Jakarta (ANTARA) - Veda Praxis bersama Digits Universitas Padjadjaran (Unpad) merilis studi Manajemen Risiko Bisnis Tahun 2026 Dinamika, Strategi, dan Resiliensi Organisasi di Tengah Ketidakpastian.
Studi ini mengidentifikasi risiko-risiko strategis yang membentuk agenda manajemen lintas sektor sekaligus memetakan tingkat kesiapan organisasi di Indonesia dalam menghadapi lanskap risiko yang semakin kompleks dan saling terhubung.
“Masa depan organisasi, dan masa depan Indonesia, tidak ditentukan seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa dewasa kita mengelola risiko, membangun tata kelola, dan menjaga kepercayaan,” ujar CEO & Partner Veda Praxis Syahraki Syahrir, di Jakarta, Jumat.
Sebagai bagian dari diseminasi hasil riset, Veda Praxis dan DIGITS menyelenggarakan webinar Future-Proofing Organizations: Risk Outlook 2026 pada 28 Januari 2026.
Webinar ini menghadirkan para praktisi dan akademisi lintas disiplin, yaitu Syahraki Syahrir, Hamzah Ritchi (Direktur Digits Unpad, Research Partner Veda Praxis, dan Ketua Forum Dosen Sistem Informasi Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik), Anjar Priandoyo (Certification Research & Education Director ISACA Indonesia Chapter).
Selain itu Anak Agung Gde (Ketua Program Studi Doktor Akuntansi Universitas Airlangga, Anggota Perwakilan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik), Tiara Faradilla Pong (Assistant Consulting ManagerGRC Advisory and Business Continuity Management Expert Veda Praxis), serta Larasati PuspaSaskia Salmana (Tim Riset Digits Unpad, Dosen Universitas Padjadjaran).
Hasil riset menunjukkan tekanan makroekonomi dan ketidakstabilan global kini menjadi risiko strategis utama di berbagai sektor.
Namun, riset ini juga menyoroti tantangan internal yang masih signifikan. Sekitar 80 persen manajemen di Indonesia menilai bahwa manajemen risiko belum sepenuhnya terinternalisasi dalam budaya organisasi, meskipun tingkat kesadaran terhadap risiko terus meningkat.
“Tantangan terbesar risiko strategis bukan terletak pada ketidakpastian itu sendiri, tetapi pada keterbatasan organisasi dalam menerjemahkan ketidakpastian tersebut menjadi keputusan strategis yang sadar risiko dan berorientasi jangka panjang,” ujar Anak Agung Gde.
Sejalan dengan temuan tersebut, diskusi webinar menekankan pentingnya langkah-langkah konkret untuk menutup kesenjangan dalam pengelolaan risiko.
“Tantangan manajemen risiko ke depan bukan sekadar punya framework, tetapi juga kematangan tata kelola dan integrasi antar lini. Diperlukan governance clarity untuk menegaskan siapa yang menjadi risk owner, yang melakukan fungsi pengawasan, yang akan melakukan fungsi audit,” ungkap Hamzah Ritchi.
Melalui publikasi studi dan penyelenggaraan webinar ini, Veda Praxis dan Digits mendorong organisasi di Indonesia untuk melangkah maju dalam pengelolaan risiko, melampaui kepatuhan dan kesadaran risiko semata.
Di tengah ketidakpastian yang kian menjadi norma, penguatan manajemen risiko sebagai bagian integral dari strategi, tata kelola, dan budaya organisasi dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun resiliensi serta menjaga daya saing jangka panjang.
Veda Praxis dan Digits Unpad rilis studi risiko bisnis 2026
Jumat, 30 Januari 2026 18:01 WIB
Veda Praxis dan Digits Unpad rilis studi risiko bisnis 2026 (ANTARA/HO-Veda Praxis)
