Aceh Tengah (ANTARA) - Pada tahun 1956, sastrawan Ali Akbar Navis atau yang lebih dikenal dengan nama penanya AA Navis menggebrak panggung sastra Indonesia lewat cerita pendeknya berjudul Robohnya Surau Kami.
Cerpen ini kemudian menjadi salah satu karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia dan menjadi perbincangan hingga saat ini.
Robohnya Surau Kami kini berusia 60 tahun, namun terus menjadi bahan refleksi dan diskusi baik di panggung akademisi atau dialog-dialog komunitas sastra.
Mengapa cerpen itu bisa relevan hingga masa kini? Satu kesimpulan yang pasti, AA Navis berhasil memotret wajah Indonesia di masa tersebut dengan penuh kegetiran.
Robohnya Surau Kami bercerita mengenai kisah seorang muadzin di sebuah surau kecil yang dipanggil kakek.
Kakek selama hidupnya selalu berbuat lurus mengikuti ajaran agama Islam. Tak pernah meninggalkan shalat. Berbuat jahat kepada sesama pun tak pernah dilakukan oleh kakek.
Problema muncul ketika Ajo Sidi membual bahwa surga belum tentu jadi milik kakek meski sudah taat beribadah dan membaktikan seluruh hidupnya sebagai penjaga surau.
Bualan itu menggentayangi pikiran kakek hingga membuatnya menggorok leher karena tak kuasa menahan realitas semu karangan Ajo Sidi.
AA Navis sepertinya mengkritisi lanskap sosial pada masa tersebut mengenai fanatisme beragama hingga melupakan tanggung jawab sosial.
Isu yang diangkat sastrawan asal Padang ini masih relevan hingga masa kini. Bagaimana manusia mencari eksistensinya untuk mendekatkan diri dengan tuhan.
Potret tersebut diamini oleh Imam Hamka, penyintas bencana banjir Sumatera.
Tanpa memproklamirkan dirinya berilmu, seperti kebanyakan orang-orang masa kini yang ingin bereksistensi dengan pamer pengetahuan di media sosial, Imam Hamka memilih jalan sunyi. Jalan sunyi bernama pengabdian.
Imam Hamka dan surau
Air bah membawa gelondongan-gelondongan kayu yang meluluhlantakkan separuh kampung Toweren Uken, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Marabahaya itu terjadi pada 25-30 November 2025.
Toweren Uken yang terkenal akan keindahan pemandangan ala negeri Swiss karena bentangan alam yang berbukit dan berdampingan tepat Danau Lut Tawar kini porak poranda. Bongkahan kayu terhampar luas sejauh mata memandang.
Di antara bongkahan kayu tersebut ada yang tetap berdiri kokoh, Surau Miftahkul Jannah, yang terletak tepat di depan Kantor Reje, Toweren Uken, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Hari ini sebagaimana hari-hari yang lain, Pak Imam mengambil saf paling depan mengimami jamaah menunaikan shalat dzuhur.
Selepas shalat, Imam kemudian memegang sapu dan pel untuk membersihkan kerak lumpur yang membandel di surau yang telah berdiri di kampung ini sejak tahun 1980.
Pria yang telah menginjak usia 50 tahun ini telah menjadi imam surau itu sejak tiga tahun lalu.
Meski banjir datang memporakporandakan kampung, itu tak mengurungkan niat Imam untuk tetap menjaga surau Miftahkul Jannah.
Imam menceritakan bahwa perlu waktu lebih dari dua pekan untuk bisa mengeruk endapan lumpur yang tebalnya sekitar 1,5 meter yang menimbun surau.
Pengerukan itu dilakukan bersama dengan relawan dan menggunakan proses manual karena kondisi akses jalan yang sulit dilalui alat berat.
“Jadi kami sebelumnya menunggu air surut baru bergotong-royong bersama rakyat dan relawan dari bermacam daerah membantu kami di sini,” kata Imam kepada ANTARA.
Surau Miftahkul Jannah mempunyai luas sekitar 10x10 meter, berdiri kokoh tanpa secuil pun bangunan utama yang roboh.
Bangunan yang hanyut adalah tempat wudhu dan tempat kamar mandi umum. Tempat perempuan mengaji yang terletak di samping bangunan utama surau rusak parah dengan salah satu tiang penyangga utama bangunan hanyut.
Namun untuk alat-alat ibadah seperti sarung, sajadah, mukena hingga Al-Quran sudah hanyut tak tersisa. Ada beberapa alat-alat ibadah yang terendam dan sudah tidak bisa digunakan lagi.
“Jadi adalah kawan-kawan kami yang sudah membantu memberikan alat ibadah,” ungkap Imam.
Ke depannya, Imam berharap ada bantuan untuk bisa membangun kembali kamar mandi dan tempat wudhu.
Kini menyambut bulan suci Ramadhan, surau Miftahkul Jannah tengah bersiap dengan menyelenggarakan pengajian dan tadarusan yang rutin digelar setiap tahunnya.
Bencana banjir tak menyurutkan keimanan masyarakat kampung Toweren Nuken menyambut bulan suci.
Kini surau Miftahkul Jannah, yang menjadi saksi bisu terjadinya tragedi, terbuka tangannya menerima siapa pun orang yang hendak beribadah di sana.
Kisah Imam dan surau Miftahkul Jannah adalah secuil refleksi keteguhan keimanan meski baru saja mendapat ujian berat. Mereka menolak roboh dan tetap berdiri kokoh di tengah cobaan.
Kerusakan di Aceh Tengah
Dalam data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, sebanyak 14 kecamatan dan 295 kampung di Kabupaten Aceh Tengah terdampak bencana.
Kerusakan rumah begitu signifikan dengan jumlah sebesar 4.426 unit rumah rusak. Sedangkan di sektor infrastruktur tercatat 306 ruas jalan, 179 titik jembatan, dan 130 jaringan irigasi rusak parah.
Fasilitas umum yang terdampak yakni 4 unit kantor, 124 rumah ibadah, 72 sekolah, 12 pondok pesantren, 8 puskesmas, 81 poliklinik desa.
Saat ini bantuan berangsur diberikan baik oleh pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten kepada penyintas bencana yang terdampak di Aceh Tengah.
Sebagian masyarakat penyintas bencana juga memutuskan untuk kembali ke rumah karena merasa kondisi sudah cukup aman sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.
