Jakarta (ANTARA) - Pendiri Artificial Intelligence Implementation Initiative (A3I) Sony Subrata menyatakan pemreintah harus mempunyai strategi nyata dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) jika ingin bersaing dengan negara-negara lain di era digital
Negara-negara maju, katanya di Jakarta, Jumat, telah menyiapkan strategi konkret dalam membangun ekosistem AI, tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga investasi di bidang infrastruktur, pendidikan, serta insentif untuk sektor swasta.
"Jika Indonesia ingin bersaing di era digital, maka strategi serupa harus segera diimplementasikan," ujar Sony.
Menurut Komisaris Semen Indonesia Group (SIG) itu, keterlambatan dalam mengadopsi AI akan memperbesar kesenjangan ekonomi dan teknologi dengan negara-negara lain.
Salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan implementasi AI adalah sumber daya manusia yang siap beradaptasi dengan teknologi ini.
Di berbagai negara maju, pelatihan AI sudah menjadi bagian dari kurikulum di sekolah dan universitas, sedangkan di Indonesia, edukasi terkait AI masih sangat terbatas.
"Kita perlu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan AI. Tanpa tenaga kerja yang siap, AI hanya akan menjadi teknologi yang digunakan oleh segelintir orang, sementara yang lain tertinggal," katanya.
Baca juga: Kecerdasan buatan jadi kekuatan transformasi inklusif
Baca juga: Italia tutup akses ke DeepSeek aplikasi AI asal China karena masalah privasi