Jakarta (ANTARA) - Danone SN Indonesia mendorong edukasi gizi
lengkap untuk mendukung anak tumbuh tinggi dan cepat tanggap.
Dokter Spesialis Gizi, dr. Juwalita Surapsari, dalam keterangannya, Selasa menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya sebatas memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga harus memperhatikan keseimbangan antara nutrien makro dan mikro secara optimal.
Menurut beliau, orang tua memegang peran sentral dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi
anak, waktu pemberian makan, serta pola makan yang diterapkan di rumah.
“Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ungkap dr. Juwalita.
Lebih lanjut, dr. Juwalita menjelaskan bahwa pada periode emas pertumbuhan anak usia 1–5
tahun, terdapat kebutuhan nutrien makro dan mikro yang harus terpenuhi secara seimbang.
Pemilihan bahan makanan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pada tahap usia
tersebut.
Beberapa mikronutrien penting yang dibutuhkan anak antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak.
Selain aspek nutrisi, dr. Juwalita juga menekankan pentingnya stimulasi sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak.
Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas
sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, maupun bermain bersama.
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menegaskan bahwa tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kuantitas asupan, tetapi juga kualitas serta kelengkapan nutrisinya.
Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap.
Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta
berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya.
Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting. Dalam kondisi tertentu, dukungan dari asupan padat gizi seperti susu fortifikasi yang mengandung protein, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, dan Omega-3 dapat
membantu melengkapi kebutuhan harian anak sebagai bagian dari pola makan seimbang,” ujar
Dr. Ray.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa hasil riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition
Association (INA) menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengkonsumsi susu terfortifikasi zat
besi, delapan kali lebih banyak anak yang tercukupi kebutuhan zat besinya dan anak dengan
cukup zat besi terbukti 20 persen lebih tinggi” ujar Dr. Ray.
Beliau menambahkan bahwa pada usia dini,
kebutuhan nutrien anak meningkat pesat, sementara kapasitas konsumsi makanannya masih
relatif terbatas. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang padat gizi (nutrient-dense foods),
termasuk susu fortifikasi, menjadi langkah strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan
nutrisi harian anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang dan beragam.
Sementara itu, Dhea Ananda, Ibu sekaligus Figur Publik, turut membagikan pengalamannya dalam menghadapi tantangan anak yang cenderung selektif terhadap makanan.
Ia mengakui bahwa di balik harapan setiap orang tua agar anak tumbuh optimal, masih terdapat kesenjanganantara ekspektasi dan praktik sehari-hari.
“Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak tumbuh
tinggi, berat badannya ideal, dan kemampuan kognitifnya berkembang dengan baik. Itu
biasanya menjadi indikator utama yang kita lihat," katanya.
