Bogor, 17/2 (ANTARA) - Dua pedagang makanan yang menjadi korban kecelakaan bus Karunia Bhakti di Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengharapkan bantuan pascakecelakaan yang menewaskan 14 orang pada Jumat (10/2) lalu.
Awang Sunardi (45) pemilik warung bakso Ojolali mengeluhkan minimnya bantuan kepada para pedagang yang menjadi korban kecelakaan bus maut tersebut.
"Sampai saat ini kita belum menerima bantuan dari pihak bus. Bantuan untuk kami para pedagang sangat minim," kata Awang, di Bogor, Jumat.
Awang mengatakan, akibat kecelakaan tersebut ia mengalami kerugian puluhan juta. Dua kios semi permanen yang ia sewa dengan harga Rp30 juta per satu tahun hancur tak bersisa.
Selain itu seluruh peralatan dagang seperti gerobak dan alat-alat masak lainnya juga ikut hancur tersapu bus yang menerjang warung miliknya.
"Dua gerobak saya hancur, satu gerobak mie ayam, satu gerobak bakso. Satu gerobak aja sekarang harganya Rp4 juta," kata dia.
Awang mengatakan, ia memulai usaha bakso dengan menyewa tempat kepada pemilik lahan bangunant. Usaha yang dibangunnya bermodalkan pinjaman dari bank dan sudah berjalan selama satu tahun.
"Minimal uang modal balik biar kami bisa berjualan lagi," katanya.
Awang menyebutkan, ada lima kios warung yang hancur terkena kecelakaan, dua kios miliknya dan tiga kios warung "Narkoba" (nasi rawon kota Bogor asli-red) milik Sunan Wahid.
Sunan mengalami kerugian Rp50 juta, dengan rincian seluruh peralatan warung hancur begitu juga tiga gerobak, masing-masing gerobak jus buah, gerobak bubur ayam dan gerobak nasi rawon.
"Belum uang sewa Rp30 juta se tahun yang sudah saya keluarkan. Ini baru jalan delapan bulan. Sementara saya menyewa untuk dua tahun sekaligus," kata Sunan.
Meski mengalami kerugian puluhan juta, Sunan masih berucap syukur karena tidak ada korban jiwa dari pihaknya saat peristiwa tersebut terjadi.
Ia mengatakan pada saat kejadiaan warungnya tutup karena seperti biasa, setiap Jumat ia selalu menutup warungnya.
Namun, ia sempat khawatir, karena warung tersebut dijaga anaknya Fadli (15) yang biasa tidur di warung.
"Saya cemas juga, karena anak saya tidur di warung. Beruntung saat kejadian dia sedang keluar mencari makan, jadi dia selamat," kata Sunan lega.
Sementara Awang, selain kehilangan tempat usaha. Salah satu karyawan di warungnya menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
"Kita sangat mengharapkan adanya bantuan, agar kami bisa berusaha kembali. Karena ada karyawan yang harus bekerja dengan beroperasinya warung ini," kata dia.
Menurut Awang dia baru menerima bantuan berupa kompor gas dari pihak PT Aditec Cakrawiyasa selaku produsen kompor Quantum yang diterimanya Kamis (16/2) malam pada acara tahlilan mengenang tujuh hari kecelakaan maut di lokasi kecelakaan.
"Ini bantuan pertama yang kami terima. Dan kami sangat bersyukur ada pihak yang peduli dengan nasib kami," katanya.
Hingga kini Awang maupun Sunan belum bisa melanjutkan usahanya karena masih terkendala modal usaha. Mereka sangat mengharapkan adanya bantuan dari sejumlah pihak untuk segera bisa berusaha kembali.
Peristiwa kecelakaan maut bus Karuni Bhakti terjadi Jumat (10/2) lalu. Dalam peristiwa tersebut 14 orang meninggal dunia, dan puluhan orang mengalami luka-luka.
Laily R
Pedagang Korban Kecelakaan Bus Maut Harapkan Bantuan
Jumat, 17 Februari 2012 15:23 WIB

Pedagang Korban Kecelakaan Bus Maut Harapkan Bantuan
pedagang-korban-kecelakaan-bus-maut-harapkan-bantuan