Jakarta (ANTARA) - Banjir bandang datang silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, bermula dari Sumatera di penghujung 2025, dan memasuki tahun 2026 merambah Sulawesi, Kalimantan, dan Pulau Jawa.
Di balik derasnya banjir, sesungguhnya ada berkah yang diam-diam disampaikan sungai kepada tanah. Benarkah?
Ketika berdiri di tengah hamparan sawah yang menghijau di dataran rendah dengan sungai yang mengalir di tengahnya, jarang terlintas bahwa tanah subur di bawah kaki kita sebenarnya bukan lahir di tempat itu.
Material penyusunnya datang dari jauh—dari lereng pegunungan, dari batuan yang melapuk, dari butiran tanah yang terlepas oleh hujan—lalu diangkut perlahan oleh sungai selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Hamparan sawah di tepi sungai yang kita lihat hari ini sesungguhnya adalah hadiah panjang dari kerja sungai. Dalam geomorfologi, proses ini dikenal sebagai fluvial–aluvial. Fluvial adalah kerja sungai yang mengikis, mengangkut, dan memindahkan material. Aluvial adalah kerja sungai yang menghamparkan kembali material itu di dataran rendah.
Sungai tidak hanya mengikis tebing dan lereng bukit atau gunung, tetapi sekaligus membangun dataran subur di hilir. Inilah paradoks alam: dari lereng terjal lahir tanah yang produktif.
Sungai purba ganas
Pada masa Bumi masih muda, ketika hujan pertama turun di atas daratan yang baru terbentuk, aliran permukaan mulai mencari jalannya sendiri.
Sungai-sungai purba lahir sebagai aliran pendek, curam, dan sangat erosif. Belum ada pepohonan, belum ada akar yang menahan tanah. Erosi berlangsung liar. Material yang dihasilkan kasar—kerakal, kerikil dan pasir. Sungai pada masa itu lebih banyak merusak daripada membangun.
Perubahan besar terjadi ketika tumbuhan darat mulai hadir di permukaan bumi. Akar-akar menahan tanah, tebing sungai tidak lagi mudah runtuh, dan aliran air pun mulai menemukan jalannya dengan lebih teratur.
Saat musim hujan datang dan air meluap, sungai tak lagi sekadar menggerus, melainkan mulai meninggalkan lapisan sedimen halus di kiri kanannya. Dari proses yang berulang inilah dataran banjir perlahan terbentuk. Sejak saat itu, sungai seakan belajar membangun daratan di sepanjang sisi alirannya.
Perjalanan hulu hilir
Sungai adalah perjalanan energi yang panjang dari pegunungan menuju dataran rendah. Di hulu, alirannya deras dan bertenaga. Ia memotong batuan, menggali lembah berbentuk huruf V, membentuk jeram dan ngarai. Di tempat inilah tanah seakan “diproduksi”. Setiap longsor kecil dan setiap erosi lereng menjadi kiriman bahan penyusun tanah bagi dataran di hilir.
Memasuki bagian tengah, sungai mulai melambat dan berkelok. Di sisi luar tikungan ia mengikis, di sisi dalam ia menumpuk sedimen. Alur melebar, lembah menjadi lebih landai.
Di hilir, energi sungai kian menurun. Ketika musim hujan datang dan debit membesar, air meluap keluar alur. Begitu melambat di dataran, sedimen halus yang dibawanya mengendap perlahan.
Lapisan demi lapisan terbentuk, tahun demi tahun, abad demi abad. Dari proses berulang inilah lahir dataran banjir—ruang yang kemudian menjadi sawah, kebun, dan permukiman manusia.
Tanah terus diperbarui
Mengapa dataran aluvial begitu subur? Karena tanah di sana tidak pernah benar-benar tua. Ia selalu diperbarui. Setiap banjir membawa endapan halus—fraksi debu dan liat—dari pegunungan. Sedimen ini kaya kalsium, magnesium, kalium, dan berbagai unsur hara yang terhampar tipis di permukaan tanah.
Berbeda dengan tanah di lereng yang mudah tererosi, tanah di dataran aluvial justru mendapat kiriman baru secara berkala. Muka air tanah yang dangkal menjaga kelembapan saat kemarau. Permukaan yang datar memudahkan pengelolaan air.
Tidak mengherankan jika peradaban besar dunia tumbuh di lanskap seperti ini—Nil, Gangga, Mekong, Yangtze, Huang He, Amazon, Mississippi, Elbe, hingga Rhine. Peradaban lahir bukan hanya karena air, tetapi karena ada sedimen halus tanah yang dibawa oleh air saat banjir.
Indonesia adalah negeri yang dibentuk oleh sungai dan gunung api. Pertemuan keduanya menghadirkan banyak dataran aluvial dengan kesuburan yang istimewa.
