Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengatakan penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dilakukan sebagai upaya memperkuat aspek kearifan lokal, konservasi dan pariwisata.
"Penataan bukan membangun konstruksi tapi menata jalur khusus yang dapat berjalan selaras dengan pelestarian alam dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Lalu, mengantisipasi rusaknya titik yang disakralkan oleh oleh Masyarakat Tengger," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.
Pola penataan JLKT itu pun, telah disetujui oleh para tokoh budaya Tengger melalui diskusi kelompok terarah (FGD) yang diselenggarakan, pada Selasa (9/9). Penataan dilakukan terintegrasi dengan penataan zonasi di kawasan TNBTS.
Rudi mengkhawatirkan ketika penataan tidak beriringan, maka hadirnya potensi mass tourism pada beberapa titik, seperti di savana dan lautan pasir justru akan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.
Kerusakan lingkungan yang di maksud, ia mengatakan seperti timbulnya degradasi terhadap potensi sumber daya alam, ekosistem, dan objek dengan daya tarik wisata alam, apalagi, kawasan itu juga menjadi habitat beberapa flora dan fauna endemik, seperti anggrek tosari atau habenaria tosariensis, suket malelo atau styphelia javanica, dan ular bhumi tengger atau tetralepis frushtorferi.
Keberadaan, air Widodaren untuk ritual masyarakat Tengger dan sumber air dari Jantur yang digunakan oleh masyarakat Argosari perlu dilakukan pengelolaan komprehensif.
