Jakarta (ANTARA) - Ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari menjadikan kekalahan pada babak 16 besar BWF World Tour Super 300 German Open 2026 sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat fondasi permainan mereka ke depan.
Apriyani/Lanny harus mengakui keunggulan pasangan Jepang Kaho Osawa/Mai Tanabe dua gim langsung 13-21, 17-21 dalam pertandingan yang di Westenergie Sporthalle, Mülheim an der Ruhr, Jerman, Jumat WIB. Apriyani tak menampik kekecewaan atas hasil tersebut. Namun, ia menegaskan proses membangun chemistry sebagai pasangan baru menjadi fokus utama saat ini.
"Pasti ada rasa penyesalan, ada rasa marah, dan tentu ada rasa kesal dengan hasil hari ini. Tapi kami harus kembali melihat ini sebagai bagian dari proses kami berdua," ujar Apriyani dalam keterangan resmi PP PBSI di Jakarta, Jumat.
Ia mengingatkan kebersamaan mereka di turnamen internasional masih terbilang singkat. German Open menjadi turnamen ketiga yang mereka jalani sebagai pasangan.
"Saya dan Lanny memang baru menjalani beberapa pertandingan bersama, sejauh ini baru tiga turnamen. Jadi masih banyak hal yang harus kami benahi," katanya.
Dalam laga tersebut, peluang sebenarnya sempat terbuka, terutama pada gim kedua ketika Apriyani/Lanny unggul 15-10. Namun momentum itu gagal dipertahankan hingga akhirnya pasangan Jepang mampu menyamakan kedudukan 15-15 dan berbalik unggul 17-15.
Apriyani menyebut inkonsistensi dan kurangnya ketenangan dalam mengambil keputusan menjadi titik krusial yang perlu segera diperbaiki.
“Di momen itu kami kurang konsisten satu sama lain dan kurang tenang dalam mengambil keputusan. Jadi memang masih banyak proses yang harus kami jalani bersama sebagai pasangan,” ujarnya.
Senada dengan Apriyani, Lanny mengungkapkan hilangnya fokus saat sudah berada di atas angin. Menurut dia, perubahan ritme permainan lawan tidak mampu mereka respons dengan baik.
Baca juga: Tiwi/Fadia jaga asa Indonesia usai pastikan tempat di semifinal German Open 2026
Baca juga: Rehan/Gloria harus puas menjadi runner-up German Open 2025
“Di gim kedua sebenarnya dari awal kami sudah mendapatkan pola permainan dan sempat memimpin sampai 15-10. Tapi setelah itu kami terlalu lengah. Saat lawan mulai mengejar hingga menyamakan kedudukan, kami justru jadi bingung sendiri dan tidak bisa menjaga ritme permainan,” kata Lanny.
Ia pun menegaskan menjaga fokus dan ketenangan saat unggul menjadi pekerjaan rumah utama menjelang turnamen berikutnya.