Material vulkanis yang melapuk di lereng gunung tererosi oleh hujan, masuk ke aliran sungai, lalu dihamparkan kembali di kaki gunung dan dataran rendah.
Kapuas, Barito, Musi, Bengawan Solo, Brantas, hingga sungai-sungai yang berhulu di Bukit Barisan dan deretan gunung api Jawa, semuanya telah bekerja membangun dataran yang kini menjadi pusat pertanian. Sawah-sawah itu bukan semata hasil kerja petani, melainkan juga hasil kerja panjang sungai selama ribuan tahun.
Ruang alami banjir
Namun, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian kita: dataran aluvial yang subur ini pada dasarnya adalah ruang alami banjir. Ia terbentuk dari luapan air sungai yang berulang dari waktu ke waktu.
Selama pola hujan masih relatif teratur, sistem ini berjalan dengan selaras. Banjir datang membawa sedimen yang akan menyuburkan tanah, lalu surut meninggalkan manfaat. Tetapi ketika hujan berubah menjadi sangat ekstrem, keseimbangan yang selama ini terjaga perlahan mulai terganggu.
Kini hujan kerap turun sangat deras dalam waktu yang singkat. Sungai menerima limpahan air sekaligus, sementara erosi di hulu meningkat dan sedimen yang terbawa menjadi jauh lebih banyak.
Ketika endapan itu tiba di sawah, ia tak lagi berperan sebagai penyubur tanah, melainkan berubah menjadi lumpur tebal yang merusak. Saluran irigasi tersumbat, permukaan sawah berubah, dan musim tanam pun tertunda.
Sebaliknya, kemarau yang panjang membuat debit sungai menurun dan muka air tanah ikut turun. Air irigasi tak lagi mencukupi kebutuhan tanaman, sehingga tanaman mengalami stres air. Di wilayah delta, air asin pun mulai merangsek lebih jauh ke daratan.
Rehabilitasi sawah tertimbun
Ketika sawah tertutup lumpur, langkah bijak bukanlah tergesa-gesa membuang sedimen, melainkan memahami sifat material yang mengendap itu.
Lumpur banjir sering kali kaya mineral dari hulu, tetapi menutup lapisan olah yang dibutuhkan tanaman. Rehabilitasi dimulai dengan meratakan kembali lahan, memperbaiki drainase, dan mengeringkan tanah secara bertahap agar sirkulasi udara di dalam tanah pulih.
Lapisan lumpur kemudian dicampurkan dengan tanah asli melalui olah tanah dangkal.
Penambahan bahan organik seperti jerami, kompos, atau pupuk kandang sangat membantu memulihkan kondisi fisik tanah yang sempat memadat menjadi gembur kembali.
Tahap berikutnya adalah memulihkan fungsi kimia dan biologi tanah. Lumpur yang lama tergenang cenderung menciptakan kondisi anaerob dan mengganggu aktivitas mikroba. Oleh karena itu, diperlukan waktu jeda sebelum tanam, disertai pengapuran bila pH berubah menjadi masam, serta penanaman tanaman perintis atau pupuk hijau untuk menghidupkan kembali biota tanah.
Saluran irigasi pun dibersihkan dari endapan. Dalam banyak kasus, sawah yang dipulihkan dengan kesabaran justru kembali lebih produktif daripada sebelumnya.
Memberi ruang sungai
Sering kali kita mencoba mengatasi masalah di hilir dengan meninggikan tanggul atau memperdalam sungai. Cara ini justru menutup ruang alami banjir yang dibutuhkan sungai untuk melepas energi. Air dipaksa tetap berada di saluran sempit, muka air naik cepat, dan ketika tanggul jebol, dampaknya jauh lebih merusak.
Pendekatan modern di banyak negara beralih ke konsep room for the river: membebaskan koridor sungai dari bangunan, menanam vegetasi riparian, memundurkan tanggul, membuat kolam retensi, dan mengelola erosi sejak dari hulu.
Fondasi pangan kita
Sungai adalah satu kesatuan dari hulu hingga hilir. Jika hulu gundul, erosi meningkat. Jika sempadan sungai dipenuhi bangunan, ruang banjir menyempit. Jika tanah di tengah DAS tak mampu menyerap air, limpasan membesar.
Mengelola dataran aluvial berarti mengelola seluruh DAS. Menjaga hutan di hulu, memberi ruang bagi sungai di tengah, dan mengatur air dengan bijak di hilir.
Pada akhirnya, setiap bulir padi di sawah dataran banjir adalah hasil kerja panjang sungai. Ketahanan pangan kita bergantung pada kesehatan proses fluvial–aluvial ini. Cara terbaik menjaga masa depan pertanian kita adalah dengan kembali menghormati cara sungai bekerja—bukan melawannya, melainkan berjalan bersamanya.
*) Prof Dr Dian Fiantis, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas
