Jakarta (ANTARA) - Katadata Insight Center resmi meluncurkan laporan utama Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 dalam rangkaian acara IDE Katadata Future Forum di Djakarta Theatre, Jakarta, bertemakan "Adapting to What Comes Next".

Riset komprehensif ini dihadirkan untuk membedah kondisi terkini serta peta lanskap kelompok kelas menengah di tanah air yang tengah menghadapi tantangan ekonomi signifikan.

Co-founder dan CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra dalam keterangannya, Kamis, menyampaikan harapannya agar riset KIMCI edisi kedua ini mampu menjadi acuan krusial bagi para pemangku kepentingan.

Metta menekankan bahwa kelompok kelas menengah merupakan kunci perubahan bagi negara dan masyarakat, sehingga pemahaman terhadap dinamika mereka menjadi sangat penting.

Metta juga menyoroti tren penurunan jumlah kelas menengah yang cukup tajam berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Jika pada 2019 proporsi kelas menengah berada di angka 21,5 persen, jumlah tersebut menyusut hingga menjadi 16,9 persen pada 2024.

Fenomena ini berbanding terbalik dengan golongan menuju kelas menengah (aspiring middle class) yang justru meningkat hingga mencapai 48,8 persen pada periode yang sama.

Situasi ini menjadi alarm bagi target jangka panjang nasional, mengingat Bappenas pernah memproyeksikan Indonesia berpeluang menjadi negara maju pada 2045 hanya jika proporsi kelas menengah mampu menyentuh angka 70 persen dari total populasi.

Padahal, peran kelompok ini sangat vital karena menyumbang 81,5 persen dari total konsumsi rumah tangga, yang mana sektor konsumsi sendiri merupakan motor utama penggerak Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan kontribusi sebesar 58,8 persen.

Menyambung paparan tersebut, Vice President Finance & Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, mengungkapkan temuan menarik mengenai strategi bertahan hidup kelompok ini.

Ivan menyebutkan bahwa bagi kelas menengah saat ini, mengandalkan satu sumber pendapatan saja tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian finansial.

Menurutnya, memiliki pekerjaan sampingan kini bukan sekadar mencari penghasilan tambahan, melainkan telah menjadi lapisan pengaman atau safety net dalam membangun strategi hidup yang lebih adaptif terhadap ketidakpastian.

Ivan juga menambahkan adanya pergeseran pola konsumsi yang menjadi lebih bijak.

Kelas menengah kini tidak lagi semata-mata menjadikan harga murah sebagai tolok ukur utama dalam berbelanja, melainkan lebih mengedepankan nilai atau manfaat jangka panjang dari produk yang mereka beli.

Senada dengan hal tersebut, Research Analyst Katadata Insight Center, Kholis Dana P., menekankan pentingnya peran kebijakan publik dalam menjaga eksistensi kelompok ini.

Kholis berpendapat bahwa pemerintah perlu mengintervensi melalui pengendalian biaya hidup, menjaga daya beli, serta memperluas akses lapangan kerja dan perlindungan sosial yang adaptif.

Ia menegaskan bahwa kebijakan bagi kelas menengah seharusnya tidak hanya berfokus pada perlindungan, tetapi juga memastikan mereka tetap mampu tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan terhadap ekonomi nasional.

Sebagai salah satu solusi praktis yang terekam dalam riset KIMCI, kelas menengah mulai banyak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas. Penggunaan teknologi ini mencakup upaya mencari informasi, mempelajari keterampilan baru, hingga membantu penyelesaian pekerjaan profesional agar tetap kompetitif di tengah impitan ekonomi.

Laporan mendalam mengenai perilaku konsumsi hingga sentimen ekonomi ini kini telah dapat diakses oleh publik melalui laman resmi databoks.katadata.co.id.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026