Sampit (ANTARA) - Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebut fenomena bibit siklon memicu terjadinya hujan, meski saat ini masih musim kemarau.
“Informasi BMKG pusat dalam beberapa hari ini akan ada hujan di wilayah kita, kemungkinan besar hal ini karena ada gangguan cuaca di selatan Pulau Jawa. Ada bibit siklon yang terdeteksi beberapa hari ini, sehingga mempengaruhi cuaca di Kalimantan, khususnya Kotim,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Senin.
Dua hari terakhir Kotim dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang, khususnya wilayah Kota Sampit dan sekitarnya yang menyebabkan sejumlah titik tergenang.
Baca juga: BMKG sebut Sulawesi Tengah berpotensi terdampak siklon tropis
Namun, Mulyono memastikan kondisi ini bukan menandakan akhir dari musim kemarau. Sebab, kondisi ini disebabkan gangguan cuaca yang disebut dengan bibit siklon yang terjadi di selatan Pulau Jawa yang berimbas pada wilayah Kalimantan, termasuk Kotim.
Bibit siklon adalah sistem cuaca bertekanan rendah di atmosfer yang menunjukkan tanda-tanda awal pembentukan sirkulasi angin dan potensi penguatan menjadi siklon tropis.
Bibit siklon dapat menyebabkan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi. “Hampir sebagian besar Kalimantan Tengah mengalami hujan beberapa hari ini, dan kondisi ini diperkirakan tiga hingga empat hari ke depan masih seperti ini,” imbuhnya.
Mengingat kondisi ini diprediksi hanya sementara, Mulyono mengimbau seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan tetap mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca juga: Siklon Tropis Alfred berpotensi genangi 20.000 rumah di Brisbane Australia
Ia menyebut setelah gangguan cuaca ini berakhir dalam tiga hingga empat hari ke depan, kondisi kemarau akan tetap berlangsung sampai beberapa minggu ke depan, ditandai penurunan curah hujan dan kekeringan.
“Kami imbau agar tetap waspada karhutla, memang secara umum hari ini hampir seluruh Kotim diguyur hujan, sehingga permukaan tanah cenderung basah. Tetapi, kondisi ini hanya berlangsung beberapa hari dan kita akan kembali ke kondisi kemarau. Adapun puncak kemarau diprediksi pada Agustus ini,” kata Mulyono.
