Jakarta (ANTARA) - Dua kasus pembacokan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana seseorang bisa kehilangan kendali hingga melakukan kekerasan.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog menjelaskan, secara biologis manusia memiliki dua area otak yang berperan dalam merespons emosi, yakni amigdala dan prefrontal cortex.
“Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Ketika seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, diam, atau mengikuti,” ujar Novi ketika dihubungi ANTARA, Kamis.
Baca juga: Universitas Andalas dirikan Prodi Psikolog jawab kebutuhan psikologi kebencanaan
Baca juga: Psikologi UP: Siapkan masa depan Indonesia dimulai dari kesehatan mental
Namun, manusia juga memiliki prefrontal cortex yang berfungsi untuk berpikir rasional, membuat keputusan, serta mengelola emosi dan perilaku.
“Kalau prefrontal cortex tidak terlatih atau tidak optimal, seseorang cenderung merespons secara impulsif. Di situ kekerasan bisa terjadi karena emosi lebih dominan daripada akal,” katanya.
Menurut dosen yang meraih gelar Ph.D. dari The University of Melbourne itu, lemahnya kemampuan regulasi emosi dapat dipengaruhi oleh pola pendidikan yang minim dialog serta budaya yang tidak melatih anak untuk berpikir kritis dan menunda respons.
Selain itu, paparan media sosial yang intens dinilai dapat mempercepat pengambilan keputusan secara impulsif karena mendorong respons cepat tanpa refleksi mendalam.
Baca juga: Solusi psikologis dan kesehatan mental
Pandangan serupa disampaikan psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog saat dihubungi ANTARA, Kamis, ia yang menyebut perilaku kekerasan kerap muncul saat emosi menjadi sangat intens dan melebihi kemampuan individu untuk meregulasinya.
“Dalam kondisi ini, respons emosional seperti marah atau merasa terancam menjadi sangat dominan dibandingkan kemampuan berpikir rasional. Akibatnya, individu dapat bertindak impulsif sebagai cara melampiaskan ketegangan emosi,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Ia menambahkan, faktor seperti stres berkepanjangan, kelelahan, konflik relasi, riwayat pengalaman kekerasan, hingga penggunaan zat dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap frustrasi.
Kemampuan mengenali dan mengelola emosi sejak dini, menurut kedua psikolog tersebut, menjadi kunci untuk mencegah respons agresif saat menghadapi tekanan hidup.
