Istanbul (ANTARA) - Bicara negara Turki rasanya tidak bisa lepas dari imaji Masjid Hagia Sofia yang megah dan kokoh berdiri di jantung Kota Istanbul sejak 1.500 tahun silam.

Namun, ternyata Hagia Sofia tidak hanya berada di kota yang berada di antara dua benua itu saja, melainkan ada empat di Negara Tanah Kekaisaran tersebut.

Hagia Sofia (baca: Ayasofia), secara harafiah dalam Bahasa Yunani berarti “Kebijaksanaan Suci”. Sementara, jika melihat dari aspek signifikansi teologis Kekristenan awal, nama tersebut terkait erat dengan Yesus Kristus, yang ditetapkan sebagai hikmat Allah.

Di Turki, tercatat setidaknya ada empat bangunan yang berbagi nama yang sama. Selain di Istanbul (termasuk Little Hagia Sofia), terdapat pula Hagia Sofia di Iznik yang terletak di Provinsi Bursa, serta di Edessa yang terletak di Provinsi Sanliurfa nun jauh di tenggara.

ANTARA bersama AirAsia X dan Badan Pariwisata Turki (TGA) berkesempatan untuk mengunjungi dua di antaranya, yakni Hagia Sofia nan akbar di pusat Kota Istanbul, dan Hagia Sofia yang kaya akan sejarah di Iznik yang berada di bagian Asia dari Turki.

Salah satu bagian dari Masjid Hagia Sofia di Istanbul, Turki, Jumat (13/2/2026). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)

 

Masjid Agung Hagia Sofia Istanbul
 

Langit mendung yang menyelimuti Istanbul pada pekan awal bulan Februari serasa menyatu dengan warna abu dan cokelat pucat yang dominan pada bangunan Hagia Sofia.

Sejumlah pekerjaan pemugaran dan renovasi dapat terlihat di bagian luar Hagia Sofia yang begitu agung. Namun, hal itu tidak mengadang pengunjung untuk menyambangi bangunan yang dulunya merupakan gereja Kristen terpenting era Kekaisaran Romawi Timur itu.

Kawasan yang dibangun oleh Kaisar Justinian 15 abad yang lalu ini mudah dikenali dengan kubahnya yang besar, yang juga merupakan salah satu contoh paling awal penggunaan pendentif dalam dunia arsitektur.

Kemegahan Hagia Sofia pun semakin terasa ketika kita melangkahkan kaki ke dalamnya. Motif, pola, dan kaligrafi bernuansa Islami dapat ditemukan di atas kepala, hingga sejauh mata memandang.

Motif-motif tersebut merupakan babak baru dari Hagia Sofia, di mana Mehmed II mengubahnya dari gereja menjadi masjid. Meski tertutupi oleh pola Islam tersebut, sejumlah mosaik emas peninggalan Romawi Timur telah ditemukan kembali dan bertahan selama berabad-abad lamanya hingga kini.

Salah satu mosaik legendaris di dalam Hagia Sofia adalah Mosaik Deisis, yang masih bisa dilihat dengan jelas oleh para wisatawan di bagian atas atau museum bangunan.

Dalam seni Bizantium dan ikonografi Ortodoks Timur, “Deisis” adalah representasi ikonik tradisional Kristus dalam Kemuliaan yang diapit oleh Perawan Maria dan Santo Yohanes, dan terkadang santo atau malaikat lainnya.

Maria dan Yohanes, dan tokoh-tokoh lainnya, digambarkan menghadap ke arah Kristus dengan tangan terangkat berdoa untuk umat manusia.

Tidak mengherankan apabila decak kagum terus terdengar dari orang yang memandang mahakarya abad ke-6 tersebut. Bagaimana umat manusia begitu diberkati dengan rasa cinta kepada Tuhan dan menyalurkannya ke dalam bentuk seni yang tak lekang oleh masa.

Hagia Sophia pun terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985, sebagai bentuk nyata penghormatan terhadap selera seni dan arsitektur Romawi Timur dan Kekaisaran Ottoman.

Hagia Sofia beroperasi sebagai sebuah masjid sejak tahun 2020. Selain itu, bangunan ini juga menjadi salah satu proyek konservasi terbaru Turki, yang telah melakukan banyak penggalian arkeologi dan proyek restorasi untuk memastikan keberlanjutan warisan budayanya.

Pekerjaan terbaru berfokus pada kubah Hagia Sophia untuk membuatnya lebih tahan lama sekaligus mempertahankan bentuk aslinya, serta mencakup konservasi mosaik di permukaan interior kubah.  



Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026