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, layanan medis kini dituntut tidak lagi berjalan secara terpisah-pisah.
Pasien membutuhkan sistem perawatan yang berkesinambungan, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pemulihan, agar proses penyembuhan berjalan lebih efektif dan terarah. Di akhir tahun 2025, pendekatan layanan kesehatan terintegrasi kian menjadi kebutuhan, bukan sekadar nilai tambah.
Berbagai program kesehatan nasional menunjukkan bahwa layanan kesehatan kini bergerak ke arah yang lebih proaktif. Di antaranya, pemerintah meluncurkan program skrining kesehatan gratis untuk mencegah kematian dini akibat penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan TBC, dengan target menjangkau puluhan juta masyarakat di lebih dari 20.000 fasilitas kesehatan pada 2025.
Kondisi ini mendorong banyak penyedia layanan untuk memperkuat sistem yang mampu menghubungkan berbagai tahap perawatan dalam satu ekosistem. Sejumlah rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan kini menekankan pentingnya integrasi layanan agar pasien tidak hanya datang untuk berobat, tetapi juga menjalani perawatan yang berkesinambungan, dari pencegahan hingga pemulihan.
Managing Director Bethsaida Healthcare, dr. Magdalena, menjelaskan bahwa integrasi layanan menjadi fondasi utama dalam memastikan pengalaman perawatan pasien berjalan secara utuh dan terkoordinasi.
“Pasien tidak hanya datang untuk berobat, tetapi menjalani perjalanan perawatan yang berkesinambungan, dari pencegahan sampai pemulihan,” ujarnya.
Dalam ekosistem terintegrasi, setiap unit layanan memiliki fungsi saling melengkapi. Ada fasilitas yang berfokus pada kesehatan preventif dan wellness, ada yang menangani diagnostik dan kuratif, serta ada pula klinik yang melayani kebutuhan rutin seperti medical check-up, vaksinasi, dan layanan dasar lainnya.
Baca juga: Bangka Tengah perkuat layanan kesehatan dasar melalui CKG dan inovasi posyandu
Baca juga: Dinkes Depok berikan layanan kesehatan pada masyarakat selama libur Nataru
Rangkaian layanan ini memungkinkan pasien memilih titik layanan sesuai kebutuhan, tanpa harus berpindah ke sistem yang berbeda. Integrasi juga diterapkan pada pusat-pusat unggulan (Center of Excellence), misalnya di bidang kardiovaskular, sehingga konsultasi, pemeriksaan, hingga tindakan medis dapat dijalankan dengan koordinasi lebih efisien antar tim medis.
Ia memberi contoh Bethsaida Healthcare yang juga memiliki rangkaian unit layanan tersebut, mulai dari layanan preventif, kuratif yang ditangani rumah sakit, hingga kebutuhan kesehatan yang bersifat rutin dan praktis seperti medical check-up dan vaksinasi.
Pola jejaring tersebut memberi pasien akses ke layanan yang lebih komprehensif tanpa harus mengulang proses dari awal di lokasi berbeda.
“Integrasi antar unit dan antar COE memungkinkan pasien diarahkan ke layanan yang paling sesuai dengan kondisinya, dengan koordinasi yang lebih kuat antar tim medis,” kata dr. Magdalena.
Dalam sistem terkoordinasi, kesinambungan informasi menjadi kunci. Data rekam medis pasien yang terhubung antar unit membantu mempercepat proses layanan sekaligus mendukung pengambilan keputusan medis yang lebih akurat. Ketika informasi klinis tersambung dengan baik, risiko kesalahan dapat ditekan dan keselamatan pasien lebih terjamin.
Aksesibilitas juga menjadi perhatian. Banyak unit layanan ditempatkan di lokasi strategis yang mudah dijangkau, dengan dukungan layanan gawat darurat 24 jam. Lingkungan sekitar pun dilengkapi fasilitas pendukung seperti penginapan dan area komersial, sehingga pasien dan keluarga merasa lebih nyaman selama masa perawatan.
Memasuki 2026, penguatan layanan kesehatan terintegrasi diproyeksikan terus berlanjut seiring perkembangan teknologi digital, meningkatnya kesadaran masyarakat, serta fokus pemerintah pada layanan primer dan skrining preventif.
Baca juga: Dinkes Mataram wujudkan perkantoran sebagai kantong layanan kesehatan
Pendekatan layanan terintegrasi seperti ini, yang menjembatani wellness, hospital, dan klinik dalam satu jaringan, menunjukkan arah transformasi layanan kesehatan di Indonesia yang semakin proaktif, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan pasien secara utuh dari pencegahan hingga pemulihan.
Dengan jejaring layanan yang terhubung, mulai dari wellness center, rumah sakit, hingga klinik, pendekatan layanan terintegrasi menjadi bagian dari upaya menghadirkan perawatan kesehatan yang berkesinambungan, terarah, dan berbasis kebutuhan pasien di setiap tahap kehidupan.
Selaras dengan itu, pemerintah Indonesia terus mendorong transformasi layanan kesehatan sebagai upaya strategis untuk memperkuat sistem kesehatan nasional agar lebih merata, tangguh, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Transformasi ini dirancang untuk menjawab tantangan kesehatan yang terus berkembang, mulai dari beban penyakit, kesenjangan akses layanan antarwilayah, hingga tuntutan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh tingkatan fasilitas kesehatan.
Upaya transformasi tersebut mencakup penguatan layanan kesehatan primer sebagai garda terdepan, peningkatan kualitas dan kapasitas rumah sakit rujukan, serta penguatan ketahanan sektor farmasi dan alat kesehatan guna menjamin ketersediaan obat dan alat medis secara berkelanjutan.
Pemerintah juga memperkuat sistem kesiapsiagaan dan tanggap darurat kesehatan untuk menghadapi potensi krisis di masa depan. Percepatan digitalisasi layanan kesehatan, termasuk integrasi sistem informasi kesehatan nasional, serta pembenahan tata kelola pembiayaan dan penguatan sumber daya manusia kesehatan terus dilakukan agar layanan berjalan lebih efisien dan berkualitas.
Langkah-langkah ini dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan layanan kesehatan yang adil, inklusif, dan berdaya saing di seluruh Indonesia.
Pada akhirnya, transformasi layanan kesehatan menegaskan perubahan paradigma dari layanan yang terfragmentasi menuju sistem yang terintegrasi, proaktif, dan berfokus pada kesinambungan perawatan. Integrasi antar layanan, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan layanan primer dan rujukan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
