Bandung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menyatakan ketersediaan pangan dan bahan pokok di Jabar selama periode Ramadhan dan Lebaran 1446 Hijriah ini tercukupi, bahkan surplus.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat Adi Komar di Bandung, Minggu, mengatakan tercukupi dan bahkan surplusnya pangan dan bahan pokok di Jabar, terlihat dalam neraca pangan Provinsi Jabar, dari 12 komoditas pangan strategis yang hampir seluruhnya surplus.
Dari 12 komoditas strategis tersebut, hanya tiga komoditas yang sempat mengalami defisit, yaitu daging sapi atau kerbau, bawang putih, dan minyak goreng.
"Namun karena defisitnya relatif rendah bisa dipenuhi dari sumber lain hingga akhirnya surplus," kata Adi.
Baca juga: Kemenko Pangan dan Pemprov Jabar eksekusi penguatan ketahanan pangan mulai 2025
Baca juga: Komisi II DPRD Jabar dorong pemprov terus perkuat sektor perikanan jaga stabilitas pangan
Adi menjelaskan daging sapi, misalnya, defisit sebanyak 3 ton, bawang putih defisit 9 ton, dan minyak goreng defisit 44 ton.
"Namun kekurangan tersebut bisa dipenuhi dengan mendatangkan komoditas bersumber dari impor dan dari luar Provinsi Jabar," ujar dia.
Neraca pangan adalah gambaran kondisi pemenuhan kebutuhan dan ketersediaan pangan yang ada di Jawa Barat. Data neraca pangan didapat dari kabupaten/kota setiap tanggal 15 bulan berikutnya.
Ke-12 komoditas pangan strategis itu adalah bawang merah, bawang putih, beras, cabai besar, cabai rawit, dan daging ayam ras. Selain itu, daging sapi/kerbau, gula pasir, jagung, kedelai, minyak goreng, dan telur ayam ras.
Baca juga: Pj Gubernur sebut diversifikasi pangan untuk wujudkan kedaulatan pangan
Dari data Neraca Pangan Jawa Barat bulan Februari 2025, ke-12 komoditas pangan strategis tersebut surplus antara 1 hingga 87 ton, kecuali beras dan jagung yang surplus sebanyak 500 ribu ton.
Untuk perkembangan harga pangan strategis, kata dia, relatif stabil bahkan ada beberapa yang turun. Akan tetapi ada beberapa komditas yang mengalami kenaikan relatif tinggi bila dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Komoditas yang mengalami kenaikan itu cabai merah keriting lebih dari 58 persen, dan cabai rawit merah lebih dari 100 persen kenaikannya.