Jakarta (ANTARA) - Tim nasional sepakbola U-20 Indonesia mendapatkan kabar baik pada awal Februari 2025 yakni bergabungnya Kurniawan Dwi Yulianto sebagai asisten pelatih kepala Indra Sjafri.
PSSI memberikan satu tugas khusus kepada Kurniawan, yaitu menjadi pelatih penyerang. Tanggung jawab yang tentu saja tepat karena Kurniawan merupakan legenda sekaligus pencetak gol terbanyak kelima tim nasional Indonesia sepanjang sejarah (33 gol dari 59 laga).
Sepanjang kariernya yang cemerlang sebagai pesepak bola dari tahun 1994-2013, Kurniawan dikenal tajam di depan gawang.
Dengan bakat yang sempat diasah di klub Italia Sampdoria pada tahun 1994-1995, dan pernah pula bergabung dengan tim Swiss FC Luzern pada musim yang sama sebagai pemain pinjaman, Kurniawan mengarungi perjalanannya di lapangan hijau dengan mantap.
Total, pria yang kini sudah berusia 48 tahun itu membuat 196 gol dari 388 pertandingan di level klub. Istimewanya, tiga dari 196 gol itu tercipta di liga teratas Swiss untuk FC Luzern (dari 27 laga). Kurniawan pun berstatus pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di salah satu liga teratas di Eropa.
Catatan mentereng menjadi modalnya untuk menjelajah dunia kepelatihan. Mentalitas menyerang diterapkan Kurniawan di setiap kesebelasan yang dibesutnya.
Laki-laki yang akrab disapa "Si Kurus" mulai menapaki pekerjaan sebagai pelatih pada tahun 2013 dengan menangani tim akademi Chelsea di Jakarta.
Kemudian dia menjadi asisten pelatih Borneo FC (2017-2018) sebelum diangkat menjadi asisten pelatih timnas senior (2018) dan skuad U-22/U-23 Indonesia pada tahun berikutnya.
Di timnas U-22, Kurniawan turut membawa skuadnya meraih medali perak SEA Games 2019, Filipina, lantaran kalah tiga gol tanpa balas dari Vietnam.
Setelah itu, nasib membawanya ke Malaysia untuk melatih tim Sabah yang berkompetisi di Liga Super Malaysia pada tahun 2019-2021.
Pada tahun 2021, Kurniawan menjadi pembicaraan di tanah air lantaran berhasil menembus klub Liga Italia Como 1907 untuk menjadi asisten pelatih.
Di Como, berdasarkan laman Transfermarkt, Kurniawan lebih banyak membantu tim akademi dan cuma sembilan kali mendampingi pelatih kepala Cesc Fabregas dalam pertandingan.
Di sela-sela tugasnya di Como, Kurniawan dipanggil kembali ke timnas U-22 Indonesia pada tahun 2023 dan sukses mengantarkan anak-anak asuhnya merebut medali emas SEA Games 2023. Kurniawan turut membantu timnas U-24 Indonesia ke 16 besar Asian Games 2023.
Setelah mengabdi di Como 1907, Kurniawan lagi-lagi diminta untuk membantu Indra Sjafri, kali ini di timnas U-20 Indonesia.
Kedatangan Kurniawan di timnas U-20 mengulangi komposisi tim kepelatihan timnas U-22 ketika menjadi yang terbaik di SEA Games 2023.
Di tim tersebut, Indra Sjafri merupakan pelatih kepala. Dia ditemani empat asisten yang semuanya berhak menyandang status legendaris di persepakbolaan Indonesia yakni Kurniawan Dwi Yulianto, Eko Purdjianto, Bima Sakti dan Sahari Gultom.
Susunan pelatih itu bisa dikatakan lengkap lantaran Kurniawan dahulu ada penyerang ternama, sementara Eko dikenal dengan bek tangguh semasa aktif bermain, Bima Sakti sebelumnya gelandang dan kapten timnas Indonesia serta Sahari Gultom seorang kiper yang namanya tenar pada era 2000-an.
Kurniawan Dwi Yulianto memberikan dampak signifikan ketika bertugas di timnas. Saat merebut emas SEA Games 2023, misalnya, skuad timnas U-22 Indonesia tampil sangat produktif dengan total membuat 21 gol dari fase grup hingga final.
Dua pemain Indonesia yakni Muhammad Ramadhan Sananta dan Muhammad Fajar Fatur Rahman pun dinobatkan sebagai pemain tersubur di SEA Games 2023 setelah masing-masing membuat lima gol ke gawang lawan.
Ketajaman itu diharapkan bisa terulang ketika timnas U-20 berjuang di Piala Asia U-20 AFC 2025 di China pada 12 Februari-1 Maret.
Baca juga: Indra Sjafri nilai performa timnya belum sesuai harapan meski menang
Baca juga: Indra Sjafri sudah kantongi gambaran skuad akhir yang akan dibawa ke Piala Asia 2025