Ambon (ANTARA) - Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa merangkul seluruh elemen masyarakat dan semua pihak pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengatasi konflik yang kembali terjadi di kawasan Arbes, Kota Ambon, tepatnya di sekitar Kampus UIN Abdul Muthalib Sangadji (UIN AMSA).
Hendrik Lewerissa di Ambon, Sabtu, mengadakan pertemuan bersama tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta unsur pengamanan dari Polda Maluku dan Kodam XV/Pattimura. Pertemuan tersebut juga dihadiri Bupati Seram Bagian Timur dan Wali Kota Ambon.
“Kami telah mengundang tokoh agama dan tokoh pemuda untuk bertemu di Polda Maluku dalam rangka menyikapi peristiwa konflik yang terjadi di sekitar Kampus UIN Abdul Muthalib Sangadji,” kata dia.
Ia menjelaskan pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memberikan dukungan penuh kepada Polri dalam memulihkan situasi keamanan serta menegakkan langkah hukum secara tegas dan terukur.
Baca juga: Polresta Ambon periksa 10 saksi konflik antarwarga Kailolo dan Kabauw
Menurutnya, konflik yang terjadi di kawasan tersebut merupakan peristiwa berulang sehingga perlu penanganan komprehensif, baik dari aspek keamanan, hukum, maupun pendekatan sosial kemasyarakatan.
Ia menegaskan bahwa penetapan tersangka harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Sebagaimana kita ketahui, untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka dibutuhkan minimal dua alat bukti yang sah. Jika alat bukti itu sudah diperoleh, saya yakin kepolisian akan menetapkan tersangka. Sampai saat ini, kepolisian masih memburu pelaku,” katanya.
Hendrik mengakui adanya harapan besar dari publik agar pelaku segera diproses hukum. Namun, ia meminta masyarakat untuk tetap mempercayakan seluruh proses tersebut kepada aparat kepolisian.
“Kami memahami harapan publik. Karena itu, mari kita percayakan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada pihak kepolisian,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Baca juga: Polisi patroli usai konflik warga Haruku
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terhasut oleh berita yang tidak faktual. Sumber informasi resmi yang menjadi rujukan adalah dari Polda Maluku,” ujarnya.
Sebelumnya, sedikitnya dua orang dilarikan ke rumah sakit akibat terkena panah dan bacokan parang dalam insiden tawuran antarkelompok pemuda di kawasan Arbes, Negeri Batu Merah, Kota Ambon.
Korban mengalami luka akibat terkena panah di bagian dada. Sementara itu, seorang mahasiswa UIN AMSA Ambon juga mengalami luka bacokan parang di pergelangan tangan kiri.
Berdasarkan pantauan lapangan, terlihat dua kelompok pemuda saling lempar batu dan membawa senjata tajam di pertigaan Kampus UIN AMSA. Bentrokan kemudian meluas hingga ke ruas jalan pertigaan Air Besar (Arbes), tepat di depan salah satu gerai swalayan.
