Jakarta (ANTARA) - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya meluncurkan buku "Litani Sahaja: 75 Tahun Kardinal Suharyo" yang merupakan bentuk penghormatan kepada Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
"Buku ini bukanlah biografi, melainkan galeri visual. Ide menyusun buku ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang istimewa bagi momen yang istimewa pula," ujar Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya Linus M Setiadi dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan di buku itu dapat ditemukan keteladanan hidup yang bersahaja, setia, dan penuh makna. Buku itu mencoba menangkap esensi dari Kardinal Suharyo melalui visual.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Sumber Daya Manusia Unika Atma Jaya Yohanes Eko Adi Prasetyanto menyatakan kehadiran buku itu menjadi penanda penting bagi perjalanan institusi, terutama dalam meneladani nilai-nilai yang dihidupi Romo Kardinal.
Baca juga: Unika Atma Jaya resmikan sejumlah fasilitas baru revitalisasi di Kampus Semanggi
Baca juga: Unika Atma Jaya sediakan 500 beasiswa bagi mahasiswa baru dari keluarga kurang mampu
Ia menjelaskan buku "Litani Sahaja" bukan hanya bentuk penghormatan kepada Romo Kardinal, akan tetapi juga pengingat dan penanda penting perjalanan Unika Atma Jaya.
"Melalui buku ini, kita diajak untuk meneladani nilai-nilai hidup yang beliau jalani ‘kesederhanaan, kesetiaan, dan pelayanan penuh makna’ yang sejalan dengan semangat kami dalam membentuk insan yang unggul, berintegritas, dan mengabdi bagi sesama," kata dia.
Buku "Litani Sahaja" menghadirkan rangkaian foto dari berbagai masa dan tempat yang merekam jejak pelayanan Romo Kardinal, mulai dari Paroki Bintaran di Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang, hingga Keuskupan Agung Jakarta.
"Narasi visual itu menjadi jendela yang membuka kisah hidup beliau secara ringan namun tetap dalam," katanya.
Baca juga: Rektor sebut Unika Atma Jaya berupaya bangun ekonomi bangsa berkelanjutan
Judul “Litani Sahaja” dipilih karena mencerminkan karakter khas Romo Kardinal. “Litani” adalah bentuk doa yang penuh pengulangan, bukan sebagai rutinitas kosong, akan tetapi sebagai ikhtiar spiritual yang terus mengakar. “Sahaja” berarti sederhana.
Ia menyebut dua kata ini menggambarkan kehidupan Romo Kardinal yang konsisten dan tidak mencari sorotan, namun berdampak besar bagi banyak orang.
"Dalam setiap tindakan yang diulang seperti bertemu umat, memimpin misa, menyapa dengan rendah hati terkandung spiritualitas litani yang sederhana," ujar dia.
Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan pada usianya ke-75 tahun segala sesuatu yang dilakukan demi kebaikan gereja, bangsa, dan tanah air.
