Makassar (ANTARA) - Sejumlah anak muda di Kota Makassar, tepatnya di Jalan Labu Lorong, Kecamatan Bontoala, menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang bermanfaat dan bernilai guna.
Sampah yang selama ini menjadi masalah serius, diolah menjadi bernilai guna oleh tangan-tangan kreatif yang penuh kepedulian dalam menjawab persoalan lingkungan dan sosial.
"Ini kesadaran, kemauan, dan kreativitas masyarakat menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan krisis lingkungan yang dihadapi saat ini," ujar Darwin, salah satu penggagas pengolahan sampah, di Makassar, Rabu.
Dia menjelaskan bahwa karya pengolahan limbah plastik menjadi BBM tersebut telah lama ia rintis sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan.
Menurut Darwin, masa depan pengelolaan limbah di Indonesia sejatinya tidak hanya diuji di laboratorium teknologi hijau, melainkan di tangan manusia itu sendiri.
Darwin memaparkan bahwa proses pembuatan BBM dari sampah plastik dilakukan menggunakan instalasi sederhana berbasis drum besi dan memanfaatkan oli bekas sebagai bahan pembakar.
Sampah plastik yang telah dikumpulkan dimasak selama dua hingga tiga jam hingga menghasilkan cairan bahan bakar yang kemudian disuling.
"Sekitar 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter bahan bakar. Hasil pembakarannya bisa menjadi solar, dan setelah melalui proses penyulingan, bisa mendekati bensin setara premium," ungkap Darwin.
Dia menambahkan, penggunaan oli bekas menjadi salah satu solusi agar proses produksi tetap efisien dan ramah lingkungan. Satu liter oli bekas mampu digunakan untuk proses pembakaran hingga dua jam.
Adapun bahan baku plastik yang digunakan berasal dari berbagai jenis sampah plastik rumah tangga, seperti botol bekas, kantong kresek, kemasan kerupuk, dan jenis plastik lainnya.
Sampah tersebut diperoleh dengan cara meminta dari warga sekitar, hingga memungut langsung di kanal dan lingkungan sekitar.
"Ini memang difokuskan pada pengolahan sampah plastik secara umum, tidak terbatas hanya pada botol atau gelas plastik," ujarnya.
Darwin berharap, inovasi sederhana yang ia kembangkan dapat menjadi contoh kreativitas warga dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Ia juga menegaskan pentingnya peran negara dalam menghadirkan teknologi yang aman, kebijakan yang adil, serta sistem pengelolaan limbah yang mampu melindungi kesehatan publik dan kelestarian lingkungan hidup.
"Inovasi kami warga tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah harus hadir dengan regulasi, pendampingan, dan sistem yang memastikan pengelolaan limbah berjalan aman dan berkelanjutan," ujarnya.
Perhatian pemerintah
Inovasi tersebut mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang mengunjungi lokasi peleburan sampah plastik menjadi BBM di Jalan Labu Lorong, Kecamatan Bontoala.
Kunjungan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap kreativitas generasi muda dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan.
Di lokasi tersebut, Munafri Arifuddin menyaksikan secara langsung proses pengolahan sampah plastik yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar, kemudian dilebur melalui teknologi sederhana hingga menghasilkan bahan bakar yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Inovasi ini tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah plastik, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi serta manfaat sosial bagi warga," ujar Munafri.
Wali Kota yang akrab disapa Appi itu menilai, inisiatif warga dan anak muda ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan, berbasis partisipasi masyarakat, dan ramah lingkungan.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
"Inovasi seperti ini harus kita dorong dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dampingi. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kepedulian, kreativitas, dan keberanian anak muda mengambil peran dalam menyelesaikan masalah kota," jelasnya.
Lebih lanjut, Appi menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Makassar, membuka ruang kolaborasi bagi para inovator lokal agar karya-karya serupa dapat dikembangkan lebih luas dan berkelanjutan.
Dukungan tersebut, kata dia, dapat berupa pendampingan teknis, penguatan kelembagaan, hingga akses kemitraan agar inovasi yang lahir dari masyarakat bisa memberikan dampak lebih besar.
Munafri juga berharap, inovasi pengolahan sampah plastik menjadi BBM ini dapat direplikasika di wilayah lain di Kota Makassar.
"Selain membantu mengurangi pencemaran lingkungan, langkah tersebut dinilai mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah sejak dari sumbernya," katanya.
Sementara itu, warga penggagas peleburan sampah plastik termotivasi untuk terus mengembangkan inovasi tersebut setelah mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Makassar.
Darwin dan kawan-kawannya berharap, ke depan pengelolaan sampah berbasis inovasi lokal dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mendukung inovasi anak muda sebagai motor penggerak perubahan, khususnya dalam mewujudkan kota yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing melalui solusi-solusi kreatif dari masyarakat sendiri.
