Jakarta (ANTARA) - Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Mohammad Nuh menyatakan bahwa Kementerian Sosial (Kemensos) akan melakukan matrikulasi atau penyetaraan ilmu bagi siswa dan guru sebelum masuk Sekolah Rakyat.
"Sebelum mereka mulai sekolah yaitu pertengahan Juli 2025 saat tahun ajaran baru, sudah kita rekrut dulu siswanya untuk kita berikan matrikulasi paling tidak satu bulan sebelumnya. Jadi kita undang dulu, terima dulu, asramakan dulu, kita matrikulasi untuk menyiapkan standarnya, karena (kemampuan) itu kan bisa beda-beda," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan saat matrikulasi, siswa akan disiapkan dari segi kepercayaan diri, mentalitas, hingga social cohesiveness atau keterikatan sosial sehingga dalam kurun waktu satu bulan mereka siap menerima pelajaran.
Para guru yang lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) juga akan mendapatkan pelatihan dari Kemensos serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
"Para guru juga kita latih dulu, tidak bisa tiba-tiba diterima terus mengajar, tetapi kita latih dulu mereka setelah kita rekrut dari yang sudah lulus PPG-PPG itu," katanya.
Baca juga: Mensos sebut sudah banyak kisah sukses sekolah dengan asrama
Baca juga: Menteri Sosial ingin Sekolah Rakyat dibangun di Jember
Berbagai persyaratan untuk guru, antara lain mempunyai empati karena anak-anak Sekolah Rakyat perlu pendekatan kasih sayang dan dukungan motivasi.
"Dengan persyaratan-persyaratan tertentu, salah satu di antaranya yang sudah beberapa bulan lalu kami sampaikan, para guru ini harus punya empati sosial karena anak-anak ini perlu pendekatan kasih sayang dan dorongan motivasi yang lebih kuat lagi," ujar dia.
Ia mengatakan kepala sekolah juga akan direkrut terlebih dahulu karena mereka akan menjadi manajer proyek di setiap satuan pendidikan atau 53 titik lokasi, yang akan mulai beroperasi pada Juli 2025.
"Sekolah yang sudah ada dan Sekolah Rakyat itu saling melengkapi, saling menyempurnakan karena tujuannya sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memotong mata rantai kemiskinan," katanya.
Ia mengatakan Sekolah Rakyat tidak akan mengambil jatah murid dari sekolah umum yang sudah ada.
Baca juga: Mensos kunjungi SMA unggulan CT Arsa Sukoharjo untuk matangkan Sekolah Rakyat
"Kita tidak ingin saling meniadakan dengan sekolah yang existing (sudah ada) karena dikhawatirkan kehadiran Sekolah Rakyat ini bisa menggeser atau mengambil jatah murid dari sekolah sudah ada," ujarnya.
Ia mengatakan keberadaan Sekolah Rakyat dengan sekolah yang sudah ada saling melengkapi.
"Kita saling melengkapi sehingga tidak perlu ada kekhawatiran kehadiran Sekolah Rakyat ini menggusur atau mengambil alih murid-murid dari sekolah-sekolah yang sudah ada," katanya.
Ia mengatakan saat ini Kemensos bersama Kemendikdasmen sedang memetakan peta kemiskinan di 53 titik Sekolah Rakyat.
"Kita sedang memetakan di sekitar lokasi titik tadi itu, berapa jumlah total kemiskinan sesuai dengan strata usianya. Kalau usia SD-nya banyak, tentu juga nanti akan didirikan SD, tentu (menyasar) yang tidak sekolah," ucapnya.