Jakarta (ANTARA) - Air kecokelatan yang mengalir deras di Sungai Batang Kuranji membawa salah satu bagian penting dalam kehidupan Nilawati; rumahnya hanyut ketika banjir bandang terjadi di sejumlah lokasi di Kota Padang, Sumatera Barat.
Dua pekan sebelum Siklon Tropis Senyar datang membawa curah hujan ekstrem, rumah Nilawati di Kompleks Griya Permata II, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, berjarak sekitar 50 meter dari pinggir sungai.
Sekarang, hanya setengah rumahnya yang masih berdiri. Sisanya, entah berada di mana terseret air deras dan pohon hanyut.
Pengalaman banjir bukan kali pertama dialami perempuan berusia 43 tahun tersebut. Kejadian serupa pernah terjadi pada 2012 meski tidak menghancurkan rumahnya.
Tinggal di sempadan sungai, banjir adalah kejadian yang harus selalu diwaspadai. Sejak Rabu (26/12), dia dan keluarganya sudah mulai siaga dengan kenaikan air mengingat hujan terus turun tanpa henti.
Nilawati dan suaminya bahkan sudah sempat mengambil sejumlah uang untuk berjaga-jaga. Bersama dengan surat-surat berharga, uang itu dimasukkan ke dalam jaket yang digantungnya di dalam kamar.
Manusia memang berencana tapi nasib berkata lain. Saat Kamis (27/12) pagi ketika mereka bersiap untuk mengantar anaknya, debit air yang terus meningkat masuk ke rumahnya.
Dengan mata berkaca-kaca Nilawati mengingat kembali bagaimana dalam hitungan detik, air langsung masuk sampai setinggi pinggangnya.
Panik, dia langsung masuk ke kembali ke rumah membangunkan suaminya yang sedang lalok, bahasa Minang untuk tidur. Dia dan keluarganya langsung berlari meninggalkan jaket berisi barang-barang berharga tersebut.
Ketika dia ingin kembali untuk mengambil apa yang bisa diselamatkan keesokan harinya, rumahnya sudah tidak ada lagi. Ikut terbawa bersama air Sungai Batang Kuranji.
"Mungkin, ya, namanya sudah kehendak yang maha kuasa. Kita enggak dapat menolaknya seperti itu kan. Tapi Insyaallah, Allah mungkin memiliki janji yang lain yang lebih baik untuk kami," kata dia.
Hal serupa dialami oleh Defri Yanto yang juga merupakan warga Kompleks Griya Permata II. Meski rumahnya tidak berada terlalu dekat dengan pinggir sungai, namun kecepatan naiknya air membuatnya terkejut.
Meski sempat membawa keluar anggota keluarganya dengan kendaraan ke daerah yang lebih aman, dia kembali ke kawasan rumahnya untuk memperingatkan tetangga pada Kamis pagi tersebut.
Sempat kembali ke rumah pada Kamis siang untuk membersihkan rumah dan jalan yang sempat tergenang setinggi leher orang dewasa. Yanto dan sejumlah warga di lokasi tersebut kelelahan karena membersihkan rumah dari siang hingga malam.
Siapa yang menyangka, Kamis malam air kembali naiki. Begitu matahari mulai bersinar di hari Jumat (28/12), air menggenangi blok rumahnya. Beruntung, sebagian besar orang masih terbangun dan saling menginfokan di grup aplikasi percakapan kompleks untuk evakuasi.
Tidak hanya itu, kawasan di dekat rumahnya tidak rusak lebih parah karena salah satu kayu besar yang hanyut tersangkut di dekat pintu masuk blok rumahnya. Kayu besar itu menjadi benteng yang menghadapi laju air yang menggerus apapun yang menghalanginya dan menahan kayu serta objek lain yang terseret.
Tidak ada waktu beristirahat untuk Yanto, begitu air sudah mulai surut dia menjadi koordinator bertemu dengan para pihak yang ingin menyalurkan bantuan untuk warga kompleks tersebut, yang tercatat ditinggali sekitar 95 kepala keluarga.
Yanto juga mendata warga yang membutuhkan bantuan, seperti salah satu rumah yang hanya ditinggali sepasang suami istri yang sudah renta. Bahkan sang istri akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya menurun setelah banjir.
