Bondowoso (ANTARA) - Menyambut Kemerdekaan ke-80 RI, kata pahlawan menjadi topik menarik.
Dalam konteks kemerdekaan ini, tidak berlebihan kalau sikap yang ditunjukkan oleh Dona Lubis (46), seorang bidan di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, kita masukkan dalam kategori sebagai pahlawan masa kini.
Dona, menunjukkan totalitas pengabdiannya sebagai pahlawan, untuk menyelamatkan nyawa warga, dengan nekad bertaruh nyawa mengarungi derasnya Sungai Batang, Pasaman.
Ia mengenyampingkan keselamatan dirinya saat mengarungi sungai untuk mengobati pasien Tuberkulosis (Tb) di Kejorongan Sinuangon, Nagari (Desa) Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman.
Seorang sopir yang bekerja dengan penuh dedikasi untuk memudahkan dan memenuhi kebutuhan banyak orang, itu juga bernilai sebagai pahlawan.
Seorang penyapu jalan yang bekerja melampaui tugas pokoknya, sehingga pengguna jalan menjadi nyaman dan selamat, sesungguhnya ia adalah pahlawan.
Guru mengaji di kampung-kampung yang tidak pernah mendapat bayaran adalah pahlawan pemberantas buta huruf. Ia menjadi perantara seseorang untuk belajar agama dan penyelamat bagi seorang Muslim dari dunia hingga akhirat.
Seorang bapak atau ibu yang secara sosial tidak bernilai tinggi, ia adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Demikian juga seorang kakak yang menyayangi adiknya hingga si adik bertumbuh dewasa dan menjadi sosok yang tangguh, si kakak adalah pahlawan, setidaknya bagi si adik.
Seorang guru, katakanlah seperti Muslimah dalam perjalanan hidup Andrea Hirata, yang kemudian diabadikan dalam novel Laskar Pelangi, adalah pahlawan bagi Andrea dan kawan-kawan.
Berkat motivasi guru pahlawan bernama Muslimah, Andrea Hirata kemudian menjadi sosok terkemuka di dunia sastra Nusantara.
Di luar cerita novel itu, kita banyak menemukan pahlawan, yakni guru-guru berdedikasi tinggi untuk menemani anak muridnya memiliki masa depan yang lebih baik.
Seorang guru, Evy adalah pahlawan bagi muridnya bernama Hovivah, siswa di Kabupaten Bondowoso, yang kini telah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi vokasi negeri di Jember, Jawa Timur.
Ketika memasuki kelas 2 sekolah menengah kejuruan (SMK), Hovivah mulai resah dengan bayangan masa depannya. Hanya berbekal ijazah SMK, betapa gelap masa depan lebih baik yang ia impikan, sedangkan untuk melanjutkan kuliah, berhayalpun tidak pernah berani.
Di tengah menghadapi rasa galau itu, Tuhan mengatur Hovivah untuk dekat dengan guru Evy. Ia banyak mencurahkan isi hatinya kepada ibu guru Evy. Evy pun merasa mendapatkan amanah baru untuk meneruskan kebiasaan memiliki anak asuh.
Hovivah merasa bahwa ibu guru Evy adalah pahlawan bagi masa depan dirinya. Demikian juga dengan Yuni, Laila, Doni, Winda, Erfan, Nu Imaniah, Milisa, Milatari, Taufik, dan lainnya, yang menjadikan guru Evy sebagai pahlawan bagi mereka.
Di tempat lain, Dr Sutejo adalah pahlawan bagi anak-anak asuhnya, seperti Saiful Hendri (wartawan media besar), Nurwahid (redaktur media), Suci (dosen), Sri (dosen), Siwi (guru dan pemusik), Sugeng (pengusaha), dan sejumlah orang yang telah merasakan jiwa pahlawan lewat kepedulian sosial dari tokoh literasi asal Kabupaten Ponorogo itu.
Sutejo bukan sekadar pahlawan karena membantu biaya hidup dan pendidikan bagi sejumlah orang itu. Ia sekaligus menjadi orang tua tempat mencurahkan segala isi hati bagi anak-anak asuhnya itu.
Di Surakarta, Jawa Tengah, ada dokter Lo Siauw Ging yang semasa hidupnya memberikan layanan kesehatan gratis bagi orang miskin. Dokter Lo, begitu panggilan karibnya, adalah pahlawan bagi orang miskin yang memerlukan layanan kesehatan.
Di Lamongan, Jawa Timur, ada Aipda Purnomo yang menjadi pahlawan bagi kaum gelandangan dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
