Tapsel, Sumatera Utara (ANTARA) - Banjir bandang di Desa Garoga dan Huta Godang, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sudah terjadi hampir tiga bulan lalu, tapi rasa trauma akibat peristiwa bencana alam itu masih terngiang.
Setiap hujan datang, warga merasa was-was dan cemas. Perasaan itu masih terus muncul dan sangat membekas bagi para penyintas.
Jeritan dan tangisan serta teriakan minta tolong masih terngiang-ngiang. Bencana kali ini menjadi yang pertama dan terdahsyat, bahkan desa yang dahulu asri kini porak-poranda diterjang banjir bandang.
Meski sudah hampir tiga bulan lamanya, sisa-sisa material yang terbawa seperti kayu, lumpur dan bebatuan masih tampak.
Desa Garoga dan Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, menjadi dua daerah yang paling terdampak. Rumah-rumah yang dahulu berdiri tegak, sekarang luluh lantak.
Bencana yang terjadi memang memberikan dampak bagi para penyintasnya. Namun, kini mereka perlahan bangkit untuk lebih baik lagi dan lebih kuat.
Seperti yang dilakukan seorang penyintas bencana banjir bandang di Desa Huta Godang, Monang dan keluarga yang kini membuka warung untuk berjualan dan beraktivitas agar bisa menghilangkan trauma yang masih belum sirna.
Keluarga yang dahulu bekerja sebagai petani, kini mencoba peruntukan dengan berjualan. Mereka menyediakan makanan, minuman dan jajanan, untuk warga dan tentara yang sedang bertugas di lapangan.
"Kalau mau bertani, lahannya sudah tertimbun lumpur. Jadi kami memilih berdagang," kata Monang kepada ANTARA.
Bangkit
Pilihan Monang berjualan menjadi tepat, karena perlahan keluarga kecil mereka dapat kembali bangkit dari keterpurukan setelah musibah datang.
Monang dan keluarga kini memiliki penghasilan, juga tidak lagi menempati tempat pengungsian, ia beserta keluarga lebih memilih mengontrak rumah yang berada di desa tetangga.
Semua itu dilakukan agar kehidupan mereka dapat membaik seperti sebelum musibah menerjang desanya.
Sama dengan Monang, pedagang kelontong di sekitar Pasar Huta Godang, Mahdalena, juga mencoba bangkit dengan kembali membuka warung kelontong yang barang dagangannya sempat hilang diterjang banjir bandang.
Mahdalena menyampaikan, ia sempat menggantungkan hidupnya dari bantuan, baik dari pemerintah maupun relawan. Namun, seiring kondisi yang membaik, ia kembali membuka usahanya secara perlahan.
Jiwa berdagang yang sudah terpatri, menjadi modal kuat untuk mengais rezeki, meski sedang dalam keadaan kekurangan. Dua minggu setelah bencana menerjang, Mahdalena pun sempat berjualan di pengungsian dan kemudian mengontrak rumah untuk menjajakan dagangannya.
Ia yakin jika mau berusaha lebih keras, maka akan dibukakan jalan oleh sang Pencipta.
"Kemarin juga sempat membuka toko ketika kami mengontrak rumah dan kini kembali lagi ke toko yang kami miliki," katanya saat membersihkan toko kelontong yang berada di kawasan Pasar Huta Godang.
Berdagang memang menjadi pilihan sebagian penyintas bencana banjir bandang untuk keberlangsungan perekonomian keluarga mereka.
Mereka tidak hanya memanfaatkan ruang di sekitar lokasi bencana, tapi ada pula yang kembali bangkit dengan berkeliling menjajakan dagangannya.
Itu yang dilakukan Khoiruddin Simatupang, seorang pedagang sayur keliling yang sudah kembali menjajakan dagangannya dengan motor sewaan. Karena semua harta bendanya seperti rumah, sepeda motor dan lainnya hilang terbawa banjir bandang.
Kebangkitan pria paruh baya itu tidak terlepas dari dukungan sang istri tercinta, apalagi mereka saat ini tinggal di tenda pengungsian dan sempat menggantungkan nasibnya dari para dermawan.
Dua pekan setelah desa mereka luluh lantak diterjang banjir bandang, Khoiruddin yang akrab dipanggil Pak Susi bertekad untuk kembali berjualan. Hal ini dilakukan agar ia tidak lagi bergantung pada bantuan.
Pak Susi tidak mau hanya menunggu dikasihani pemerintah atau relawan yang datang, karena ia bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Aktivitas penyintas
Selain kembali mengais rezeki, para penyintas juga sudah mulai beraktivitas. Ada yang memperbaiki rumah secara mandiri untuk ditinggali, ada pula yang membangun kembali.
Aktivitas para penyintas memang belum pulih seutuhnya setelah banjir bandang yang menerjang dua desa di Kecamatan Batang Toru pada akhir November lalu.
Seorang warga Jusni mengaku kembali memperbaiki tempat tinggalnya agar dapat segera ditempati bersama keluarga. Rumahnya memang sempat hancur cukup parah, atap hilang tembok roboh. Namun, ada beberapa tembok yang masih kokoh sehingga perbaikan tidak terlalu memakan biaya.
Jusni tidak mau hanya menunggu uluran bantuan, untuk itu perlahan mencoba memperbaiki dengan modal dari pinjaman sanak saudara.
"Yang terpenting, rumah saya layak dihuni kembali," katanya
Jusni dan keluarga masih wawas ketika terjadi hujan deras, apalagi kondisi tempat tinggalnya, terutama di kanan dan kiri, sudah hancur dihantam banjir bandang.
Bukan hanya Jusni, sejumlah warga juga tampak memperbaiki rumahnya yang hancur dengan membangun kembali menggunakan papan. Alasan mereka jelas ingin segera pulih dan dapat beraktivitas kembali.
Di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, hampir 90 persen rumah warga terdampak dan hancur tergerus banjir bandang, sehingga mereka sebagian besar masih berada di tenda darurat.
Huntara
Untuk menjamin keberlangsungan penyintas bencana banjir bandang, pemerintah saat ini tengah membangun hunian sementara (Huntara) Batang Toru.
Total Huntara yang sedang dibangun di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan sebanyak 252 unit atau 21 blok, di mana per blok terdiri 12 unit.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Sumatra Utara Kurniawan mengatakan bahwa petugas di lapangan berupaya mempercepat pembangunan Huntara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), agar dapat ditempati pada minggu pertama Ramadhan.
Pembangunan memang terkendala oleh cuaca, di mana beberapa hari ini hujan terus mengguyur wilayah tersebut, sehingga pembangunan meleset dari target.
Untuk itu, petugas di lapangan menyiasati percepatan pembangunan Huntara dengan bekerja hingga larut malam ketika tidak turun hujan, selain itu pekerjaan di dalam ruangan masih terus dilakukan.
Dari 21 blok yang akan dibangun, delapan di antaranya telah selesai dikerjakan, tinggal pengerjaan terakhir seperti pemasangan tempat tidur, kipas angin, listrik dan lainnya.
Upaya pemerintah dan kemauan penyintas bencana untuk bangkit kembali menjadi satu kesatuan yang perlu terus ditanamkan, agar kebangkitan dari keterpurukan dapat terwujud sesegera mungkin.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026