Jakarta (ANTARA) - Di tengah peta pariwisata global yang terus berubah, Jakarta memilih untuk mengambil langkah berani dan strategis.
Kota ini tidak lagi memposisikan dirinya sekadar sebagai destinasi Asia Tenggara, tetapi mengangkat citranya setara dengan kota-kota global yang menjadi magnet wisatawan dunia.
Salah satu langkah promosi strategis yang belum lama ini dilakukan adalah melalui kampanye branding internasional di Dubai International Airport (DXB) pada Agustus 2025.
Ada tiga tema utama yang diangkat, yakni gastronomi, romantisme, dan belanja. Gastronomi menampilkan Jakarta sebagai kota dengan kekayaan kuliner yang autentik dan beragam, mulai dari cita rasa warisan Betawi hingga inovasi chef kelas dunia.
Romantisme menghadirkan Jakarta sebagai kota penuh pengalaman berkesan untuk pasangan dan keluarga, sementara belanja menawarkan magnet bagi wisatawan internasional melalui deretan pusat perbelanjaan premium dan pasar kreatif yang menggabungkan tradisi dan modernitas.
Tema ini dipilih karena relevan dengan minat pasar internasional. Kuliner, romantisme, dan belanja adalah tiga pintu masuk paling kuat untuk memperkenalkan Jakarta.
Untuk memastikan visibilitas maksimal, kampanye ini ditempatkan di titik-titik paling strategis di DXB. Jakarta hadir di Immigration Grand Gateway di Terminal 1 Arrivals melalui empat LED raksasa yang dilalui semua penumpang yang tiba di Dubai.
Jakarta juga memanfaatkan Boarding Gates Digital Network dengan 140 layar digital dilengkapi charging dock, memastikan pesan promosi tampil di area dengan frekuensi tayang tinggi.
Penempatan paling ikonik dilakukan di The Majestics di Concourse D Departures. Dua layar raksasa berukuran 29 meter persegi menyapa setiap penumpang sebelum keberangkatan di sana.
Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan dwell time penumpang. Dalam advertising OOH, yang dijual adalah waktu tunggu. Penumpang di bandara rata-rata memiliki waktu senggang panjang, dan saat itulah mereka captive, tidak bisa lari dari pesan iklan. Di situlah Jakarta hadir.
Namun yang membuat langkah ini menarik bukan hanya skala kampanyenya, melainkan orientasinya pada kualitas wisatawan.
Langkah Jakarta menembus panggung dunia juga mengirim sinyal bahwa paradigma promosi pariwisata Indonesia mulai berubah.
Pendekatan berbasis pameran dan brosur yang konvensional kini dilengkapi strategi visual yang elegan, memanfaatkan ruang premium yang secara psikologis meningkatkan kesan eksklusif dan prestisius.
Jakarta tidak sekadar ingin menjadi kota yang dikunjungi, tetapi kota yang dirasakan dan diingat.
Dengan memposisikan diri sebagai destinasi urban premium, Jakarta mengambil bagian dalam percakapan global tentang gaya hidup, inovasi, dan pengalaman perjalanan masa depan.
*) Penulis adalah Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta.
Baca juga: International E-Prix menetapkan Jakarta sebagai kota global
