Bogor (ANTARA) - Bank BUMD sering dipandang sebagai institusi yang dekat dengan birokrasi, mengurus kas daerah, mengawal transaksi pemerintah, dan menjalankan mandat pembangunan. Padahal, di provinsi seperti Bengkulu, bank milik daerah justru bisa menjadi “mesin sunyi” yang menentukan cepat atau lambatnya UMKM naik kelas.
Ia berada paling dekat dengan denyut ekonomi harian, mengenal musim panen, paham ritme perdagangan pasar, dan tahu kapan pelaku usaha membutuhkan napas modal kerja. Di tangan yang tepat, kedekatan ini bukan romantika lokal, melainkan keunggulan struktural.
Angkanya memberi petunjuk. Ekonomi Bengkulu pada 2024 tumbuh 4,62 persen, lebih tinggi dibanding 2023, dengan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh paling tinggi 9,39 persen.Pada Triwulan III 2025, ekonomi Bengkulu masih tumbuh 4,56 persen (yoy), dan sektor akomodasi serta makan minum kembali menjadi yang tertinggi, mencapai 10,59 persen. Ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ruang hidup UMKM Bengkulu, dari kuliner, penginapan, jasa, hingga perdagangan, sedang bekerja.
UMKM Bengkulu Makin Digital
Struktur PDRB Bengkulu juga menunjukkan basis yang “UMKM banget”. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang pangsa terbesar, 30,85 persen, disusul perdagangan besar dan eceran 13,53 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,32 persen.
Hampir semua sektor ini bergerak lewat usaha kecil, rantai pasok lokal, dan arus kas yang sering kali harian. Di sinilah bank BUMD seharusnya tampil bukan hanya sebagai penjaga likuiditas pemerintah daerah, tetapi sebagai penguat sirkulasi modal rakyat.
Peran itu semakin penting ketika pembiayaan UMKM tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan lama, menjaminkan aset, menumpuk berkas, menunggu lama. Ekonomi sudah berubah menjadi ekonomi data. UMKM Bengkulu semakin banyak yang berjualan lewat kanal digital, menerima pembayaran nontunai, dan meninggalkan jejak transaksi. QRIS, misalnya, sudah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant hingga Semester I 2025, dengan 93,16 persen merchant adalah UMKM.
Pada forum FEKDI x IFSE 2025, Bank Indonesia juga menegaskan sekitar 93 persen pengguna QRIS adalah UMKM. Pesannya jelas, digitalisasi tumbuh dari bawah, organik, dan UMKM adalah aktor utamanya.
Di titik ini, bank BUMD punya peluang emas. Bukan sekadar “ikut-ikutan digital”, melainkan memanfaatkan data transaksi untuk memperluas kredit yang lebih presisi. Jejak QRIS, histori penjualan, sampai pola arus kas dapat menjadi dasar penilaian yang lebih adil bagi pelaku usaha yang selama ini sulit masuk kategori bankable. UMKM yang tadinya tak punya laporan keuangan rapi, pelan-pelan bisa dibaca lewat perilaku transaksi. Bank BUMD dapat menjadi jembatan yang memformalkan UMKM tanpa mematikan kelincahan mereka.
Dukungan kebijakan sudah tersedia, tinggal bagaimana ia dipakai sebagai akselerator daerah. Hingga pertengahan 2025, penyaluran KUR di Bengkulu mencapai Rp1,95 triliun dengan 26.557 debitur.
Modal Kuat Bank BUMD Mengakselerasi UMKM
KUR adalah instrumen nasional, tetapi dampaknya sangat lokal, ia menentukan apakah pedagang kecil menambah stok, pengusaha kuliner membeli peralatan, nelayan memperbaiki rantai dingin, atau pelaku wisata meningkatkan layanan. Bank BUMD, melalui jaringan dan pemahaman lokal, bisa membuat KUR tidak berhenti sebagai angka realisasi, melainkan benar-benar menjadi tangga produktivitas.
Narasi ini juga sejalan dengan arah penguatan BPD secara nasional. OJK menilai kinerja BPD solid, dengan pertumbuhan aset rata-rata 7,29 persen, kredit tumbuh 6,82 persen, dan DPK tumbuh 7,30 persen, sembari menjaga kualitas kredit dan permodalan.
Artinya, secara industri, bank daerah punya modal reputasi untuk tampil lebih percaya diri sebagai bank pembangunan, bukan sekadar bank kas.
Bengkulu membutuhkan akselerasi yang terasa di lapangan. Bukan hanya kredit yang lebih banyak, tetapi kredit yang lebih cerdas, tersambung dengan ekosistem digital, dan ditopang literasi keuangan yang konsisten. Bank BUMD bisa memimpin orkestrasi itu, menggandeng pemerintah daerah melalui program inklusi, memperluas akseptasi pembayaran digital di pasar tradisional, memfasilitasi pembukuan sederhana, lalu menutup lingkaran dengan pembiayaan berbasis data. Ketika itu terjadi, bank tidak lagi berdiri di gedung kantor, ia hadir di warung, kios, kebun, dermaga, dan etalase online.
Jika Bengkulu ingin pertumbuhan yang lebih merata, kuncinya bukan hanya proyek besar, melainkan produktivitas ribuan usaha kecil yang bergerak serempak. Bank BUMD memiliki posisi unik untuk menyalakan gerak itu, karena ia paling dekat dengan daerah, paling paham watak ekonomi lokal, dan kini punya kesempatan memanfaatkan teknologi untuk mempercepat UMKM naik kelas.
Di situlah peran pembangunan menemukan bentuknya yang paling nyata, modal yang berputar, usaha yang tumbuh, dan ekonomi Bengkulu yang menguat dari akar.
Penulis: Aprikie Putra Wijaya, S.Pi - Alumnus IPB University, Peneliti INPEC (Indonesian Politic and Economic Center).
