Jakarta (ANTARA) - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mendokumentasikan kesaksian lima tokoh reformasi melalui arsip sejarah lisan sebagai upaya melengkapi catatan peristiwa 1998 yang belum sepenuhnya terekam dalam arsip tertulis.
Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Perlindungan ANRI Kandar saat ditemui selepas pembukaan Festival Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2025 di Jakarta, Kamis, mengatakan pengarsipan tersebut merupakan bagian dari program wawancara sejarah lisan terhadap pelaku Reformasi.
"Secara keseluruhan terdapat 33 tokoh Reformasi yang diwawancarai ANRI, namun lima tokoh diprioritaskan untuk diterbitkan lebih awal, karena kontribusi dan perspektif historisnya," kata dia.
Kelima tokoh itu adalah Abdurrahman Wahid yang mengusung nilai pluralisme dan kemanusiaan, Ita Fatia Nadia yang menegaskan keberanian perempuan dalam menegakkan keadilan, Lili Sumantri yang merepresentasikan peran moral birokrasi, Ikhlasul Amal yang membuka ruang kebebasan akademik, serta Ridwan Baswedan yang mencerminkan semangat gerakan pemuda.
Menurut Kandar, arsip sejarah lisan menjadi penting, karena banyak peristiwa besar tidak seluruhnya tercatat dalam dokumen resmi, sehingga berpotensi menimbulkan mata rantai sejarah yang terputus.
Hal ini sebagaimana dicontohkan dengan sejumlah peristiwa seperti Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) dan masa pendudukan Jepang yang memiliki keterbatasan arsip tertulis, sehingga kesaksian pelaku sejarah menjadi sumber penting dalam penulisan sejarah bangsa.
Kandar mengungkapkan bahwa proses pengumpulan wawancara sejarah lisan Reformasi tersebut memakan waktu panjang, lebih dari 10 tahun mengingat ANRI harus mendokumentasikan satu per satu tokoh dengan pendekatan yang mendalam.
Dalam hal ini, kata dia, percepatan wawancara dilakukan agar kesaksian para pelaku sejarah dapat terdokumentasi sebelum kehilangan sumber primer akibat faktor usia.
Baca juga: ANRI telusuri jejak perpindahan ibukota negara dari Batavia ke IKN
Baca juga: ANRI sebut lima warisan dokumenter ingatan kolektif dunia bisa jadi acuan kebijakan
