Depok (ANTARA) - Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Prof.Tito Latif Indra menegaskan pentingnya inovasi ilmiah dalam menjaga keberlanjutan sektor perkebunan karet nasional di Indonesia.
“Penyakit gugur daun telah menjadi tantangan serius bagi petani dan industri karet. Melalui kolaborasi SATREPS, kami membangun pendekatan ilmiah terpadu—dari patologi tanaman hingga kecerdasan buatan—untuk deteksi dini dan pengendalian yang lebih efektif," kata Prof.Tito Latif Indra di Kampus UI Depok, Kamis.
Tito berharap hasil riset ini menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan industri karet Indonesia.
Untuk itu FMIPA UI bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), serta Indonesian Rubber Research Institute (IRRI/Puslit Karet) menyelenggarakan Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting dan Seminar Rubber Talks 2025 secara hybrid.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian SATREPS “Project for Development of Complex Technologies for Prevention and Control of Rubber Tree Leaf Fall Disease”, sekaligus menjadi ajang monitoring dan evaluasi proyek tersebut.
Acara dihadiri peneliti, akademisi, serta pemangku kepentingan dari Indonesia dan Jepang, baik secara luring maupun daring.
Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) merupakan kerangka kerja sama riset Indonesia–Jepang sejak 2021 yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan berkelanjutan.
Melalui proyek ini, kedua negara berkolaborasi dalam mengembangkan teknologi pencegahan dan pengendalian penyakit gugur daun pada pohon karet yang menjadi ancaman serius bagi produktivitas karet nasional.
Sebagai forum resmi, JCC ke-5 mengangkat tema: “Toward Application of Joint Technologies for New Breeding of Natural Rubber Tree,” yang mencerminkan fokus proyek pada integrasi dan penerapan hasil riset menuju pengembangan klon karet tahan penyakit berbasis pendekatan multidisiplin.
Selama lima tahun pelaksanaan, tim peneliti berhasil menghasilkan sejumlah capaian penting, antara lain kandidat fungisida baru, klon pohon karet yang lebih tahan penyakit, genomik dan transriptomik, serta sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan foto, citra satelit dan drone.
Kemajuan ini menjadi bukti sinergi ilmiah yang kuat antara Indonesia dan Jepang dalam merespons tantangan industri karet.
Kolaborasi proyek ini melibatkan UI, IRRI/Puslit Karet, JICA, JST, RIKEN, serta universitas-universitas mitra di Jepang seperti Gifu University, Maebashi Institute of Technology, dan Yokohama City University.
Setiap institusi berkontribusi sesuai bidang keahliannya, menciptakan pendekatan multidisiplin yang memperkuat integrasi riset dalam pencapaian tujuan proyek.
Sebagai forum monitoring dan evaluasi, JCC Meeting menjadi wadah bagi mitra proyek untuk melaporkan perkembangan riset, menyelaraskan agenda, serta membahas arah pengembangan teknologi menjelang penutupan proyek.
Tim peneliti memaparkan capaian ilmiah, hasil survei lapangan, kemajuan model AI, serta integrasi data penginderaan jauh yang dikembangkan sepanjang penelitian.
Melengkapi kegiatan tersebut, Seminar RubberTalks 2025 dilaksanakan secara hybrid dan menjadi forum pertukaran pengetahuan antara peneliti Indonesia dan Jepang.
Seminar ini menghadirkan pembicara kunci dari berbagai institusi, yaitu Ir. Hendratmojo Bagus Hudoro (Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian), Dr. Yuko Makita (Maebashi Institute of Technology), Dr. Fetrina Oktavia (IRRI), Dr. Eng. Masita Dwi Mandini Manessa, (FMIPA UI), Dr. Stephany Angelia Tumewu (Gifu University), Dr. Tri Rapani Febbiyanti (IRRI), dan Dr. Setiari Marwanto, S.P., M.Si. (Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Para pembicara memaparkan tema-tema terkini mulai dari pemodelan penyakit, deteksi berbasis AI, kajian vegetasi melalui teknologi penginderaan jauh, hingga strategi implementasi lapangan untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet.
Diskusi lintas disiplin ini diharapkan mendorong adopsi teknologi yang lebih luas dan aplikatif bagi industri karet nasional.
Project Manager SATREPS UI, Dr. Retno Lestari, menegaskan pentingnya fase akhir proyek dalam penguatan kapasitas riset nasional.
“Universitas Indonesia berkomitmen kuat mendukung penelitian ini. Melalui kolaborasi SATREPS, kami berharap dapat menghadirkan solusi ilmiah untuk mengatasi penyakit gugur daun serta memperkuat ketahanan dan keberlanjutan industri karet Indonesia di masa depan," katanya.
Project Director SATREPS dari IRRI, Dr. Suroso Rahutomo, menegaskan bahwa capaian proyek ini lahir dari kolaborasi multidisipliner yang solid selama lima tahun.
“Kemitraan Indonesia–Jepang telah memungkinkan pemanfaatan keahlian multidisiplin yang akan memperkuat ketahanan perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.
Dari pihak Jepang, Project Director SATREPS, Dr. Minami Matsui, memberikan apresiasi atas sinergi antarlembaga yang telah terbentuk selama pelaksanaan proyek.
Dengan kolaborasi yang solid antara UI, IRRI/Puslit Karet, JICA, JST, serta universitas-universitas mitra di Jepang, penyelenggaraan JCC Meeting dan RubberTalks 2025 secara hybrid menjadi penutup konstruktif bagi perjalanan proyek SATREPS sekaligus pondasi bagi pengembangan teknologi baru yang mendukung ketahanan dan keberlanjutan industri karet Indonesia ke depan.
Selain itu, penelitian terkait pengembangan klon karet baru juga memperoleh dukungan dari Yokohama Rubber, yang membiayai proses analisis sampel dari Palembang sebagai bagian dari kolaborasi riset ini.
Dukungan industri dapat memperkuat kemitraan strategis antara sektor riset dan industri dalam mendorong inovasi pemuliaan tanaman karet yang berkelanjutan.
Dekan FMIPA UI tekankan pentingnya inovasi ilmiah jaga keberlanjutan karet nasional
Kamis, 11 Desember 2025 18:38 WIB
Kegiatan Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting dan Seminar Rubber Talks 2025 secara hybrid di FMIPA UI Depok. ANTARA/HO-Humas UI
