Pidie Jaya (ANTARA) - Debu jalanan masih menguar menyesaki mata, ketika mobil Palang Merah Indonesia (PMI) berhenti di ruas jalan simpang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh.
Tak lama kemudian, turunlah Firdaus, Aidil Azhar dan Zikra Wahyuni yang bergegas mempersiapkan selang air. Petang sudah matang, mereka harus secepat mungkin memberi air bersih kepada para warga di pinggir jalan yang cukup lama merajut sabar, menantikan kehadiran mereka bertiga.
Relawan PMI yang menginjak generasi Z ini, kemudian menyalakan pompa dan bergegas memenuhi drum-drum para warga.
Alir air bersih masih sulit diperoleh di Pidie Jaya. Genang lumpur mengubur sumur.
Mengakali untuk menggali endapan, rasanya cuma jadi secuil harapan. Takut sia-sia tak ada mata air atau juga tidak ada daya untuk bisa sewa mata bor. Warga, hingga kini kesusahan untuk melepas dahaga.
Kehadiran Firdaus dan kawan-kawan inilah yang menjadi harapan bagi mereka demi bisa memperoleh satu dua drum air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Beruntung akses jalan sudah terbuka dibanding dengan kondisi tiga bulan lalu, tepatnya 25-30 November, kala Pidie Jaya diterjang banjir penuh malapetaka.
Firdaus mengatakan bahwa semua titik, kini sudah bisa diakses dengan mobil tangki air PMI. Kondisi itu memudahkannya untuk bisa secepat mungkin memberi suplai air kepada para penyintas bencana.
Susah air
Salah seorang warga terdampak Abdul Ghani mengaku telah kesulitan air bersih selama tiga bulan, semenjak daerahnya dilanda bencana banjir.
Untuk keperluan sehari-hari, Abdul Ghani hanya bisa berharap asupan air bersih yang diberikan oleh PMI.
“Ada orang lain, kadang dia kasih air bersih, sikit dia kasih. Tapi alhamdulillah beberapa kali saya jumpa PMI, selalu dia kasih dua tong tiga tong,” kata Abdul Ghani kepada ANTARA, Senin.
Air bersih tersebut digunakan pria paruh baya yang kini menginjak usia 64 tahun ini untuk mencuci beras, minum, dan berwudhu.
Sementara untuk kebutuhan dasar penggunaan air, seperti mandi, mencuci pakaian, buang air kecil, dan buang air besar, Abdul Ghani harus berjalan ke toilet umum yang terdapat di posko pengungsian.
“Yang paling penting digunakan mencuci beras. Kami kemudian masak airnya untuk minum, kan? Kami tidak gunakan untuk kemudahan lain, paling kami pakai untuk berwudhu saja. (Kebutuhan) yang lain enggak, cuci kain, cuci piring itu nggak kami, Pak. Mandi pun kami nggak,” ucap Abdul Ghani.
Suplai air bersih yang diberikan, menurut Abdul Ghani, masih terbilang belum mencukupi untuk dirinya yang kini beranggotakan istri, tiga orang anak, dan enam orang cucu.
Sumur Abdul Ghani, saat ini sudah tidak dapat dimanfaatkan seperti sedia kala, setelah tertimbun genangan lumpur.
Kondisi serupa juga dialami oleh Muammar Reza Pahlevi yang sumurnya juga tertimbun endapan lumpur.
Muammar, hingga kini juga belum mempunyai sumur dan kamar mandi. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti mandi, Muammar memanfaatkan toilet umum yang terdapat di kantor kecamatan.
“Ya, selama tiga bulan ke sana, karena di rumah pun belum ada toilet ya, kamar mandi itu belum ada, belum bisa digunakan,” ujar Muammar.
Pasokan air
Setiap harinya, Firdaus akan memasok air lebih dari 5.000 liter untuk bisa memastikan pasokan kebutuhan air bersih kepada warga yang terdampak bencana di kecamatan Meurah Dua.
Firdaus menjelaskan telah menyuplai air bersih pada penyintas banjir, sejak lima hari pascabanjir Sumatera pada November 2025.
Tergerak akan rasa kemanusiaan, pria berusia 25 tahun tersebut kemudian mendaftarkan diri sebagai sukarelawan dari PMI.
“Kalau saya baru-baru sekarang karena musibah, jadi tergerak untuk saling membantu masyarakat, kebetulan saya juga dari Pidie Jaya, cuman daerah saya, alhamdulilah tidak terdampak separah daerah sini,” ujar Firdaus.
PMI, per Minggu (15/02), total telah mendistribusikan sebanyak 2.541.000 liter air bersih di wilayah Kabupaten Pidie Jaya.
Distribusi air tersebut telah menjangkau Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, Trieng Gadeng, Bandar Dua, Ulim, dan Jangka Buya.
Lewat distribusi air bersih tersebut, setidaknya telah menyentuh total 15667 penyintas bencana di Pidie Jaya yang kesulitan memeroleh air bersih.
Salah satu layanan prioritas yang diberikan oleh PMI adalah pemenuhan kebutuhan air bersih melalui layanan water, sanitation and hygiene (WASH).
Saat ini, PMI Pidie Jaya mempunyai kapasitas produksi air bersih harian mencapai sekitar 40.000 hingga 50.000 liter per hari.
Kebutuhan akan air bersih masih menjadi persoalan mendasar yang belum terurai, hingga memasuki bulan ketiga pascabanjir Sumatra.
Selain Kabupaten Pidie Jaya, terdapat dua wilayah lain di Provinsi Aceh, yakni Aceh Utara dan Aceh Tamiang, yang masih diterpa masalah kesulitan air bersih karena aliran sungai maupun sumur yang biasanya menjadi suplai air bersih belum bisa berfungsi kembali.
Muammar dan Abdul Ghani berharap permasalahan pasokan air bersih ini segera bisa terpenuhi dari pihak pemerintah.
“Ini kan secara berangsur, mulai sama-sama semua pihak, pemerintah sama-sama saling berkolaborasi seperti apa-apa. Mungkin untuk kami meminta bantuan sumur yang tertimbun dengan tanah, tolong dibantu untuk masyarakatnya biar ada air bersih lagi lah,” ujar Muammar.
