Bogor, 19/12 (ANTARA) - Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Dr Ifan Haryanto mengemukakan, kegiatan seperti "haul", "tahlil", dan maulid nabi, merupakan modal sosial dan keunggulan yang membuat NU semakim membumi dalam kehidupan umat.
"Karena itu, haul maupun Maulid Nabi Muhammad SAW perlu terus dilestarikan sebagai kekayaan kultural Islam Nusantara," katanya di Bogor, Jawa Barat, Rabu.
Ifan Haryanto, mantan Sekretaris Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Inggris Raya itu, hadir pada Haul ke-36 KH Ma'sum, di Pesantren Al-Ma¿sumiyah, Kampung Sawah, Tanahbaru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, yang dihadiri 700 jamaah, pada Selasa (18/12) malam.
Menurut dia, selain kekayaan budaya Islam,kegiatan semacam haul, tahlil dan maulid, sekaligus benteng kokoh Negara Kesatuan RI dari rongrongan dan ancaman yang datang dengan topeng agama dan budaya.
Oleh karena itu, Ifan Haryanto mengajak warga Kota Bogor agar terus aktif dalam membumikan ajaran-ajaran warisan ulama besar masa silam tersebut.
Argumentasinya, kata dia, saat ini banyak kekuatan asing yang secara sistematis menggugat dan membid'ahkan tata cara ibadah "ahlussunnah wal jamaah" dengan target besar meruntuhkan NKRI.
"Kita perlu terus merawat dan melestarikan ajaran-ajaran 'ahlus sunnah wal jamaah' yang dibentengi NU demi kokoh dan jayanya NKRI," kata doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.
Perangi terorisme
Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma'sumiyah Kota Bogor KH Asep Saeful Ihsan mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat luas untuk lebih aktif dalam memerangi terorisme yang sejalan dengan makin suburnya ajaran yang dibawa kelompok militan Wahabi.
"Ajaran Islam 'ahlussunnah wal jamaah' yang dikembangkan oleh kiai-kiai di kampung-kampung maupun pesantren di semua pelosok Nusantara tidak mengenal faham terorisme dan budaya kekerasan lainnya," katanya.
Sebaliknya, kata dia, yang diajarkan adalah budaya kasih sayang sesama Muslim maupun sesama manusia, saling menghargai, toleransi, dan cinta tanah air.
"Kami menolak keras bila praktik kekerasan atas nama agama dan terorisme dikaitkan dengan pesantren. Pesantren telah ada sejak tujuh abad silam, mengakar kuat dalam kehidupan bangsa, dan menjadi bagian terbesar dalam perjuangan sejak masa penjajahan, pergolakan kemerdekaan hingga kini," kata Asep Saeful Ihsan yang juga aktif di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor.
Menurut dia, budaya terorisme berkembang pesat sejalan dengan derasnya penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia pascareformasi 1998.
Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Terorimse (BNPT) melansir data bahwa semua pelaku terorisme di Indonesia merupakan pengikut dan penyebar ajarah Wahabi.
Oleh karena itu, Asep mengajak masyarakat untuk memerangi terorisme dan mencegah penyebaran ajaran Wahabi dengan menguatkan dan melestarikan kembali faham "ahlussunnah wal jamaah" yang disebarkan ulama-ulama Nusantara.
"Islam Indonesia adalah 'ahlussunnah wal jamaah', yang sangat menghargai pluralitas dan toleran terhadap perbedaan. Karena alasan itu, NKRI dapat berdiri kokoh hingga sekarang," katanya.
Pada Haul ke-36 KH Ma'sum di Pesantren Al-Ma'sumiyah, Kampung Sawah, Tanahbaru, Kecamatan Bogor Utara, yang dihadiri 700 jamaah, Asep juga menyampaikan imbauannya agar masyarakat peka terhadap ancaman terorisme dan gejala-gejala lainnya yang merongrong kelangsungan NKRI.
"KH Ma'sum dan kiai-kiai kampung lainnya yang cukup banyak tersebar di Bogor selalu mengajarkan cinta Tanah Air sebagai bagian dari iman," katanya.
Saat hidupnya, KH Ma'sum dikenal sebagai tokoh pendidik, mubaligh dan sangat aktif berkecimpung dalam pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.
Ia melahirkan banyak kiai dan ustad, yang tersebar di perkampungan Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor, dan Kecamatan Babakanmadang serta Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.
"Semasa hidupnya, KH Ma'sum dikenal sebagai sosok kiai kampung yang ikhlas dan istikomah dalam berjuang, sederhana, dan dicintai masyarakat," katanya.
Peringatan haul ke-36 KH Ma'sum dirangkai dengan pembacaan simtud duror, marhabanan, Maulid Nabi Muhammad SAW (mahallul qiyam), tahlil dan tawassul.
Kegiatan itu kian semarak dengan tampilnya tim marawis Nurul Hidayah (NH), sayap ekstra kurikuler yang dikembangkan Pesantren Al-Ma'sumiyah.
Andi Jauhari
