Kupang, NTT (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) merekomendasikan pembukaan rute penerbangan baru guna memperkuat konektivitas pariwisata dalam kerja sama Sunda Kecil antara Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami mendorong agar pintu masuk dari Bali ke NTT dibuka lebih banyak. Labuan Bajo saat ini sudah mulai padat pada waktu-waktu tertentu, sehingga perlu distribusi wisatawan ke wilayah lain,” kata Ketua Asita  NTT Oyan Kristian dihubungi di Kupang, Sabtu.

Hal ini ia sampaikan sebagai rekomendasi atas atas terlaksananya Penandatanganan Kerja Sama (PKS) Regional Bali, NTB dan NTT yang mencakup lima sektor kolaborasi, termasuk konektivitas transportasi dan pengembangan pariwisata.

Oyan menyatakan bahwa saat ini penerbangan langsung dari Bali ke NTT baru melayani dua pintu masuk, yakni Labuan Bajo dan Sumba.

Hal ini penting untuk mengatasi potensi penumpukan wisatawan, di Labuan Bajo pada akhir pekan dan musim ramai kunjungan/high season (Juli-Agustus).

“Harus ada dua pintu masuk dari Bali ke Flores, selain Labuan Bajo di bagian barat, satunya lagi di Flores bagian timur. Secara infrastruktur, Bandara Frans Seda Maumere sudah siap diusulkan untuk rute baru ini,” katanya.

Menurut dia, rute tersebut dapat menjadi alternatif pintu masuk wisatawan sekaligus mendukung perjalanan darat dari wilayah timur Flores menuju Labuan Bajo.

Selain itu, Asita juga merekomendasikan penguatan konektivitas penerbangan ke Pulau Sumba, tidak hanya ke Tambolaka tetapi juga ke Waingapu, agar arus kunjungan wisatawan tidak terpusat di satu bandara.

“Begitu pula antara NTB dan NTT perlu adanya pengembangan penerbangan penghubung dari Lombok ke destinasi lain di NTT,” tambahnya.

Ia menilai langkah tersebut penting untuk mendorong kelancaran pergerakan wisatawan antardaerah serta memperkuat integrasi pariwisata tiga provinsi.

Dengan demikian, pemerataan konektivitas penerbangan akan mendukung distribusi wisatawan yang lebih seimbang, sehingga tidak hanya terkonsentrasi di Bali atau Labuan Bajo, tetapi juga menjangkau destinasi lain di NTB dan NTT.

“Prinsipnya, kerja sama Sunda Kecil harus memungkinkan wisatawan bergerak lintas provinsi dengan lebih mudah. Konektivitas penerbangan menjadi kunci agar tamu kita dapat melanjutkan perjalanan ke destinasi lain setelah menyelesaikan kunjungan di satu daerah,” kata Oyan.

Baca juga: Upaya mengembalikan kejayaan Sunda Kecil

Baca juga: Melindungi Bentang Laut Sunda Kecil

 



Pewarta: Yoseph Boli Bataona
Editor : Erwan Muhadam

COPYRIGHT © ANTARA 2026