Gayo Lues, Aceh (ANTARA) - Rembulan yang menyambut kedatangan ANTARA di Gayo Lues, Aceh, sama terangnya dengan binar ketangguhan di bola mata warga yang genap dua bulan lalu menghadapi bencana tak diduga-duga: banjir bandang dan tanah longsor.
Bencana hidrometeorologi itu memang menghanyutkan rumah, kebun, hingga kuburan keluarga mereka. Namun, satu hal yang tidak ikut tertimbun dalam kalutnya malam itu adalah semangat juang untuk bangkit dan memperjuangkan hidup kembali.
Semangat seperti itu tercermin dari tindakan dan perkataan yang disampaikan Ami (50), pedagang telur di Pasar Terpadu Kabupaten Blangkejeren, ibu kota Gayo Lues. Dari balik tumpukan telur ayam dan puyuh yang menanti untuk dibeli, Ami lantang mengatakan bahwa warga Gayo memiliki cara berpikir yang cerdas.
“Orang Gayo itu kalau dibantu alhamdulillah, kalau tidak dibantu, main terus. Jadi, tidak terlalu berlarut-larut dalam persoalan. Semangat juangnya tinggi,” ucap Ami di sebelah suaminya yang ikut berjualan.
Tidak berlebihan menyematkan kata tangguh untuk menggambarkan geliat masyarakat Gayo setelah tertimpa bencana. Sebab, perbincangan dengan warga meresonansi spirit yang sama: jiwa-jiwa itu tidak ingin bencana melumat mereka berkali-kali.
Ketangguhan ikut terpahat pada kaki bukit menuju Kecamatan Pining, salah satu daerah yang sempat terisolasi akibat bencana. Sejak pertengahan Januari, Pining sudah bisa diakses kembali meski aral melintang sepanjang jalan.
Menembus desa terisolasi
Berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Blangkejeren, setidaknya ada dua jembatan rangka baja yang terbawa kuatnya arus. Bahu jalan amblas di mana-mana. Ada pula bagian jalan yang tak lagi tampak aspalnya.
Sore itu, saat ANTARA mencoba menembus Pining, tumpukan tanah bercampur kayu masih bersemayam di sebelah kiri dan kanan. Jalan lintas kabupaten yang dahulunya berwarna abu-abu pekat kini berganti jadi merah tanah, menandakan jalan darurat belum lama dibuat.
Jalan darurat itu membentang membelah bukit demi menghubungkan Pining dengan pusat kota. Debu berhamburan akibat ban mobil jenis kendaraan sport serbaguna yang kami tumpangi bertemu tanah kering.
Lantaran jembatan putus, setiap kendaraan menuju Pining mesti turun dan menyeberangi aliran sungai. Di antara itu, batu yang terbawa amuk banjir kini berjejeran dengan berbagai ukuran, mulai dari besar hingga super besar.
Tatkala mata memandang ke sebelah kiri, tampak pohon pinus yang hijau daunnya. Begitu dilempar pandangan ke sebelah kanan, terbentang aliran sungai yang mengering karena hujan tidak turun dalam pekan-pekan terakhir setelah bencana terjadi.
Sepanjang mata memandang, tiang listrik tampak tumbang. Itu pula yang menyebabkan listrik ke Pining masih belum stabil, meski sejak awal pekan pengujung Januari, sebagian besar desa di kecamatan itu sudah dialiri daya kembali.
Di tengah curamnya jalan menuju Pining, warga yang kehilangan rumah mengungsi di bahu jalan. Berbekal terpal bantuan, warga membangun kamar-kamar kecil sebagai tempat tinggal sementara, sambil harap-harap cemas agar hujan deras tidak kembali menerpa.
Perjalanan terhenti di Desa Pintu Rime, tepatnya di ujung jembatan yang menghubungkan desa itu ke Desa Pertik. Jembatan tersebut kini tinggal separuh, sebagiannya lagi hanyut bersama sawah, kebun jagung, hingga lapangan sepak bola warga.
