Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku mengangkat 47 agenda wisata pada 2026 sebagai sarana promosi untuk menarik lebih banyak minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkenalkan kekayaan bahari, seni, dan budaya daerah.
“Melalui kalender event 2026, seluruh potensi daerah dikemas secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan sebagai kekuatan dan nilai tawar pariwisata Maluku di tingkat nasional maupun internasional,” kata Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, di Ambon, Jumat.
Ia menyampaikan hal itu usai peluncuran Kalender Event Maluku 2026 di Gong Perdamaian Kota Ambon.
Gubernur menyampaikan pemerintah daerah berkomitmen menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah, yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, ekonomi kreatif, serta komunitas seni dan budaya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Maluku Melkias Mozes Lohy mengatakan Kalender Event 2026 memuat 47 kegiatan pariwisata yang telah dikoordinasikan bersama 11 kabupaten dan kota di Maluku.
“Harapannya ini menjadi sarana promosi dan informasi bagi masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara,” katanya.
Baca juga: Mendagri dukung penuh Banda Neira jadi pusat turisme super prioritas nasional
Ia menjelaskan kalender tersebut juga diharapkan mampu memperkenalkan berbagai destinasi wisata di Maluku yang saat ini masih dalam tahap pengembangan, sekaligus menarik minat investor dan pelaku industri pariwisata untuk turut mengembangkan potensi wisata daerah.
“Para pecinta dan pengembang pariwisata dapat tergerak untuk bersama pemerintah Maluku mengembangkan pariwisata yang menjadi harapan masa depan daerah ini,” ujarnya.
Menurutnya, puluhan agenda tersebut telah dijadwalkan mulai Januari hingga Desember 2026 dan sebagian besar merupakan agenda yang juga pernah dilaksanakan pada tahun sebelumnya.
Sejumlah agenda yang masuk dalam kalender event antara lain Festival Martha Christina Tiahahu di Negeri Abubu pada Januari, Festival Ramadhan di Ambon pada Februari, serta Ramadhan Bikin Asyik dan tradisi Pukul Sapu Lidi di Negeri Mamala dan Morella pada Maret.
Memasuki April hingga Juni, agenda pariwisata dilanjutkan dengan Sound of Amboina, Festival Pattimura di Saparua, Festival Abda’u, Festival Lawapipi, hingga kegiatan Teluk Ambon (DAR Kintal).
Baca juga: Ditpolairud Maluku Utara tempatkan personel di objek wisata Kota Ternate
Pada pertengahan tahun, sejumlah kegiatan berskala besar juga digelar seperti Sail to Indonesia di beberapa daerah termasuk Banda Neira dan Ambon pada Juli, Darwin Banda Yacht Race, Karnaval Budaya Maluku, serta Namrole Festival pada Agustus.
Sementara pada September hingga Oktober, agenda yang dijadwalkan antara lain HUT Kota Ambon, Ambon International Music Festival, Festival Kopi, Festival Pulau Pombo, serta Festival Pesona Meti Kei.
Memasuki akhir tahun, sejumlah festival budaya kembali digelar seperti Festival Pamalhanunusa di Maluku Tengah, Banda Heritage Festival, Kei Art Festival, hingga berbagai kegiatan budaya dan religi pada Desember.
Kepala Dinas Pariwisata Maluku menambahkan tren kunjungan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan seiring dengan penyelenggaraan berbagai kegiatan tersebut.
“Kalau kita lihat tren 2023 sampai 2025, dengan berbagai event yang ada, kunjungan wisatawan terus berkembang dan masih didominasi wisatawan dalam negeri. Sementara wisatawan mancanegara meningkat sekitar 1,4 persen,” katanya.
Baca juga: Universitas Pattimura maksimalkan peran kembangkan Desa Wisata Rutong
Ia berharap kalender event tersebut dapat memperkuat promosi pariwisata Maluku sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata.
Sebelumnya, pada 2025 jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi Maluku tercatat sebanyak 14.225 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan sebanyak 1.130 orang dibandingkan 2024 yang hanya mencapai 13.098 orang.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pariwisata Maluku kunjungan wisatawan nusantara sepanjang 2025 juga mengalami peningkatan. Dari 389.745 kunjungan pada 2024, naik sebanyak 6.674 orang atau menjadi 396.419 kunjungan pada 2025.
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut turut berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD) dari tiga destinasi wisata unggulan. Pada 2024, PAD yang diperoleh tercatat sebesar Rp584.418.500, kemudian meningkat menjadi Rp721.103.500 pada 2025.
Pewarta: Winda HermanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026