Batam (ANTARA) -  

Seorang nelayan perempuan Kampung Panglong, Desa Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, bersiap melaut, Kamis (13/3/2025). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Monika (53), salah satu nelayan perempuan dari suku laut Desa Berakit merasakan betul perubahan paradigma akan pentingnya menjaga hutan Mangrove.

Dahulu, kata dia, kala bekerja di dapur arang arang Kampung Panglong bersama ketiga anaknya, dia bisa memperoleh penghasilan harian untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, terutama ketika musim paceklik datang. Suaminya Top (63) yang pergi mengambil kayu bakau, dia dan kedua anaknya yang membakar di dapur arang.

“Kerja di dapur arang empat beranak. Kami kerja di darat, bapak nebang bakau. Satu ton kayu bakau baru dapat Rp 35 ribu. Sehari kapal bisa muat 2 sampai 2,5 ton,” kenang Monika kala dijumpai di Kampung Panglong, Kamis (13/3).

Sejak pemerintah melarang penebangan hutan bakau karena telah terjadi degradasi, dapur arang pun ditutup pada awal tahun 2000 tak lagi beroperasi. Masyarakat nelayan Desa Berakit pun pelan-pelan beralih tak lagi menebang hutan bakau, dan mengandalkan sepenuhnya melaut mencari ikan, kepiting, kerang dan teripang.

Dampak kerusakan hutan mangrove dirasakan oleh nelayan Desa Berakit. Melaut tak lagi semudah dulu; mereka harus menyeberangi laut lebih jauh untuk mendapatkan tangkapan bagus. Bahkan, beberapa nelayan memasuki perairan negara tetangga.

Belum lagi ketika musim angin Utara, beberapa nelayan tradisional berhenti melaut, dan beralih pekerjaan, ada yang berdagang, ada pula yang jadi kuli bangunan.

Menghadapi musim ini, peran istri tak hanya menjadi ibu rumah tangga. Beberapa perempuan Desa Berakit punya profesi ganda, ibu rumah tangga dan juga pekerja. Ada yang ikut melaut mencari teripang, atau gamat di padang lamun0, ada pula yang membuka usaha jualan kue, menjahit, dan menjadi guru.

Peran besar perempuan di Desa Berakit ini yang mendorong Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) turun mendampingi memberi edukasi, melatih keahlian baru dan mengadvokasi pentingnya pemanfaatan lingkungan pesisir dengan menjaga kelestarian.

Selain melaut mencari gamat dan umpan, perempuan Desa Berakit dilatih mencari bibit mangrove, menyemai dan menanam. Sejak Agustus 2024, gerakan ini telah mampu menyemai 50 ribu bibit mangrove yang siap ditanam pada April 2025 di 1 hektare kawasan mangrove yang terdegradasi.

Pelestarian mangrove

Gerakan menjaga mangrove Desa Berakit semakin kokoh sejak Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan kawasan konservasi perairan bagi wilayah timur Pulau Bintan dengan luasan keseluruhan 138.561,42 hektare pada tahun 2022.

Pergerakan perempuan Desa Berakit menjaga mangrove dengan prinsip keberlanjutan mendapat pengawalan dari Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) yang menggandeng Yayasan Ecology, lembaga swadaya masyarakat (NGO) lokal sebagai perpanjangan tangan di lapangan.

Tidak hanya menumbuhkan kesadaran pentingnya mangrove bagi ekologi dan ekosistem, perempuan Desa Berakit dilatih skill baru dalam memanfaatkan serta mengelola hutan bakau sebagai salah satu sumber perekonomian dengan prinsip lestari, lewat keterampilan membatik.

Yayasan Ecology dan Care Indonesia mulai mendampingi perempuan Desa Berakit sejak Agustus 2024, mereka dilatih mencari bibit, menyemai dan merawat bibit mangrove, untuk ditaham. Selain itu, mereka juga diajarkan keterampilan membatik ecoprint dan cap yang menggunakan pewarna alami terbuat dari batang pohon bakau.

Batik memiliki nilai jual tinggi, terlebih Desa Berakit tengah membangun ekowisata hutan mangrove. Kain baik yang dibuat oleh ibu-ibu Desa Berakit dapat dijadikan cinderamata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Puluhan kain batik motif bunga mangrove dengan warna yang teduh, telah dihasilkan oleh ibu-ibu Desa Berakit yang tergabung dalam Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Tenggiri dan KUEP Melati.

Rahima Zakia, Pendamping Kelompok Perempuan Yayasan Ecology mengatakan batik motif mangrove karya ibu-ibu Desa Berakit sudah pernah ditampilkan dalam kegiatan UMKM tingkat Kabupaten Bintan.

Saat ini tengah dijajaki kolaborasi antara Yayasan Ecology, Care Indonesia dan UMKM Betuah Etknik untuk memasarkan produk batik karya ibu-ibu Desa Berakit agar dikenal lebih luas lagi.

“Batik alami Desa Berakit berpotensi untuk dipasarkan ke Bali dan Singapura,” kata Rahima.

Baca juga: Sepenggal cerita perempuan Desa Berakit menjaga Mangrove dan keluarga
Baca juga: Polresta Bengkulu tanam 6.000 bibit pohon mangrove

 



Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor : Budi Setiawanto

COPYRIGHT © ANTARA 2026