Kabupaten Bogor (ANTARA) - Bupati Bogor, Jawa Barat, Rudy Susmanto memastikan seluruh warga terdampak pergeseran tanah di Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, tidak lagi tinggal di tenda pengungsian dan mendapatkan uang sewa hunian sementara yang lebih aman.

Rudy mengatakan langkah pertama yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor adalah menyelamatkan warga dengan memastikan mereka segera meninggalkan lokasi rawan bencana.

“Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Hari ini kami pastikan tidak ada lagi warga yang bermalam di tenda pengungsian,” ujar Rudy saat meninjau lokasi bencana di Bogor, Jumat.

Ia menjelaskan pergeseran tanah yang terjadi pada Kamis (29/1) di Desa Pabuaran berdampak pada sekitar 60 Kepala Keluarga (KK). Sebanyak 38 rumah mengalami rusak berat, sementara sisanya berada di zona tanah yang masih bergerak sehingga dinilai tidak aman untuk dihuni.

Baca juga: BPBD Bogor sebut pergeseran tanah di Bojongkoneng rusak 15 rumah warga

Untuk penanganan darurat, lanjutnya, Pemkab Bogor menyiapkan bantuan sewa rumah sementara sebesar Rp750 ribu per bulan per KK selama enam bulan. Bantuan tersebut dibayarkan sekaligus menggunakan pos anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Biaya sewa rumah kami bayarkan untuk enam bulan pertama, agar warga bisa segera tinggal di tempat yang aman dan layak,” kata Rudy.

Selain relokasi sementara pihaknya juga menyalurkan bantuan logistik berupa sembako kepada warga terdampak. Pemkab Bogor berkoordinasi dengan Bank BJB  mempercepat proses administrasi pencairan bantuan, termasuk membuka layanan hingga akhir pekan.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Bogor Ade Hasrat menyebutkan pergeseran tanah tidak hanya terjadi di Sukamakmur, tetapi juga wilayah lain di Kabupaten Bogor.

Baca juga: Polisi pastikan tak ada korban dalam peristiwa bencana pergeseran tanah di Bogor

“Ada tiga lokasi kejadian, yaitu di Sukamakmur, Tenjo yang terjadi di dua desa, serta Megamendung. Total ada 77 KK yang menerima bantuan,” kata Ade.

Ia menjelaskan pergerakan tanah di Sukamakmur dan Tenjo memiliki karakteristik yang sama, sedangkan kejadian di Megamendung berupa longsoran dan hanya berdampak pada satu rumah.

Menurut Ade, BPBD bersama tim ahli geologi telah melakukan kajian terkait penyebab bencana. Hasil kajian menunjukkan bahwa wilayah terdampak memang memiliki struktur tanah yang labil dan kejadian serupa telah berulang dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini kejadian berulang. Tahun 2024 sudah pernah terjadi, kemudian pada 2025 kembali terjadi di lokasi yang sama,” ujarnya.

Baca juga: Menyolusikan daerah rawan bencana pergeseran tanah di Kabupaten Bogor

Selama masa relokasi sementara enam bulan, kata dia, pemkab akan menyiapkan opsi penanganan lanjutan, mulai dari relokasi permanen hingga relokasi mandiri, dengan tetap mempertimbangkan hasil kajian teknis dan persetujuan warga.

“Yang terpenting sekarang warga selamat dan tinggal di tempat yang layak. Dalam masa enam bulan itu, kami akan rumuskan solusi terbaik bersama pemerintah daerah dan masyarakat,” kata Ade.



Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026