Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti keterkaitan degradasi lingkungan yang menyebabkan keterbatasan akses air bersih dan pangan dengan fenomena stunting yang kini berusaha diatasi oleh pemerintah.
"Buruknya kondisi lingkungan seperti degradasi lingkungan, keterbatasan akses terhadap pangan dan air bersih serta perilaku yang kurang mendukung kesehatan lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya stunting," kata Hanif dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan Kemendukbangga/BKKBN di Jakarta, Rabu.
Stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, menjadi salah satu ancaman yang dapat berdampak pada pertumbuhan generasi muda Indonesia ketika pemerintah ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045.
"Lingkungan yang rusak, baik air, udara maupun lahan dapat berdampak pada kualitas pangan dan air yang diberikan pada generasi muda. Yang pada akhirnya berdampak pada mutu gizi yang diterima anak-anak," katanya.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan dukungan terhadap upaya Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menekan angka stunting nasional yang pada 2024 prevalensinya berada pada angka 19,8 persen.
Baca juga: Pantai Indah Kapuk wajib kelola sampah sendiri
Baca juga: Lingkungan sehat dukung bonus demografi
