Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menerjunkan pakar dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair) di Jawa Timur, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gajah Mada (UGM) untuk mengevaluasi bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
"Kita sedang melakukan evaluasi, jadi hari ini semestinya para pakar dari universitas besar di tiga provinsi ini akan membantu untuk menyusunkan desain itu. Mudah-mudahan tidak terlalu lama, namun terkait dengan yang disebutkan oleh point source, jadi alam ini ada dua, yang point source dan non-point source. Point source itu oleh unit usaha yang dikontrol oleh KLH, non-point source itu dikelola oleh masyarakat," kata Menteri Lingkungan Hidup (LH) di Jakarta, Kamis pekan lalu.
Untuk point source, lanjut dia, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah mengevaluasi semua persetujuan lingkungan, semua dokumen, untuk disesuaikan dengan garis dasar hujan di Indonesia.
"Baseline hujan kita itu meningkat hampir 18 kali dari kondisi normal. Kita tahu bahwa Sumatera bagian utara curah hujannya rata-rata 2.900 sampai 3.000 mm per tahun, jadi, kalau dibagi sekitar 8 mm per hari, dan Sumatera Utara hujan yang terjadi itu 450 mm dalam 3 hari, atau boleh dikatakan 18 kali dari kondisi alamnya," ujar Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.
Baca juga: Maruarar Sirait : Huntap penyintas Sumatera akan mulai dibangun bulan ini
Baca juga: Presiden bertolak naik heli tinjau lokasi bencana di Sumatera Barat, Kamis pagi
