Jakarta (ANTARA) - Jakarta Asia Culture Exchange (JACE) melibatkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk memperkuat kolaborasi regional budaya dan pemberdayaan pemuda.
"Langkah ini merupakan wujud nyata misi kami untuk memberdayakan generasi muda, memperkuat pemahaman lintas budaya, dan mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar FounderJACE Masahiro Sakata kepada wartawan di Jakarta, Sabtu.
Masahiro Sakata mengatakan bersama ASEAN, kami ingin menghadirkan masa depan yang lebih kuat, bersatu, dan terhubung secara budaya.
Sebelum hadir di Indonesia, JACE telah lebih dulu terbentuk dan aktif di berbagai negara, di antaranya Jepang, New York (USA), Kamboja, Bangladesh, Nepal, Kongo, dan Ghana.
Kehadiran di Indonesia menandai langkah penting untuk memperluas jangkauan dan memperkuat peran JACE di kawasan Asia Tenggara.
JACE menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan berbagai program dengan nilai-nilai inti ASEAN, khususnya di bidang pendidikan, budaya, bantuan kemanusiaan, agama, serta pembangunan sosial.
Melalui keterlibatan ini, JACE berharap dapat meningkatkan kapasitas organisasi untuk memperluas program pertukaran lintas budaya di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu berkontribusi pada visi ASEAN tentang persatuan, perdamaian, dan kesejahteraan.
Dan membangun jaringan strategis dengan pemerintah, lembaga, serta komunitas di negara anggota ASEAN.
Sementara itu Pembina JACE, Sutaryono Musa Khaliq, menekankan bahwa ASEAN bukan hanya wadah kerja sama antarnegara, tetapi juga ruang bagi masyarakat sipil untuk tumbuh bersama.
Siti Amelia Gisti Rania selaku Pengawas menyebut inisiatif ini akan menjadi langkah penting dalam memperkuat solidaritas budaya dan sosial.
Kepengurusan JACE di Indonesia diperkuat oleh sejumlah tokoh, antara lain Jean Daniel Fonkou (Pengurus), Ully Artha (Sekretaris) dan Dian Salsa Amanda (Bendahara).
JACE libatkan ASEAN, aktifkan kolaborasi budaya dan pemberdayaan pemuda
Sabtu, 6 September 2025 16:20 WIB
Para Pengurus Jakarta Asia Culture Exchange (JACE). ANTARA/Feru Lantara
