Cirebon (ANTARA) - Ada sekelumit kisah dari generasi muda di Cirebon, Jawa Barat, yang memulai langkah kecil untuk menyambung suara.
Mereka bertutur dengan gestur, mengajak khalayak lebih peka, mengerti, dan bersikap manusiawi terhadap teman tuli.
Pada Jumat (25/7) siang, sinar matahari menyelinap melalui celah pintu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pancaran Kasih Kota Cirebon.
Di sebuah ruangan bercat pudar, tiga orang duduk saling berhadapan. Tak banyak suara, namun percakapan mereka begitu hidup.
Saat itu tangan Felicia Tendi (24) bergerak lincah di depan wajahnya. Jemarinya membentuk simbol dengan gerakan cepat, kadang melambat ketika hendak menekankan sesuatu.
Saat ditemui ANTARA, perempuan yang akrab disapa Caca itu, kembali mengingat suasana kelas saat ia masih bersekolah.
Caca tumbuh sebagai tuli di lingkungan dengar. Sejak kecil, ia mengenyam pendidikan di sekolah umum tanpa adanya juru bahasa isyarat (JBI) atau pendamping.
Di dalam kelas, ia hanya bisa menatap ke depan tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dijelaskan guru.
“Tanya ke teman nggak bisa. Malah dibully,” ungkapnya dalam bahasa isyarat.
Di rumah, ia menghadapi batas. Orang tuanya tidak menguasai bahasa isyarat, sehingga komunikasi seringkali hanya searah.
Seiring waktu, ia lebih banyak menulis pesan di ponsel atau menggunakan gestur visual seadanya.
Namun, dari keterbatasan itulah lahir tekad kuat. Caca ingin teman tuli bisa tumbuh dalam ruang yang inklusif.
Setara
Pada Desember 2023, Caca terpilih sebagai Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Cirebon. Sebelumnya, organisasi tuli ini belum memiliki kepengurusan di kota tersebut.
Bersama pengurus lain, ia menyusun agenda kerja yang berfokus pada pemberdayaan, pelibatan tuli serta menyosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dalam ruang publik.
Bisindo mudah dipahami, karena mengandalkan gerak lengan dan wajah ekspresif untuk berkomunikasi.
“Kami ingin teman dengar juga bisa isyarat. Supaya kami setara, bisa saling memahami,” katanya.
Selain aktif di Gerkatin, Caca kini mengajar di SLB Pancaran Kasih sebagai guru bahasa isyarat. Baginya, profesi ini adalah jalan yang sangat personal.
Ia sangat gembira menyaksikan orang tua menjalin hubungan lebih dalam dengan anak tuli. Bahkan beberapa mulai belajar Bisindo agar bisa bercakap dari hati ke hati.
Semangat serupa menyala dalam diri Daffa Naufal Novriansyah (20). Pemuda tuli ini kini menjabat Ketua Gerkatin Kabupaten Cirebon.
Ia bersama rekannya aktif menginisiasi kerja sama dengan pemerintah daerah, termasuk dengan Disnaker, untuk membuka peluang kerja bagi teman tuli.
Saat ini ia tengah menempuh semester tiga di jurusan Teknologi Pendidikan. Tujuannya jelas yakni membuktikan seorang tuli bisa setara, asal diberi akses dan kesempatan yang sama.
“Sekarang saya aktif jadi pengajar Bisindo (di SLB Pancaran Kasih),” katanya, ditranslasi pelan oleh JBI.
Tak harus lisan
Bagi sebagian besar masyarakat, berobat ke fasilitas kesehatan (Faskes) adalah perkara biasa. Namun bagi teman tuli, masuk ke Faskes justru memicu rasa takut. Sebab, mereka tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana caranya.
Kegundahan yang mengakar itu tidak dibuat-buat. Beberapa teman tuli, bahkan enggan berobat, sebagian lainnya memilih minum obat dari warung.
“Teman-teman tuli bahkan enggan berobat, takut mati,” ujarnya.
Di faskes bisanya pelayanan bersandar pada tanya-jawab verbal yang cepat. Di situ, tak ada tempat bagi bahasa isyarat.
Situasi ini menciptakan jurang ketimpangan. Orang dengar bisa dengan mudah menjelaskan keluhan, memahami resep, dan bertanya ulang jika bingung. Sedangkan teman tuli, harus menebak maksud dari petugas atau berharap ada catatan tertulis yang mudah dipahami.
Daffa menilai, perlu adanya ruang untuk menjamin hak teman tuli dalam mengakses layanan kesehatan.
Maka dari kegelisahan bersama itu, sebuah ide muncul untuk merintis program Teman Dengar.
Berawal pada 2023, Gerkatin bersama SLB Pancaran Kasih, mengajak BPJS Kesehatan untuk mengadakan forum yang mempertemukan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan teman tuli.