Sebagai penggantinya, dibangun jembatan sementara yang terbuat dari kayu. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melewati jembatan darurat tersebut.
Sementara itu, kendaraan roda empat mesti menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras. Praktis, hanya mobil jenis tertentu yang bisa menyeberang ke Desa Pertik, yakni mobil dengan sistem penggerak 4x4.
Feri (24), salah satu warga Pintu Rime, mengatakan akses di desanya sudah lebih baik dibandingkan masa-masa awal setelah bencana. Sebelum ini, dia mengenang, masyarakat perlu berjalan kaki hingga berkilo-kilometer untuk mengambil bantuan.
“Kita mengambil bantuan itu satu hari satu malam, 18 kilometer, karena apa pun belum bisa, sekarang sudah mulai bisa,” ucap dia saat ditemui di jembatan yang putus itu.
Perjuangan pemulihan
Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0113/Gayo Lues Letnan Kolonel Artileri Medan Fran Desiapan Eka Saputra mengakui pemulihan akses jalan di berbagai daerah yang terdampak bencana di Gayo Lues sempat terkendala sulitnya pasokan material dan logistik.
Gayo Lues merupakan daerah yang berada di jantung perbukitan. Oleh sebab itu, kabupaten yang jamak dikenal sebagai penghasil kopi ini hanya bisa diakses jika jalan dari daerah di sekitarnya tidak terputus.
Kondisi itu, tutur Dandim, menyebabkan akses masuknya logistik dan material untuk pembangunan infrastruktur sempat terganggu. Namun, sejak pertengahan bulan ini, didukung modifikasi cuaca BMKG agar cuaca stabil, akses jalan ke Gayo telah pulih.
Hingga akhir Januari, Dandim menyebut sudah tidak ada daerah yang terisolasi total di Gayo Lues. Kendati begitu, dia mengatakan masih ada daerah yang akses jalannya sulit, seperti Kecamatan Pining.
Jangan khianati semangat Gayo
Setelah bermalam di Desa Pintu Rime, ANTARA menyeberang ke Desa Pertik keesokan harinya dengan menyewa motor warga. Perjalanan berlabuh di Desa Bunayya, setelah melewati jalan menanjak.
Di sana, ratusan warga berkumpul untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Puluhan anak laki-laki yang mengenakan pakaian adat khas Gayo mengantre menunggu giliran untuk dikhitan. Layanan ini merupakan bantuan dari kolaborasi lintas relawan.
Terik matahari semakin membakar semangat warga menunggu giliran. Perempuan muda tampak ikut mengantre sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Ia berjalan kaki dari tempat pengungsian demi mendapatkan layanan gratis itu.
Di belahan desa yang lain, Lela (30), tidak mengungsi ke pusat kota Blangkejeren. Ia memilih menetap di rumahnya yang tidak terbawa arus di Desa Agusen, sembari berjualan kopi lokal dan makanan ringan.
Di desa yang sama, Ismail (65), mengumpulkan kembali sisa hasil panen kemiri sebelum bencana terjadi untuk dijual ke tengkulak. Sambil memanggul karung berisi kemiri itu, ia menyeberangi setapak jembatan darurat.
Dari Pining hingga Agusen, warga Gayo tidak mengeluh. Syukur tetap terucap dari bibir yang sama dengan sumber pekik teriak saat bencana terjadi dua bulan lalu.
Di sela syukur yang terus terucap, membumbung harapan bersama zikir, seolah langit pun tak cukup luas menampung asa mereka. Ada kerinduan yang besar agar kampung yang menjadi sumber hidup dan penghidupan kembali pulih seperti sedia kala.
Mereka berharap agar tumpukan kayu, batu, hingga lumpur yang mengeras untuk diangkut segera; listrik diharapkan terus menyala; sementara warga yang kehilangan rumah mendamba berbuka puasa di hunian sementara.