Relawan baru datang beberapa waktu setelah banjir bandang terjadi. Jumlahnya tidak banyak, sebagian besar bertahan hanya satu dua hari. Membantu membersihkan dua rumah, lalu berbalik pulang dan tidak kembali lagi.
Meski demikian bantuan itu disyukurinya, tidak hanya bantuan berupa kebutuhan sehari-hari tapi juga tenaga yang bisa diberikan untuk meringankan beban warga sekitar.
Harapannya hanya satu, pemerintah dapat membantu membangun penahan atau tanggul di pinggir sungai di wilayah tersebut.
Mengingat banjir bandang juga pernah terjadi pada 2012, meski tidak sedahsyat tahun ini, dia berharap masih dapat tetap berdiam di sana tanpa harus melakukan relokasi dengan adanya pembangunan tersebut.
Gotong royong
Istilah "warga bantu warga" mungkin bisa dilihat di Nanggalo. Dua pekan setelah banjir bandang, kawasan perumahan itu masih dipenuhi lumpur yang tebal. Bahkan masih ada mobil terbalik di sejumlah titik, bukti betapa kuat arus banjir bandang tersebut.
Wujud gotong royong sesungguhnya itu terlihat nyata dari kerja sama warga dan brigade pengendali kebakaran hutan Manggala Agni, yang dikerahkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk membantu warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera.
Dengan seragam merah yang menjadi khasnya, para petugas itu menggunakan beragam alat untuk mendorong lumpur keluar dan membersihkan rumah serta jalan di perumahan tersebut.
Meski berada di bawah arahan Kemenhut, Kepala Regu Daops Sumatera VI Siak Syahrizon Gusriyal menyebut kedatangan 60 orang anggota Manggala Agni itu ke Sumatera Barat adalah atas dasar kemanusiaan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki markas di Sumatera Barat. Dengan tujuan memberikan bantuan kepada warga, mereka datang dari wilayah daerah operasi Manggala Agni di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Tim Manggala Agni sudah berada di Nanggalo sejak Kamis (4/12), menempuh perjalanan belasan jam dari wilayah operasi masing-masing. Mereka membawa tidak hanya titipan bantuan kebutuhan sehari-hari tapi juga tenaga untuk membantu warga.
Bekerja dari pagi pukul 09.00 WIB sampai malam hari sekitar 21.00 WIB, selama lebih dari sepekan mereka membantu membersihkan rumah dan jalan dari lumpur tebal.
Menggunakan alat yang biasa digunakan untuk memadamkan api kebakaran hutan seperti pompa dan semprotan untuk mengurangi ketebalan lumpur dan air yang masih menggenang di sejumlah titik.
Zon, begitu Syahrizon biasa dipanggil, mengatakan ketika baru pertama kali tiba, kebanyakan warga terlihat acuh tak acuh, mengira mereka hanya akan bertahan sehari sebelum akhirnya pergi lagi. Hampir sebagian besar dari mereka bahkan tidak mengetahui apa itu Manggala Agni.
Namun, lebih dari sepekan di lokasi itu, para petugas Manggala Agni kini disambut hangat. Sekarang warga bahkan langsung menyapa ketika mereka tiba untuk melaksanakan pembersihan. Beberapa masyarakat bahkan sudah saling mengenal nama dengan para pejuang melawan kebakaran hutan itu.
Pengerahan Manggala Agni itu merupakan bagian dari arahan Menteri Kehutanan dan Wakil Menteri Kehutanan agar para jajaran Kemenhut baik dari pusat maupun unit pelaksana teknis (UPT) untuk memberikan bantuan kebutuhan sehari-hari dan jenis lainnya.
Tidak hanya di Sumatera Barat, Manggala Agni juga dikerahkan di Langkat di Sumatera Utara dan Aceh Timur. Manggala Agni yang dikerahkan berasal dari lokasi paling dekat dengan daerah terdampak banjir.
Keberadaan mereka di wilayah tersebut belum diketahui akan berlangsung sampai kapan, namun Zon mengatakan Manggala Agni akan tetap bekerja semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat sekitar.
Keberadaan mereka Bukan karena atas perintah atasan, tapi untuk membantu meringankan beban mereka yang saat ini tengah tersungkur akibat bencana. Menjadi contoh dari gotong royong, tradisi turun-menurun yang harapannya terus menyala di tengah bencana.
