Jakarta (ANTARA) -
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Ravindra Airlangga menegaskan kawasan ASEAN kini memiliki posisi strategis dalam perekonomian global, sekaligus menjadi pusat inovasi dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Pernyataan itu disampaikan Ravindra dalam diskusi bertajuk “KTT ASEAN Malaysia 2025: Momentum Konsolidasi Peran Indonesia sebagai Poros Kekuatan Asia Tenggara” yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa.
Menurut Ravindra, ASEAN dengan populasi sekitar 692 juta jiwa telah menyumbang 7,3 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam satu dekade terakhir, nilai ekonomi kawasan melampaui 4 triliun dolar AS dan menjadikannya ekonomi terbesar keempat di dunia.
“Faktor seperti digitalisasi, integrasi ekonomi, dan bonus demografi menjadikan ASEAN bukan hanya pasar besar, tetapi juga pusat inovasi dan investasi di kawasan Indo-Pasifik,” ujar politikus Fraksi Partai Golkar itu.
Ia menambahkan, pada 2030 ASEAN diproyeksikan menjadi penyumbang tenaga kerja terbesar ketiga di dunia. Menurut dia, keberhasilan kawasan ini tidak hanya diukur dari capaian ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga stabilitas politik selama lebih dari lima dekade tanpa konflik besar antarnegara.
“Keberagaman ekstrem di ASEAN — baik dari sisi budaya, kepercayaan, maupun geografis — justru menjadi kekuatan. Nilai-nilai utama ASEAN seperti konsensus, penghormatan terhadap kedaulatan, dan non-intervensi harus terus dijaga di tengah dinamika geopolitik global,” kata legislator Dapil Jawa Barat V (Kabupaten Bogor) itu.
Ravindra juga mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Sugiono dalam KTT ASEAN terbaru, bahwa peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation (TAC) pada 2026 akan menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar ASEAN, yakni perdamaian, stabilitas, dan kerja sama kawasan.
“ASEAN menjaga hubungan baik dengan berbagai poros geopolitik dan menjadi platform terpercaya bagi negara-negara seperti China, Jepang, India, dan Amerika Serikat untuk berdialog serta bekerja sama,” ujarnya.
Ia menyebut, perdagangan antara ASEAN dan China meningkat sebesar 15 persen, sedangkan dengan Amerika Serikat naik 12 persen sepanjang 2024.
Lebih lanjut, Ravindra menilai Indonesia sebagai penggagas dan penyumbang hampir setengah populasi ASEAN serta sepertiga dari total PDB kawasan memiliki peran signifikan dalam menentukan arah kebijakan bersama.
Hal itu tercermin dari tercapainya kesepakatan substansial dalam perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang menjadi tonggak baru kerja sama ekonomi digital antarnegara anggota.
“Kerja sama ekonomi digital ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan, bahkan hingga 366 miliar dolar AS terhadap pertumbuhan PDB kawasan ASEAN pada 2030,” kata Ravindra menutup pernyataannya.
