Sumba Timur (ANTARA) - Program Makan Bergizi Gratis di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, memberikan ruang besar bagi para pelaku Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) lokal untuk menjadi aktor utama penunjang pemenuhan kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program MBG menjadi ruang pemberdayaan ekonomi lokal sebagai penyedia bahan baku. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya sebagai wujud keterlibatan negara untuk anak-anak, tetapi juga bagi ekonomi warga sekitar.
Sektor UMKM menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dengan daya serap tenaga kerja mencapai 97 persen secara nasional. Artinya, MBG dapat memberikan efek domino dari hulu hingga hilir.
Sayangnya, celah itu belum bisa diisi sepenuhnya oleh para pelaku usaha di Sumba Timur. Mayoritas bahan baku untuk SPPG masih harus didatangkan dari luar pulau karena produksi para peternak dan petani lokal masih minim.
Namun, setidaknya adanya MBG menjadi peluang bagi para peternak dan petani lokal untuk meningkatkan produksinya guna memenuhi kebutuhan bahan baku serta demi membuka lapangan kerja.
Di Waingapu, sejumlah peternak ayam petelur menunjukkan kesiapan mereka untuk ambil bagian dalam mendukung program prioritas tersebut. Meski masih skala kecil dan dijalankan secara mandiri, mereka optimistis dapat menjadi penyedia bahan baku asalkan mendapat dukungan dari pemerintah setempat.
Salah satunya Ferdinan Raja Maramba, peternak telur di desa pinggiran Kabupaten Sumba Timur yang perlahan-lahan mulai terlibat dalam rantai pasok penyediaan telur untuk sekolah-sekolah penerima manfaat ini.
Peluang
Ferdinan memulai usaha peternakan sejak tahun 2015 bermodal keberanian, semangat belajar otodidak, dan sederet video tutorial dari Youtube.
Peternakan ayam petelur seperti yang dikelola Ferdinan memang sederhana. Sebelum dapur SPPG mengambil bahan baku dari Ferdinan, para peternak hanya menjual telur dari pintu ke pintu. Setiap harinya ia hanya mampu memanen 100-an telur saja dari 130 ayam petelur yang dia rawat.
Awalnya, pria berusia 40 tahunan itu membeli bibit ayam petelur dari Bali dan Surabaya sebanyak 100 ekor dengan harga Rp2,1 juta. Harga tersebut tergolong tinggi, mengingat mahalnya ongkos kirim dan distribusi.
Untuk satu bok berisi 100 bibit ayam saja, Ferdinan harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu hanya untuk biaya kirim menggunakan pesawat Hercules. Belum lagi ongkos dari bandara menuju rumah peternakan.
Melihat peluang besar dari program MBG, Ferdinan mulai melebarkan produksi dengan membeli bibit hingga 1.000 ekor ayam petelur. Namun baru bisa dipanen satu bulan lagi hingga ayam mencapai usia lima bulan.
Sebelum bisa menghasilkan seperti saat ini, tersembunyi berbagai tantangan teknis dan finansial yang dihadapi Ferdinan. Biaya pakan menjadi salah satu pengeluaran terbesar, belum termasuk operasional harian seperti listrik, air, dan tenaga.
"Butuh waktu hingga lima bulan sejak ayam dibiakkan hingga akhirnya menghasilkan telur. Tapi kalau sudah jalan, pendapatan bersih bisa sampai Rp4 juta per bulan tergantung harga telur dan kondisi ayam," kata Ferdinan bercerita.
Kendati demikian, keuntungan itu tidak selalu datang mulus. Salah satu hambatan terbesar yang kerap membuat semangatnya patah adalah penyakit musiman.
Musim pancaroba sering membawa dampak buruk bagi kesehatan ayam. Musim dingin membuat ayam gampang terkena virus, sehingga mesti disuntik vitamin secara berkala. Sementara saat musim panas tiba, ayam menjadi cepat stres dan produksi telur otomatis menyusut.
Penyakit seperti pilek dan bengkak kepala (snot) kerap menyerang, belum lagi risiko virus menular yang dapat menyapu satu kandang dalam hitungan hari.
"Ini risiko peternak, jadi kita harus menerima apapun risiko yang terjadi," kata Ferdinan.
Meski saat ini sebagai mitra penyedia telur dalam program Makan Bergizi Gratis, Ferdinan dan peternak lain masih berjalan tanpa banyak dukungan teknis. Bahkan meski telah delapan tahun berjalan, ia dan peternak lain masih mengandalkan tutorial Youtube.
Kondisi yang sama juga dirasakan John Landupraing, peternak ayam petelur lainnya di Desa Waingapu. Untuk mencari solusi persoalan yang dialami, para peternak sering bertemu dan berbagi ilmu soal pengelolaan peternakan.
Saat ini rata-rata peternak lokal baru bisa menghasilkan 100 hingga 200 butir telur setiap hari. Sementara kebutuhan satu dapur SPPG di Waingapu saja memerlukan 3.400-an telur untuk 10 sekolah. Biasanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut mereka saling berkoordinasi dengan peternak desa tetangga.
Rencananya, di Kota Waingapu ada 10 SPPG. Kebutuhan itu semakin melapangkan jalan bagi peternak lokal untuk semakin memperbesar produksinya.
Kendati demikian, John berharap pemerintah tidak hanya menyerap hasil produksi peternak, tapi juga hadir lebih dalam melalui kebijakan dan pendampingan teknis. Penyuluhan oleh tenaga ahli, bisa menjadi solusi jangka panjang untuk pengembangan peternakan rakyat.
"Kalau ada tenaga ahli, penyuluhan rutin, kami bisa tahu cara pencegahan penyakit, manajemen pakan, sampai pengelolaan kandang yang lebih efisien. Selama ini semua trial dan error," kata John.
Harapan Baru
Program Makan Bergizi Gratis menjadi titik baru bagi peternak-peternak seperti Ferdinan dan John. Permintaan telur yang stabil dari dapur SPPG menjadi harapan baru untuk mengembangkan usaha yang lebih berkelanjutan.
Menteri UMKM Maman Abdurahman menyebut pelibatan pelaku usaha lokal menjadi fondasi awal dalam mewujudkan kesejahteraan yang adil dan inklusif sesuai nilai-nilai ekonomi kerakyatan.
Kehadiran negara bukan hanya sekedar memfasilitasi pendidikan saja, tetapi jembatan untuk meraih mimpi bagi masyarakat sekitar. Apalagi program MBG memang diarahkan untuk memiliki kemanfaatan ekonomi yang seluas-luasnya di daerah sekitar dapur SPPG.
Badan Gizi Nasional menyatakan program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga turut memberi efek domino pada perputaran ekonomi lokal.
BGN memandang di sejumlah wilayah, dampak ini terlihat dari meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi bahan pangan sebagai bagian dari dukungan terhadap dapur SPPG.
Di balik gemuruh program besar bernama Makan Bergizi Gratis, tersimpan denyut pelan perjuangan para petani dan peternak kecil seperti Ferdinan dan John. Mereka tak hanya merawat ayam, tapi juga menyemai harapan, bahwa anak-anak negeri ini bisa tumbuh sehat dari hasil bumi sendiri.
Program ini bukan semata tentang memberi makan, tetapi tentang memberi ruang: ruang bagi ekonomi rakyat untuk bernapas, bagi kearifan lokal untuk tumbuh, dan bagi negara untuk benar-benar hadir, bukan sekadar terlihat.