Waktu itu, topik yang mencuat adalah kegelisahan teman tuli dalam mengakses layanan kesehatan.
Meski Daffa sudah terdaftar sebagai peserta JKN, tetapi banyak teman tuli lainnya belum terlindungi.
BPJS Kesehatan Cirebon menyambut baik. Lewat pelatihan bersama, petugas frontliner mulai diajarkan dasar-dasar Bisindo.
“Mulai dari situ, akhirnya BPJS, bikin program untuk frontliner mereka agar bisa berbahasa isyarat,” ujar Damon Alam Fardianshah Nasution, guru sekaligus JBI di SLB Pancaran Kasih.
Ia mengatakan teman tuli dilibatkan penuh untuk menyusun materi ajar dalam pelatihan ini. Sementara dirinya, bertugas menjembatani komunikasi.
Dalam beberapa sesi pelatihan, frontliner BPJS Kesehatan mulai mampu menyapa, menanyakan nama, menjelaskan alur pelayanan dalam Bisindo dasar.
Tidak sempurna memang, tapi cukup untuk membuat teman tuli merasa diterima.
Menurutnya belajar Bisindo tidak sulit, tetapi butuh praktik. Sebab, bahasa ini mengandalkan interaksi visual yang peka terhadap gestur dan ekspresi.
Salah senyum saja bisa dimaknai berbeda. Maka keramahan menjadi hal penting dari komunikasi melalui bahasa ini.
Inklusi
Dulu, Nur Linda hanya bisa tersenyum kikuk setiap kali teman tuli datang ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Cirebon. Ia tak tahu harus berkata apa, apalagi memahami maksud mereka.
Sejak ada program Teman Dengar, situasinya berubah. Kini, sapaan sederhana lewat bahasa isyarat sudah jadi bagian dari rutinitasnya. Misalnya ungkapan “selamat pagi”, “terima kasih” dan “sampai jumpa”.
Linda sebenarnya bukan JBI, melainkan seorang satpam wanita. Selain bertugas menjaga keamanan, kini dia menjadi bagian dari pelayanan yang inklusif.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Cirebon Adi Darmawan menuturkan program ini adalah upaya mewujudkan pelayanan kesehatan yang mudah, cepat, dan setara bagi seluruh peserta JKN.
Banyak teman tuli ingin menjadi peserta JKN, tetapi masih khawatir tidak ada yang bisa memahami cara berkomunikasi mereka saat datang ke Faskes.
Untuk itu, dalam program Teman Dengar, pihaknya menghadirkan inovasi berupa tools atau perangkat bantu menggunakan Bisindo.
Pada praktiknya, petugas frontliner memakai isyarat dasar, gambar bergerak, dan video berbahasa isyarat untuk memudahkan penyampaian informasi kepada teman tuli.
Sejak diluncurkan pada Februari 2024, program ini telah diakses 20 peserta, baik langsung oleh teman tuli maupun keluarganya untuk mendapatkan informasi cara mendaftar JKN hingga prosedur pemanfaatan layanan.
Selain itu, peserta JKN dari teman tuli berhak mendapatkan manfaat berupa alat bantu dengar, asalkan memenuhi prosedur yang berlaku.
Adi mencontohkan saat ini, ada tiga teman tuli peserta JKN di Kabupaten Cirebon yang sudah mendapatkan bantuan tersebut.
Fasilitas ini diharapkan bisa membantu anak tuli yang sedang menempuh pendidikan, agar lebih mudah dalam menyerap pelajaran dan berkomunikasi.
Pihaknya pun rutin menggandeng Gerkatin dalam pelatihan alfabet isyarat dan simulasi pelayanan, sesuai kebutuhan teman tuli.
Terbaru, sebanyak 58 perwakilan dari Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) turut dilibatkan dalam kegiatan Sosialisasi Teman Dengar JKN yang difokuskan pada bahasa isyarat dalam pelayanan publik.
Ia optimis program Teman Dengar yang pertama kali dimulai di Cirebon, dapat diadopsi oleh kantor cabang BPJS Kesehatan lainnya di Jawa Barat, bahkan secara nasional.
Sementara itu, Kota Cirebon berhasil mencapai cakupan Universal Health Coverage (UHC) penuh, dengan seluruh 356.629 penduduknya menjadi peserta aktif JKN dari data per 1 Juli 2025.
Kabupaten Cirebon pun menyusul, dengan cakupan 97,5 persen atau sekitar 2,4 juta jiwa sebagai peserta JKN.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo menyebut di balik angka itu, terselip semangat untuk memastikan semua warga, termasuk difabel, bisa mengakses hak dasar mereka.
Pemerintah daerah menegaskan Cirebon sedang menuju kota ramah difabel, dengan menghadirkan layanan publik yang setara untuk semua.
