Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, sebagai upaya pencegahan kanker serviks, sepanjang 2025, sudah ada 666 ribu perempuan Indonesia yang diskrining dengan metode HPV DNA, sebuah peningkatan dari cakupan tahun sebelumnya yakni 150 ribu.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa kanker serviks adalah kanker terbanyak kedua yang membunuh perempuan Indonesia setelah kanker payudara.
"Dan kondisinya saat ini sangat menyedihkan. Karena 70 persen mereka yang sudah terdiagnosis, 70 persen itu sudah masuk ke dalam stadium yang lanjut. Dan 50 persen di antaranya meninggal dunia. Kenapa? Karena tidak dilakukan screening. Maka kita harus melakukan screening," kata Dante.
Dia menjelaskan bahwa skrining menjadi salah satu upaya dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023-2030 yang berfokus pada 3 hal, yakni 90 persen vaksinasi HPV bagi anak laki-laki dan perempuan berusia 11 tahun, 75 persen perempuan berusia 30-69 tahun diskrining dengan metode HPV DNA, dan 90 persen perempuan dengan lesi prakanker menerima penanganan.
Dante menyebutkan, berdasarkan studi di Surabaya oleh Kementerian Kesehatan, Jhpiego, Biofarma, dan Roche, metode HPV DNA menggunakan swab akurasinya tinggi, dan tingkat invalidnya hanya 1,1 persen. Selain itu, katanya, dengan menggunakan swab, tes HPV DNA dapat dilakukan secara mandiri, sehingga mengatasi rasa malu yang kerap dirasakan perempuan saat pengecekan kesehatan.
"Nanti dengan edukasi yang lebih baik, mudah-mudahan swab mandiri ini bisa menjadi salah satu tool yang bisa mengidentifikasi kasus kanker leher rahim di seluruh masyarakat Indonesia," katanya.
Selain itu, Dante berharap Cek Kesehatan Gratis (CKG) dapat membantu meningkatkan cakupan skrining HPV DNA sehingga lebih masif, sehingga angka kanker serviks mampu ditekan.
"Apalagi kalau kita didukung dengan imunisasi pada anak-anak perempuan di usia 15 tahun," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa berdasarkan hasil skrining pada sekitar 666 ribu perempuan, sebanyak 4 persen atau 23.882 perempuan positif Human papillomavirus (HPV). Tipe HPV yang banyak ditemukan adalah 16, 18, dan 52.
Nadia mengatakan, sejumlah provinsi dengan cakupan skrining kanker serviks tertinggi pada 2025 yakni DKI Jakarta (89 ribu), Jawa Tengah (161 ribu), dan Jawa Barat (87 ribu).
Namun demikian, dia menyoroti rendahnya tingkat tata laksana. Dari hasil skrining, hanya 155 perempuan yang dirujuk untuk penanganan. Dia pun menyebut bahwa banyak sekali tantangan bagi para petugas kesehatan untuk mengajak para perempuan itu untuk mengambil tindak lanjut.
Nadia menjelaskan, pada 2022 ada 408 ribu kasus kanker baru di Indonesia, dan sebesar 9 persennya atau 36.964 kasus adalah kanker leher rahim. Sebanyak sekitar 20 ribu orang meninggal karena kanker serviks.
Mengutip data 2022 GLOBOCAN, insiden kanker leher rahim per 100 ribu populasi di Indonesia yakni 23,3, di bawah kanker payudara yang tingkat insidennya 41,8. Sementara itu, tingkat mortalitas per 100 ribu populasi yakni 13,2, di bawah mortalitas akibat kanker payudara sebesar 14,4.
Baca juga: Skrining minim, kanker serviks tetap mengancam perempuan Indonesia
Baca juga: BrightHer 2025: Kolaborasi AI dorong akses skrining kanker serviks
